Vaksin Pfizer Kokohkan Rupiah ke Rp14.058 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.058 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Selasa (10/11) sore. Posisi ini menguat 7 poin atau 0,05 persen dari Rp14.065 persen pada Senin (9/11).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.015 per dolar AS atau menguat dari Rp14.172 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Rupiah menguat bersama beberapa mata uang kawasan Asia, seperti yuan China 0,41 persen, baht Thailand 0,37 persen, yen Jepang 0,3 persen, dan dolar Singapura 0,12 persen.

Sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen, rupee India minus 0,06 persen, won Korea Selatan minus 0,18 persen, peso Filipina minus 0,29 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,39 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang bervariasi. Poundsterling Inggris menguat 0,33 persen, euro Eropa 0,22 persen, dan dolar Australia 0,07 persen.

Namun, franc Swiss stagnan. Sisanya, dolar Kanada melemah 0,07 persen dan rubel Rusia minus 0,1 persen.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah bersama sejumlah mata uang Asia dari dolar AS terjadi berkat sentimen vaksin virus corona atau covid-19, Pfizer. Kemunculan vaksin ini memberi angin segar bagi pelaku pasar keuangan.

"Berita bahwa vaksin covid-19 dapat tersedia dalam waktu dekat meningkatkan optimisme atas pemulihan ekonomi global," ungkap Ibrahim.

Sebelumnya vaksin Pfizer yang diproduksi oleh BioNTech, perusahaan farmasi asal Jerman diklaim memiliki tingkat efektivitas mencapai 90 persen untuk melawan virus corona. Klaim itu muncul dari data uji klinis terhadap 94 orang yang terinfeksi virus.

Bahkan, sentimen vaksin Pfizer menutup sentimen hasil Pilpres AS yang menempatkan Joe Biden unggul dari Donald Trump. Namun, Trump belum mau menerima kemenangan Biden.

Sementara di dalam negeri, rupiah mendapat kekuatan dari munculnya keyakinan pasar pada pemulihan ekonomi Indonesia meski baru resmi dihantam resesi pada kuartal III 2020. Hal ini tercermin dari meningkatkan indeks keyakinan konsumen di Bank Indonesia (BI).

Tercatat keyakinan konsumen mencapai 69,36 persen pada Oktober 2020. Nilainya naik dari sebelumnya 68,8 persen. 



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.