AS Sebut Peretas Korut Lebih Ganas dari China dan Rusia

AS menyatakan para peretas dari Korea Utara lebih berbahaya ketimbang Rusia dan China.
Ilustrasi peretas. AS menyatakan para peretas dari Korea Utara lebih berbahaya ketimbang Rusia dan China. (Istockphoto/ Undefined)

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menyatakan para peretas dari Korea Utara lebih berbahaya ketimbang Rusia dan China.

Menurut Pompeo, para peretas Korut rutin mencoba membobol peladen pemerintah AS untuk mencuri informasi rahasia.

"Saya bisa mengatakan bahwa Rusia terus berupaya untuk masuk ke peladen Amerika, bukan hanya dilakukan oleh lembaga negara tetapi juga dari sisi keuangan. Akan tetapi, kami melihat ada upaya yang lebih keras dilakukan oleh Partai Komunis China dan juga Korea Utara," kata kata Pompeo, seperti dilansir jaringan radio Amerika Serikat, Breitbart News, dan dikutip kantor berita Korea Selatan, Yonhap News Agency, Rabu (30/12).

Meski begitu, Pompeo mengatakan para peretas dari China dan Rusia juga tidak kalah gencar dari Korut, dan terus berupaya mencoba mencuri informasi rahasia AS.

"Ini adalah perang yang sedang terjadi, dan perjuangan untuk membuat sistem kami tetap aman," ujar Pompeo.

Pemerintah Amerika Serikat pada sepanjang 2020 menerbitkan sejumlah pengumuman peringatan kepada negara lain untuk berhati-hati terhadap aksi pembobolan data yang dilakukan para peretas Korea Utara. Menurut mereka, para peretas itu tidak hanya menyasar peladen lembaga pemerintah, tetapi juga menargetkan bank atau jaringan lembaga keuangan dunia untuk mencuri uang.

"Saya tetap yakin pemerintah Amerika Serikat akan tetap menjaga informasi rahasia tidak jatuh ke tangan mereka (peretas Korut)," lanjut Pompeo.

Wakil Jaksa Agung AS bidang Keamanan Nasional, John Demer, menyatakan kebiasaan para peretas Korut yang beraksi demi mendapatkan keuntungan finansial amat berbeda dari perilaku peretas China dan Rusia.

"Itu bukan kebiasaan yang lazim kita lihat dari China, Rusia atau Iran, walau Iran saat ini dijatuhi sanksi. Peretas Korea Utara agak unik," kata Demers.

AS menuduh Korut 'memelihara' sekitar 6.000 peretas. Sebagian besar dari mereka beroperasi dari negara lain, termasuk China dan Rusia.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.