Corona dan Sepi Arena Olahraga di 2020

Dunia olahraga terkena efek luar biasa karena pandemi virus corona. (AP/Dave Thompson)

Ketika tahun berganti dari 2019 ke 2020, bayangan akan gemerlap pesta olahraga muncul karena marak agenda sudah terjadwal. Namun virus corona mengubah semua.

Target medali, trofi, sabuk juara, atau podium harus disisihkan karena kesehatan dan keberlangsungan hidup menjadi fokus utama kehidupan pada 2020.

Tak ayal hal tersebut mempengaruhi dunia olahraga yang kental dengan duel-duel jarak dekat serta riuh rendah ramai suporter yang berdesakan di tribune.


Atlet-atlet mengalami perubahan suasana. Yang sebelumnya dijadwalkan mengikuti agenda turnamen atau kompetisi, justru harus mendekam di rumah, menjaga diri agar tak terkena virus corona.

UFC 249 membuka jalan olahraga profesional di tengah pandemi. (Douglas P. DeFelice/Getty Images/AFP)

Kebosanan melanda atlet. Para jagoan arena dan maestro lapangan. Mengekspresikan lewat kegiatan-kegiatan membunuh waktu seperti juggling tisu tollet, dan bermain beragam 'challenge' di media sosial.

Jadwal-jadwal olahraga seketika dihentikan. Liverpool yang hanya butuh selangkah lagi menuju gelar juara kali pertama selama 30 tahun, harus menunda pesta. Barcelona yang sudah memimpin klasemen juga harus terganggu lantaran liga yang diganggu virus corona.

Begitu pula Olimpiade, Piala Eropa, dan Copa America yang sudah diagendakan sejak bertahun-tahun sebelumnya terpaksa ditunda.

Sejurus pula dengan MotoGP dan F1 yang tidak memaksakan pembalap menghidupkan mesin.

Liverpool merayakan kesuksesan menjadi juara liga domestik di situasi normal baru. (Phil Noble/Pool via AP)

Tidak ada pula turnamen badminton, selain All England yang tetap digelar dengan mencantumkan peraturan berbeda lantaran Covid-19.

Bukan hanya penyelenggaraan turnamen badminton yang memiliki dampak langsung dengan olahraga nasional, seperti Liga 1, IBL, Proliga, Piala AFF, Pekan Olahraga Nasional (PON), dan sederet agenda yang diikuti banyak olahragawan nasional pun setop.

Di tengah situasi yang tak pasti, operator-operator kegiatan olahraga terus mencari celah menggelar agenda.

Saat kegiatan olahraga seperti mati suri, UFC muncul menampilkan pertarungan Tony Ferguson vs Justin Gaethje dalam tajuk UFC 249 yang berlangsung pada 9 Mei. Keras kepala Dana White, selaku presiden UFC, membuahkan hasil.

Kendati gagal mewujudkan pertarungan Khabib Nurmagomedov melawan Ferguson, ajang mixed martial arts (MMA) itu menancapkan tonggak perlawanan olahraga di tengah tekanan pandemi.

Berselang sepekan dari kemenangan TKO Gaethje atas Ferguson, Bundesliga mengawali kebangkitan liga top Eropa dari laga yang tertunda. Liga Spanyol, Liga Inggris, dan Liga Italia pun kembali bergulir pada pertengahan Juni.

Menyusul kemudian NBA Bubble yang merupakan kelanjutan dari laga yang terhenti di kompetisi bola basket ternama di dunia pada Juli.

Kendati sudah berlangsung, namun berbagai kompetisi tadi masih tidak berjalan seperti biasa. Ada pula cabang olahraga yang belum bisa kembali menampilkan duel-duel sengit para atlet papan atas. Badminton baru direncanakan berjalan lagi tahun depan. Hal ini tidak lepas dari karakter turnamen badminton dunia yang kerap mengundang ratusan atlet dan ofisial ke dalam sebuah negara.

Sedikit mirip dengan MotoGP yang sudah berlangsung sejak Juli, namun dominasi pembalap Eropa di ajang balap motor itu membuat penyelenggara bisa memaksimalkan agenda balap di Benua Biru. Sedangkan di badminton terdapat atlet-atlet top dari Asia sehingga membuat penyelenggaraan di satu benua saja akan sulit terlaksana.

Sementara penonton belum bisa bebas melihat langsung jagoan-jagoannya tampil dari dekat. Mayoritas pelaksanaan pertandingan olahraga memilih meniadakan kedatangan suporter demi faktor kesehatan dan keselamatan. Baru menjelang akhir tahun, beberapa operator pertandingan memberi izin penonton dalam jumlah terbatas, seperti yang terjadi di Liga Inggris.

Los Angeles Lakers dan Miami Heat bertemu di final NBA 2020. (AP Photo/Mark J. Terrill)

Sementara di dalam negeri, pelaku olahraga di Indonesia masih belum bisa mendekati arena tanding. Kompetisi dari berbagai cabang olahraga belum bisa dimulai.

Liga 1 yang menyedot perhatian banyak orang, hanya berulang kali meniupkan harapan. Dijanjikan bakal dilaksanakan sebelum tahun berakhir, kompetisi sepak bola penerus Liga Super Indonesia itu justru masih mandek di pekan ketiga.

Agenda besar olahraga yang batal terlaksana pada 2020 bakal coba dihidupkan pada 2021. Jika bising suara suporter belum bisa terdengar di stadion, setidaknya kegiatan olahraga bisa kembali berdenyut mendekati normal pada 2021.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.