Camp Tewet, Saksi Bisu Perjuangan Peneliti Melacak Jejak Prasejarah di Sangkulirang

Camp Tewet, saksi bisu para peneliti melacak jejak prasejarah di Sangkulirang, Kaltim (Foto: Okezone.com/Dimas Andhika Fikri)

POTENSI pariwisata kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur mulai dilirik pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), kawasan ini rencananya akan dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus berbasis petualangan.

Berbagai persiapan pun telah dilakukan, termasuk memberikan bantuan peralatan hingga pelatihan cave rescue atau penyelamatan di dalam goa. Bantuan tersebut diberikan karena daya tarik utama Sangkulirang adalah keeksotisan goa bergambar cadasnya (rock art).

Data Badan Pelestarian Cagar Budaya (BCPB) Kalimantan Timur menyebutkan, setidaknya terdapat 54 situs cagar budaya yang berhiaskan gambar cadas berusia 40 ribu tahun. Salah satunya adalah Goa Tewet. Goa ini berada di Desa Tepian Langsat.

Sejak dipublikasikan pada 2014 lalu, Goa Tewet memang langsung menarik perhatian pencinta wisata petualangan dan para peneliti dari sejumlah negara. Namun mengingat medan menuju Goa Tewet cukup menantang, Pemprov Kaltim tidak mau gegabah membuka situs tersebut untuk kegiatan wisata yang bersifat masif (mass tourism).

Akomodasi dan fasilitas yang tersedia juga tidak dibangun secara besar-besaran, karena kawasan ini masuk dalam wilyah konservasi. Hanya ada sebuah bangunan yang dapat digunakan wisatawan maupun peneliti ketika hendak menyambangi Goa Tewet. Tempat itu bernama Camp Tewet.

Fasilitas dan sejarah Camp Tewet

Menurut penuturan Kepala BPCB Kalimantan Timur, Muslimin A.R. Effendy, Camp Tewet sengaja dibangun untuk memfasilitasi para peneliti yang sangat antusias melakukan penelitian tentang gambar cadas di kawasan Sangkulirang.

"Camp Tewet itu sebetulnya upaya kami memberikan semacam perhatian pelestarian di kawasan itu dan memfasilitasi para peneliti. Karena sebelumnya, tim-tim peneliti yang datang sebelum basecamp itu ada mereka tidur di tenda-tenda. Sebagai tuan rumah kita juga malu-malu donk. Padahal banyak peneliti dari Prancis dan Australia ke sini," ujar Muslimin kepada Okezone.

Beberapa waktu lalu, Okezone berkesempatan menyambangi Camp Tewet. Lokasinya cukup strategis. Dekat dengan tiga situs yang berada di Desa Tepian Langsat antara lain, Goa Tewet, Goa Pindi, dan Goa Karim.

Camp Tewet didirikan di lahan datar atas saran Pindi Setiawan, peneliti sekaligus ahli komunikasi visual dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga merupakan salah satu penemu goa di kawasan tersebut.


Proses pembangunannya sendiri dilakukan pada 2015 lalu, dan awalnya hanya berbentuk gazebo atau rumah panggung.

Namun seiring meningkatnya aktivitas penelitian di kawasan tersebut, pihak BPCB berinisatif untuk menambah sejumlah fasilitas di Camp Tewet. Pada 2017, mereka menambah 8 ruangan tertutup pada bagian bawah dan atas bangunan.

Tujuannya untuk memberikan privasi kepada para peneliti, karena tak sedikit peneliti wanita yang datang ke tempat ini. Di tahun yang sama, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur memberikan bantuan berupa kamar mandi dan toilet.

Kemudian pada 2018, BPCB kembali menginstalasi beberapa fasilitas pendukung seperti listrik, lampu penerangan, dan sambungan pipa sebagai sumber mata air. Sehingga bila dijumlahkan, fasilitas di Camp Tewet sejauh ini terdiri dari 8 kamar tidur, ruang tengah, kamar mandi dan toilet, serta dapur umum.

"Rencananya akan ada penambahan dermaga oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim. Sementara untuk akses internet dan sinyal memang sulit karena lokasinya di pedalaman. Teman-teman penilit datang ke sini pakai telpon satelit untuk akses informasi," kata Muslimin.

Mendatangkan banyak manfaat

Sejak didirikan pada 2015, Muslimin mengatakan Camp Tewet telah mendatangkan banyak manfaat. Selain menjadi tempat persinggahan warga lokal, tempat ini juga memberikan kenyamanan wisatawan domestik dan para peneliti yang datang dari berbagai negara.

Bukan tanpa alasan, setiap tahun memang selalu ada kegiatan di Camp Tewet. Mulai dari kegiatan deleniasi, kajian konservasi, pengenalan cagar budaya kepada anak-anak sekolah (SMA), hingga penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Griffith University Australia.

Terakhir bahkan ada kegiatan Familiarization Trip yang diselenggarakan Kemenparekraf untuk membedah potensi-potensi tersembunyi dari Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

"Di tahun 2020 saja sudah ada 2 kegiatan. Awal tahun ada 4 orang peneliti Australia yang melakukan penelitian dibantu oleh tim peneliti Indonesia, termasuk Pak Pindi. Sayang tidak tuntas karen tim dipanggil pulang karena pandemi Covid-19. Hasil temuannya masih dititipkan di BPCB," kata Muslimin.

"Jadi hampir setiap tahun itu ada peneliti yang datang, khususnya dari Australia yang sangat gencar. Untuk prosedurnya sendiri sangat mudah, hanya perlu bertukar surat dan didampingi BPCB karena kami mewakili kementerian," imbuhnya.

Sementara untuk kegiatan wisata, Camp Tewet juga bisa dimanfaatkan untuk tempat persinggahan karena daerah di sekitarnya memang memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa.

"Orang datang ke Camp Tewet itu kan tidak melulu harus ke goa. Mereka juga bisa menikmati sensasi susur Sungai Bengalon, berpetualang di hutan hujan tropis khas Kalimantan, dan melihat satwa-satwa endemik. Itu sangat menarik sekali," tandasnya.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.