Penyelidikan Kejahatan Perang Australia, 13 Prajurit Akan Dipecat Terkait Pembunuhan di Afghanistan


CANBERRA - Pasukan pertahanan Australia (ADF) memberikan pemberitahuan kemungkinan pemecatan kepada 13 anggota pasukan khusus atas laporan tentang pembunuhan warga sipil dan tahanan Afghanistan. Mereka dicurigai sebagai aksesori atau saksi pembunuhan, atau tidak jujur dalam memberikan kesaksian.

Ke-13 tentara ini terpisah dari 19 anggota pasukan Layanan Udara Khusus (Special Air Services/SAS) yang kemungkinan menghadapi tuntutan atas pembunuhan tersebut.

Letnan Jenderal ADF Rick Burr mengatakan 13 tentara itu memiliki waktu dua minggu untuk menanggapi pemberitahuan tersebut.

"Saat ini belum ada individu yang dipisahkan dari Angkatan Pertahanan Australia," katanya kepada wartawan, Jumat (27/11/2020).

Menurut laporan Nine News, dua tentara Australia dilaporkan telah dipecat sehubungan dengan pembunuhan tersebut. Keduanya dilaporkan menyaksikan pembunuhan seorang pria Afghanistan di sebuah lapangan.

Laporan ADF menyebutkan telah terjadi pembunuhan "tahanan, petani atau warga sipil" pada 2009-2013. Dikatakan 25 tentara pasukan khusus telah ambil bagian dalam pembunuhan di luar hukum secara langsung atau sebagai "aksesori", di 23 insiden terpisah.

Laporan itu merekomendasikan dilakukannya penyelidikan terhadap total 36 insiden oleh polisi federal.

Perdana menteri Australia, Scott Morrison dan komandan militer tertinggi Australia Jendral Angus Campbell telah meminta maaf kepada Afghanistan atas insiden pembunuhan tersebut.

"Kami perlu memastikan bahwa ada keseriusan isi laporan ini ditangani di bawah sistem peradilan Australia oleh warga Australia sesuai dengan hukum kami," kata Morisson.

Sementara Kepala ADF, Jenderal, Angus Campbell pada Kamis (19/11/2020), mengatakan telah terjadi "budaya pejuang" di antara beberapa anggota pasukan khusus Australia yang bertugas di Afghanistan.

Campbell mengatakan tidak ada insiden yang bisa "digambarkan terjadi selama sengitnya pertempuran".

Prajurit junior Australia diperintahkan untuk melakukan pembunuhan pertama mereka dengan menembak tahanan Afghanistan.

Afghanistan menyebut pembunuhan itu tidak dapat dimaafkan tetapi menyambut baik laporan minggu lalu sebagai langkah menuju keadilan.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.