Tak Ada Matahari di Kota Utqiagvik Hingga Januari


Penduduk Indonesia patut bersyukur karena masih bisa menikmati sinar matahari hampir sepanjang hari, bahkan saat musim hujan.

Pasalnya, sebuah kota di Alaska mengucapkan selamat tinggal pada siang hari selama dua bulan ke depan.

Mengutip CNN, matahari terbit dan terbenam di Utqiagvik, Alaska, dulu bernama Barrow, untuk terakhir kalinya pada Kamis (19/11).

Momen mendung sepanjang hari bakal berlangsung selama lebih dari 60 hari ke depan.

Kota kecil yang terletak di utara Lingkaran Arktik telah memasuki fase kegelapan tahunan, yang dikenal sebagai polar night (malam kutub).

"Malam kutub adalah fenomena normal yang terjadi setiap musim dingin untuk Barrow (Utqiagvik), dan kota-kota lain di dalam lingkaran Arktik," kata ahli meteorologi CNN Allison Chinchar.

Polar night berlangsung setiap musim dingin karena kemiringan poros bumi.

"Kemiringan ini membuat tidak ada cakram Matahari yang terlihat di atas cakrawala," menurut Chinchar.

Tapi itu tidak berarti kota itu akan benar-benar gelap.

Sebagian besar jam siang hari akan melewati periode yang dikenal sebagai civil twilight (senja sesaat), kata Chinchar.

"Pikirkan seperti apa langit sebelum matahari terbit, atau setelah matahari terbenam," kata Chinchar.

"Itulah yang penduduk di sana lihat selama beberapa jam sehari, dari sekarang hingga 22 Januari, ketika matahari "secara resmi terbit" lagi."

Kota ini bukan satu-satunya di Alaska yang mengalami fenomena polar night, tetapi kota ini menjadi pertama dalam daftar kota-kota yang mengalami malam kutub karena letaknya jauh di utara.

Jika saat ini kegiatan begadang mungkin tidak dianggap menarik bagi penduduk Utqiagvik, pada musim panas ketika momen sebaliknya terjadi, yang dikenal sebagai matahari tengah malam atau polar day, mereka mungkin akan melakukannya.

Saat polar day, matahari bakal bersinar 24 jam dalam sehari, baik saat pagi dan malam.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.