Pertama Kali, China Rilis Surat Utang dengan Bunga Negatif

China tengah memanfaatkan pesimisme pemulihan ekonomi negara-negara Barat dengan menjaga suku bunga mendekati rekor terendah. Ilustrasi. (NICOLAS ASFOURI / AFP).


Pemerintah China menerbitkan surat utang (obligasi) dengan suku bunga negatif untuk pertama kalinya pada Rabu (18/11). Hal tersebut disampaikan Deutsche Bank (DB), salah satu bank yang membantu mengatur transaksi penerbitan obligasi tersebut.

Saat ini, China memang tengah memanfaatkan pesimisme pemulihan ekonomi negara-negara Barat dengan menjaga suku bunga mendekati rekor terendah untuk waktu yang lama.

Investor Eropa saat ini menghadapi suku bunga yang kian tergerus di Benua Biru. Kondisi itu membuat investor Eropa mengambil sebagian besar investasinya dan mengalihkannya ke China di mana ekonomi diramal masih positif tahun ini.

Penawaran terakhir yang masuk dari penjualan obligasi China tercatat sekitar €16 miliar atau (US$ 18,9 miliar) untuk obligasi senilai €4 miliar (US$ 4,7 miliar) yang ditawarkan, termasuk utang dengan tenor 5 tahun yang dihargai dengan imbal hasil minus 0,152 persen. China juga menjual obligasi bertenor 10 tahun dan 15 tahun dengan imbal hasil di bawah 1 persen.

Investor yang meminati surat utang tersebut termasuk bank sentral, dana kekayaan kedaulatan dan manajer aset global yang mencakup Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Menuurt Deutsche Bank, investor Eropa menyumbang 85 persen dari utang 15 tahun dan sekitar dua pertiga dari obligasi berjangka pendek.

"Ini menunjukkan investor masih kurang terekspos ke China dan pasti ada nilai kelangkaan yang dirasakan dalam obligasi ini," kata kepala pasar modal utang dalam negeri Deutsche Bank di China Sam Fischer, dikutip dari CNN Business, Jumat (20/11).

Seperti diketahui, investor Eropa memanfaatkan peluang untuk berinvestasi dalam instrumen surat utang dengan imbal hasil yang lebih tinggi daripada yang tersedia di Eropa, di mana bank sentral telah memangkas suku bunga ke rekor terendah dan memasukkan lebih dari satu triliun euro ke pasar keuangan untuk meredam pukulan dari pandemi.

Menurut Refinitiv, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor lima tahun berada di sekitar minus 0,75 persen pada Kamis (19/11). Penjualan obligasi juga menunjukkan bahwa investor menginginkan lebih banyak eksposur ke ekonomi China, yang pulih dari pandemi dengan kecepatan lebih cepat daripada Eropa dan Amerika Serikat, kata sumber perbankan.

"Penerbitan ini menunjukkan bahwa investor internasional sangat percaya pada rebound ekonomi China yang kuat dan perkembangan di masa depan meskipun pandemi global Covid-19 masih ada," kata David Yim, kepala pasar modal untuk China Raya dan Asia Utara di Standard Chartered Bank, dalam sebuah pernyataan.

Ekonomi China memang telah pulih dengan cepat, dengan produksi industri dan penjualan ritel meningkat kuat bulan lalu, usai mengalami kontraksi terdalam pada kuartal pertama tahun 2020. Sementara itu, pembatasan besar-besaran di Amerika Serikat dan Eropa untuk mengekang lonjakan kasus virus korona mengancam perekonomian mereka kembali ke resesi pada kuartal keempat.

Dalam pernyataan yang diunggah ke situsnya, Kementerian Keuangan China mengatakan bahwa penjualan obligasi mencerminkan "tekad dan kepercayaan" China untuk terbuka kepada dunia luar dan lebih berintegrasi dengan pasar modal internasional.

Menurut Allen & Overy yang memberi nasihat tentang penawaran tersebut, ini adalah penjualan utang internasional besar kedua China dalam beberapa bulan terakhir setelah mengumpulkan US$ 6 miliar pada Oktober lalu termasuk dari investor AS. Pada November lalu, negeri tirai bambu juga menjual obligasi dalam euro untuk pertama kalinya sejak 2004.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.