Cerita Mistis Pekerja Pernah Berkenalan dengan Penunggu Sumur di Kos Tua Makassar

Foto

Seorang pekerja memiliki cerita mistis yang pernah dialaminya pada sekitar bulan April tahun 2015 lalu. Kejadiannya di sebuah rumah kos di Jalan Mannuruki, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. 

Awal ceritanya, dirinya sempat ada perselisihan dengan anak kos lain sehingga mendesak mendapat tempat kos baru. Sehingga dirinya mendesak mencari kost tempat menginap sementara.

"Yah, kondisinya memang jauh dari ekspektasi. Bahkan jauh dari kos sebelumnya. Belum lagi sewa kamar yang terbilang mahal untuk ukuran kamar kos sekelasnya, Rp 450 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat, karena hanya untuk sementara, kupikir tidak masalah tinggal di rumah kos tersebut," ceritanya seperti dikutip dari Tagar.id.

Mereka pun memutuskan tinggal di kost tersebut tanpa tahu menahu cerita keangkeran rumah kos tersebut. Dia pun mengaku awalnya berjalan normal.

"Saya menjalani rutinitas seperti biasa. Bekerja mulai Senin sampai Jumat, dari pagi sampai sore. Khusus Sabtu bisa pulang lebih awal karena selesai kerja sekitar pukul 14.00 WIB," sambungnya.

Seiring waktu terus berlalu, dirinya merasakan ada yang tidak lazim di rumah kos itu. Pasalnya, diantara tiga kamar kos, hanya dirinya yang tinggal dan tidak tahu penghuni kost lainnya.

"Sempat kutanyakan juga sepinya kamar kos yang lain. Tapi ibu kos berbadan tambun itu jawab sekenanya. Sembari tidak memandangku, ia menyatakan anak lain tengah di kampung dan ada yang lagi menginap rumah rekan atau kerabatnya," lanjutnya bercerita.

"Dari situ saya merasa ada yang janggal dari omongan si induk semang. Saat datang pertama kali, ia bilang tiga kamar kos terisi semua. Satu kamar ada yang diisi dua anak, ada pula yang bertiga."

"Kosnya diklaim ramai sekali, tak pernah sepi bahkan sampai subuh. Nyatanya? saya cuma sendiri, tak ada anak kos lain selama tinggal di situ. Memang ramai, tapi di sekitar rumah, bukan di dalam rumah." Ucapnya lagi.

"Keanehan ini memang baru terasa setelah tiga pekan tinggal. Saya tidak pernah berinteraksi dengan penghuni rumah atau anak kos lain. Selama itu, hanya keluar kamar ketika akan ke kantor, ke warung atau ke kamar mandi di ruang paling belakang rumah." 

"Dan bicara soal ruang di belakang rumah, saya baru menyadari jika kondisinya memang menyeramkan. Dari kamarku di bagian paling depan, menyusuri lorong remang lantaran penerangan seadanya."

"Melintasi dua kamar yang tertutup, lalu belok ke kanan melewati tangga dan ketemu sebuah pintu. Hal pertama yang pasti akan dilihat oleh siapapun usai buka pintu itu adalah sebuah sumur tua. Di samping kiri sumur, posisi kamar mandi berada." Lanjutnya.

Puncak keanehan sekaligus menyeramkan terjadi pekan terakhir bulan April 2015. Tepatnya malam Jumat. Sekitar pukul 22.00 Wita, seorang kawannya minta membelikan nasi goreng merah.

Nama kawan itu Fadly. Sekitar sejam kemudian ia menunjukkan batang hidungnya sembari bawa bungkusan yang dia pesan. Fadly datang saat situasi rumah kos benar-benar sepi. Entah pada kemana keluarga pemilik kos. 

"Hal pertama yang ia tanyakan begitu menyerahkan nasi goreng merah adalah letak kamar mandi. Kak Fadly mengaku harus segera buang air kecil lantaran sudah manahan hajat cukup lama. Maka kutunjukkan arah kamar mandi sembari kucicip nasi goreng merah." 

"Lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda Kak Fadly kembali ke ruang depan. Saya menyusulnya ke belakang rumah. Dan ternyata dia duduk di anak tangga dekat pintu belakang. Yang bikin saya kaget adalah raut wajahnya, memperlihatkan ekspresi bingung bercampur takut."

"Seketika bulu kuduk merinding. Saya mengajak ke depan dan menariknya ke kamar tapi ditolak. Ia buru-buru pamit mau pulang. Tapi sebelum berlalu, ia sempat bertanya padaku." Lanjutnya.

"Siapa perempuan yang tadi? kenapa nangis?," tanyanya. 

Sontak dia terperanjat. Kaget, heran dengan pertanyaan perempuan yang dimaksud Fadly. 

"Tadi di tangga itu ada perempuan, di dekatnya ada anak kecil. Ini perempuan nangis, saya tanya kenapa eh dia malah pergi, jalan ke belakang ke arah sumur pas kamu datang," jelas dia tetap dengan wajah bingungnya.

Dia mengaku sempat kakinya lemas mendengar apa yang diucapkan Fadly. Dia juga bingung apa yang terjadi. Siapa yang menangis? siapa perempuan yang dimaksud?. Pertanyaan yang memenuhi pikiran hingga dia berupaya menjawab rasa penasaran itu. 

"Saya kira penghuni kos lain yang sedang berada di ruang belakang. Ternyata tidak. Ruang belakang sepi dengan pintu sumur yang tertutup. Saya lantas balik ke kamar dan lebih memilih bersikap masa bodoh atas pertanyaan Kak Fadly."

"Tapi, baru saja ingin tubuh berbaring, tiba-tiba terdengar seseorang memberi salam dari luar. "Assalamualaikum," kata seorang perempuan. Dan kujawab dengan lantang salam itu." Sambungnya bercerita.

Lalu suasana kembali hening. Ada sekitar dua sampai tiga menit tidak ada respon atas jawaban salam. Dia menunggu orang tersebut melanjutkan ucapannya tapi tidak ada sahutan. Akhirnya dia yang bertanya, dengan niat ingin mengetahui siapa yang baru saja memberi salam.

"Tolong, tolongka dulueh (tolong dulu), tolong," kata suara itu dalam dialeg Makassar

Dia menimpali teriakan itu dan bertanya siapa di luar sana ?. "Tolong, terkuncika di belakang, di sumur," kata suara itu lagi. Artinya dia meminta tolong karena sedang terkunci di ruang belakang. 

Dia baru ingat pintu sumur memang terkunci dari luar. Dia pun keluar kamar dan berjalan menuju belakang rumah. Pintu belakang pun dibuka lebar-lebar. Tidak ada siapa-siapa di situ. Hanya sepi dan keheningan malam 

"Seketika keringat dingin menyergap. Seperti ada udara dingin berhembus di belakang leher. Saya tidak ingin pingsan, kuayun langkah meski terasa ada pemberat di kaki. Langsung masuk kamar dan melompat ke atas kasur tua jelek yang usang. "

"Malam itu benar-benar membuatku tak bisa memejamkan mata dengan tenang. Belum lampu yang lagi-lagi mati tanpa ada penyebab jelas. Hingga pagi, ketakutan membelenggu. Tak berani beranjak dari tempat tidur sembari membekap bantal. Yang pasti, jika mentari sudah beranjak, aku harus pindah ke kos lain."

"Pagi hari ketemu ibu kos. Saya ceritakan semua kejadian aneh malam tadi. Dan perempuan berdaster itu hanya menyatakan tidak ada perempuan dan anak kecil di rumahnya. Jawaban seenaknya ditambah permintaan uang panjar untuk kos bulan Mei menguatkan niat cari kos lain."

"Siang hari, saya ajak teman kantor, Icha namanya, untuk membantu memindah sebagian barang ke kos dia. Kuputuskan untuk menumpang sementara di kos Icha sampai mendapat tempat baru." Ucapnya. 

Tiba di rumah kos dan baru saja turun dari motor. Icha sudah terperanjat melihat sekitar rumah. Wajahnya pucat pasi.

"Yakin kamu tinggal di sini?," tanyanya. 

Icha tidak ingin masuk ke rumah. Ia memilih menunggu di luar. Setelah mengambil beberapa pakaian dan barang penting kami berdua pergi.

Di tengah jalan Icha bercerita tentang apa yang dlihat. Rupanya ia bisa melihat sosok gaib penunggu rumah. 

"Pohon mangga depan rumah itu ada sosok tinggi besar dan kuntilanak merah di sana. Dan berani sekali kamu kalau tinggal di situ," kata Icha.

Entah lah. Saya hanya bisa menarik nafas panjang. Yang dibenak hanya ada satu kata, pergi dan tak ingin kembali ke rumah itu. Mau ada setan apa di rumah itu, berapa jumlahnya, saya sudah tidak peduli lagi. 

Yang pasti, siang itu saya sudah merasa lega. Ketakutan yang menghantui sepanjang malam tak ingin terulang. Dan lebih baik tidak tahu sama sekali dengan cerita hantu di rumah kos tua itu. Karena saya hanya ingin melanjutkan kehidupan yang tenang.

Sumber : correcto.id

No comments

Powered by Blogger.