Uniknya Rumah Kaca di Tengah Gurun Meksiko

Casa Eterea, rumah kaca di tengah gurun Meskiko (Prashant Ashoka/The New York Time)

PERNAHKAH Anda membayangkan rumah yang berdiri di tengah gurun? Bagaimana dengan air dan sumber listriknya? Di San Miguel de Allende, Meksiko, terdapat Casa Eterea yang merupakan rumah kaca dan terlihat seperti fatamorgana.

Menggunakan sinar matahari sebagai sumber pencahayaan dan air hujan yang ditampung sebagai sumber air membuat hunian kaca ini istimewa.

Melansir dari The New York Times, Rabu (4/11/2020), saat senja, rumah kaca tersebut seperti kotak yang terlihat berkelap–kelip karena panel cerminnya memantulkan cahaya langit dan warna kuning tua dari lereng gunung yang seolah–olah fatamorgana akan segera lenyap saat malam tiba.

Casa Eterea terletak di atas San Miguel de Allende pada lereng terjal gunung berpai Palo Huerfano yang telah punah, bagian dari pegunungan Los Picachos yang lebih besar di Meksiko Tengah. Rumah kaca tersebut dibuat untuk membuat pengunjungnya kagum yang dipamerkan pada pameran arsitektur.

Bangunan dengan luas 800 kaki persegi ini memiliki eksterior kaca (dengan lapisan reflektif UV bergaris) yang ramah burung bahkan saat menciptakan efek lanskap yang tampak terbatas.

Prashant Ashoka, pembuat sekaligus perancang Casa Eterea mengatakan bahwa ide tersebut pertama kali muncul pada musim panas 2017 ketika hendak berjalan–jalan ke Meksiko.

Karena bertekad untuk membangun tempat peristirahatan yang terpencil akhirnya ia membeli dua hektar hutan belantara yang terletak hanya 20 menit dari pusat kota San Miguel de Allende tanpa saluran listrik dan air.

“Saya tahu bahwa ini adalah waktu saya untuk membuat sesuatu sendiri dan saya selalu berfantasi untuk melarikan diri ke alam, tinggal di gunung atau pantai. Tapi saya memutuskan untuk mengambil gagasan romantis yang menggoda banyak orang dan menjadikannya kenyataan,” tuturnya.


Casa Etérea (Prashant Ashoka)

Ketika membayangkan retretnya, bangunan Ashoka merujuk pada karya arsitek Meksiko abad ke-20 Luis Barragan dan kolaborator lamanya, Mathias Goeritz yang merupakan pematung dan pelukis khusunya untuk eksplorasi bentuk, cahaya, dan bayangan mereka.

Meskipun pekerjaan Barragan merujuk pada kubus, Ashoka mendedikasikan sudut pandang dengan dua komponen utama retretnya pada 120 derajat, meniru fitur favoritnya dari lanskap pegunungan seperti jurang berbentuk V yang terlihat dari taman belakang rumah dan dapat menampung air terjun deras saat hujan.

Alih–alih mengandalkan insinyur, tukang kayu lokal, dan firma arstikektur, Ashoka membangun kerangka rumah dari batu vulkanik yang dikumpulkan dari lereng gunung.

“Idenya adalah untuk benar – benar terisolasi dan tanpa gangguan selain alam liar yang mengelilingi Anda,” tambahnya.

Butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan seluruhnya dan di dalamnya terdapat gambaran inspirasi dari jauh dan dekat, mencampurkan kerajinan budaya Meksiko dengan akar Asia Tenggara.

Dia berkolaborasi dengan Namuh yang merupakan studio furnitur lokal untuk memberi aksen pada interior dengan barang–barang seperti lampu goni Bali kembar yang tergantung di kedua sisi tempat tidur dan vas porselen vintage dari Shanghai di meja samping tempat tidur.

Sementara itu, dapur memiliki tata letak terbuka yang mengutamakan elemen material seperti balok yang berada di langit – langit dan terbuka, dinding dilapisi beton serta pintu kaca geser dari lantai ke langit–langit yang membingkai pemandangan tebing yang menjulang tinggi.

Meja porselen diimbangi dengan lemari kayu walnut yang dihitamkan dan diatapi vas giok antik (pernah berfungsi sebagai wadah biji–bijian untuk pelaut China) didatangkan dari Sabah, Malaysia.

Kursi bar kenari diletakkan di atas karpet Oushak Turki berwarna krem dan teal (biru kehijauan) serta dindingnya berdekatan dan tergantung foto hitam putih tahun 2004 oleh fotografer dokumenter Nicole Franco yang menawan dari Charros, Meksiko.

Di ruang tamu, mata akan tertuju pada sofa kulit kerbau Rumania abu–abu dan meja kayu oak yang direklamasi dan ditempatkan di atas permadani India yang dibuat di Jaipur.

Ruang perapian bata merah terpisah dari ruang tidur, selanjutnya diberi akses oleh benda–benda yang ditemukan termasuk teleskop kuningan dari pasar antik La Lagunilla di Kota Meksiko, keranjang tenun besar yang diperoleh dari Provinsi Shanxi di China dan permadani wol Tibet berwarna abu–abu arang.

Casa Esterea memiliki banyak feature yang menakjubkan, Ashoka mengatakan, “Rumahnya terlahir dari kamar mandi,” yang menampilkan satu–satunya struktur dalam dinding, sekat dari batu bata dan beton yang dihiasi dengan bintik–bintik emas mawar.

Di belakangnya terdapat bak mandi tembaga besar buatan tangan dengan punggung miring dan hasil palu yang dibuat sketsa Ashoka dan kemudian menugaskan pengrajin di Santa Clara de Cobre di negara bagian Michoacan untuk membuatnya.

Sangat mudah untuk mengamati detail alam dan Ashoka senang melakukan hal itu ketika dia meninggalkan rumah utamanya di pusat kota San Miguel de Allende menuju Casa Estera.

Dia menikmati hiking dari lereng gunung ke kaldera gunung berapi, perjalanan tiga jam yang membawanya melewati dasar sungai, hutan oak, dan dataran tinggi yang luas.

“Saat matahari terbit, itu mewarnai bebatuan di puncak gunung dengan warna merah. Ada begitu banyak keindahan disini terutama satwa liar,” tutur Ashoka.

Dia telah melihat berbagai macam hewan mulai dari singa gunung, bobcats, elang ekor merah dan burung pelatuk. Tokek lokal yang berjemur di dek dekat kolam renang luar rumah juga disukai olehnya, dikelilingi oleh kaktus dan semak rosemary serta lavender. Di tempat lain pada properti tersebut, Ashoka menanam pohon zaitun, delima, dan jeruk.

Mulai bulan ini, Casa Eterea diperbolehkan untuk disewakan melalui the property’s instagram. Para tamu dapat menikmati petualangan yang dipesan lebih dahulu dan dipimpin oleh penduduk komunitas Alcocer lokal yang mungkin termasuk menunggang kuda kepada tetangga Ashoka, penggembala ternak, atau hiking berpemandu dengan ahli botani. Namun yang terpenting, Ashoka berharap pengunjung meluangkan waktu untuk mengagumi pemandangan yang tenang.

“Ada sesuatu yang sangat kuat tentang tempat tinggal terpencil, mereka memiliki kekuatan untuk mengubah Anda ke dalam,” tutupnya.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.