Cerpen: Andai Dia Tahu


Cerpen Karangan: Elegi Kartika
Kategori: Cerpen GokilCerpen MisteriCerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 December 2020

Angin berhembus, burung berkicau, daun melambai-lambai, matahari bersinar menyapa.

Shut up! Aku sudah telat.
Kali ini aku menyayangkan kata-kata puitis datang di saat yang tidak tepat. Angin memang berhembus, atau lebih tepatnya berhembus dengan keras dari truk yang barusan menyalipku. Burung juga berkicau, tapi dengan segera mereka diusir pemilik rumah yang disantroni burung-burung itu, takut mereka buang hajat sepertinya. Daun melambai-lambai, persis seperti satpam sekolah yang melambai-lambai padaku, menyuruh cepat menyeberang.
Oh iya aku sedang menyebrang.

“Tiiinn!!!!”
“Telolet telolet telolet telolet toleoltoelotloeleotleoet”
“Woi jalan pake mata!”
“Jalan pake kaki dong bos” aku membalas sambil cengengesan.

Ternyata upacara belum dimulai.
Layaknya di video klip jadul, aku melintasi lapangan sekolah sementara para cleaning service mengepel lapangan di samping-sampingku.

Kisah-kasih di sekolah
Dengan pak cs
Masa-masa paling indah
Kisah-kasih di sekolah

Cuih, dengan segera kumatikan lagu yang mengalun di benakku, untung aku tidak menyanyikannya, bisa habis aku diledek teman-temanku yang katanya kids jaman now. Ah dasar generasi millennial.

Beberapa murid sudah keluar dari kelasnya untuk melaksanakan upacara rutin, termasuk sebagian kecil dari murid kelasku, selebihnya? Tentu masih ribut di kelas. Seorang temanku menghampiriku, menyerahkan sabuk dan dasi, aku memang cuma modal baju dan otak aja dari rumah.

“Anjir dasi cowok nih, lo kira gue transgen?” aku melambai-lambai dasi di depan wajah sobatku yang lempeng-lempeng aja. “Mana juga topinya?”
“Pake aja seadanya, lo kira gampang nyari pinjeman atribut, topinya kan lo kemaren yang bawa” dia malah menolak peduli dan meninggalkanku.

Aku memaksa otak bersarang laba-labaku untuk berpikir, hmm, topi, topi, topi, oh iya abis ta buat ngelap muka terus ditaruh ember, nah pasti sekarang lagi dicuci nih sama emak.

“Woi ada bawa dasi dua kagaa?” kali ini adam lainnya berteriak untuk seisi kelas, aku berpikir dari hitungan satu sampai ketiga, cukup sebentar untuk memutuskan.



Aku melempar dasi padanya, berikut sabuk yang mengenai kepalanya. “Noh ambil aja deh, gue gak butuh”

Sudah kuputuskan untuk bolos upacara lagi, entah yang keberapa kali. Kuambil headset dan hape nyaris jadul dari tas lalu beranjak ke kamar mandi. Kenapa kamar mandi? Karena cuma tempat itu yang nggak diperiksa pak BP resek, sebenarnya toilet ini juga punya banyak kisah mistis, mungkin itu juga yang membuatnya tidak terjamah pak BP, dasar cemen.

Agak sulit untuk menerjang arus murid yang berlomba-lomba untuk ke lapangan, padahal ayolah, apasih enaknya upacara, pengecualian untuk upacara hari pahlawan yang ada part “menyanyikan lagu nasional”. Aku akan dengan lantangnya (tentunya juga ga pake malu-malu) ikut bernyanyi Bangun Pemudi-pemuda, atau dari Sabang sampai Merauke, Maju Tak Gentar juga hayo kujabanin, semuanya untukmu Indonesia. Masalah suara? Jangan ditanya, gini-gini aku juga pernah ikut audisi paduan suara, dan tentunya ditolak.

Sempat aku mampir ke kantin, mengambil 2 buah gorengan, lumayan buat perbekalan selama di toilet. Eh jangan pikir aku akan buang hajat sambil makan ya, euuh banget. Tentunya nanti di toilet aku hanya duduk-duduk di lorong antar bilik. Mungkin kalau keadaan memaksa (contoh, tiba-tiba Pak BP -dengan tampang sok-sok berani padahal astaga pingin ngacir aja- masuk ke toilet).

Dari narasi sebelumnya kalian pasti sudah bisa menilai bagaimana perwujudanku. Tampang tengil, baju keluar-keluar, rambut dikuncir acak-acakan, bawa panah kayak Katnis Everdeen, oh yang terakhir itu tentu enggak walaupun aku berharapnya iya.
“Iya kamu memang memukau kalau bawa panah”

Seperti gasing aku memutar tubuhku, menghadap makhluk yang ya ampun ganteng banget.
Tapi, beberapa detik kemudian aku berfikir.
“Woooiii ini toilet cewek sialaaan!”

Aku segera mengangkat ember dari toilet terdekat dan menyiramkannya.
Byurr, mantap jiwaa

Belum puas, aku segera masuk ke bilik berikutnya, tapi tanganku dicekal.
Seketika merambat perasaan aneh, nggak, bukan perasaan seperti kupu-kupu terbang di perutmu, tapi ini perasaan takut yang berdesir aneh, aku baru sadar kami hanya berdua saja di sini, kalua dia berniat macam-macam habislah aku.
Baru kali ini aku merasa menyesal telah bolos upacara.

Kenyataan kedua yang kusadari adalah,
selama 5 detik aku lupa menutup mulut, kontan dia tertawa dengan keras.
Ternyata telmi juga dia, masa baru sadar sih.

“Sori gue udah nyiram” lah kok jadi aku yang minta maaf. “Gue aja yang pergi kalo lo mau pake ini toilet” dengan cepat aku mengambil gerakan seribu langkah.
“Brraakk” pintu tertutup keras, aku semakin merinding.
“Sumpah gue nggak nyentuh” gobloknya aku malah mengangkat angkat tangan untuk membuktikan.
“Memang aku yang menutupnya” santai dia mengatakan ini, seketika aku menyadari semua hal yang nggak beres, mulai dari kedatangannya, kemampuannya membaca pikiranku, juga oh, lihatlah, kenapa dia make celana abu-abu pendek?

Kami berpandang-pandangan, rasanya kalau ada laler lewat pasti suaranya memekakkan telinga banget.

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku

Andai dia tahu?

Sayup-sayup aku mendengar dirinya menyayikan lagu yang sering disetel oomku, sedangkan aku masih mengawasinya dengan mata nyalang. Satu saja gerakan mencurigakan, aku akan memastikannya menyesal pernah bertemu deganku, tapi jujur aku sangat gugup.

Untuk menutupi kegugupanku yang setengah mati, aku mengatakan,
“Angkatan tahun berapa bang?” ledekku dengan mengerling pada celana seragamnya.
“Masih saja ya bisa bercanda?” dia nggak tau, aku harus bekerja keras untuk menenangkan detakan jantungku, juga otakku yang terus-terusan membuat spekulasi yang tak wajar. “Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa memakai rok panjang padahal tidak berkerudung?”

Satu lagi keanehannya, kalimatnya terlalu baku, ayolah kita kan nggak lagi suting film Dilan 1990. Kira-kira apa aku perlu juga untuk memanggilnya Dilan? Lalu dia dengan romantisnya mengatakan “Sekarang aku belum mencintaimu, tidak tahu lagi kalau nanti sore” lalu tiba-tiba dia menghadiahi aku TTS yang sudah diisi, aduh kok kalau aku yang ngomong jadi nggak banget ya.

“Namanya juga k-13”

Dia tertawa keras-keras, aku nyaris lompat saking kagetnya.

“Ada turis lintas jaman lagi rupanya”
Turis? Lintas jaman?

“Kenalkan, aku Haryanto” dia mengulurkan tangannya padaku, sejujurnya darahku kembali berdesir ketika mendengar namanya yang ya ampun jadul banget, tapi aku memaksakan diri untuk membalas jabat tangannya.

“Kinan” kalian boleh tertawa, nama feminim ini emang nggak matching banget sama penampilanku yang nggak kalah dengan preman sekolah.

“Welcome to ninty”
“Hah? Apaan?”
“Dasar oon, maksudku selamat datang di tahun 90-an”

“Ooh” aku mengangguk-angguk sambil melihat sekeliling, ternyata begini ya suasana tahun 90-an, toiletnya sih nggak jauh beda, malah lebih creepy waktu jamanku, mungkin karena ini baru dibangun kali ya?

1 detik

2 detik

3 detik

“Whaatt thee hellll”


Sumber : cerpenmu.com

No comments

Powered by Blogger.