Fenomena Awan Cumulonimbus yang Hebohkan Warga RI 2020

Fenomena awan cumulonimbus. (CNN Indonesia/Safir Makki)


Jakarta, Fenomena kemunculan awan Cumulonimbus terjadi di sejumlah daerah Indonesia sepanjang tahun 2020. Fenomena itu membuat sejumlah masyarakat panik dan khawatir karena menyebabkan sejumlah peristiwa, mulai dari puting beliung hingga hujan es.

Fenomena awan Cumulonimbus pertama yang dideteksi adalah pada saat angin puting beliung melanda kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (11/1).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi atmosfer berdasarkan citra satelit himawari terpantau awan konvektif dengan jenis Cumulonimbus meliputi wilayah Bandung bagian timur.

Awan Cumulonimbus kedua diungkap oleh Balai Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT terjadi di Teluk Jakarta sekitar akhir Februari 2020. Keberadaan awan itu disebut menjadi salah satu faktor meningkatnya intensitas curah hujan di Jakarta.

Di bulan yang sama, awan konvektif atau awan Cumulonimbus juga sempat terbentuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Awan itu tumbuh di tengah tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) melakukan pencarian terhadap sejumlah pelajar SMPN 1 Turi yang hanyut saat melakukan kegiatan Pramuka.


Kemudian, fenomena awan Cumulonimbus di Aceh juga menjadi salah satu yang paling berkesan. Awan itu berbentuk gelombang tsunami sempat membuat warga di kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya khawatir. Awan itu diketahui muncul sejak Senin (10/8) pagi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan awan berbentuk gulungan ombak itu adalah awan Arcus. Awan itu merupakan bagian dari awan Cumulonimbus.

Awan raksasa itu merupakan awan rendah dan dapat menimbulkan angin kencang, hujan lebat disertai kilat, petir, angin puting beliung, atau hujan es.

Di bulan yang sama, awan Cumulonimbus juga sempat diprediksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta akan terjadi di Jakarta. Kala itu, BPBD DKI berkata awan Cumulonimbus akan menyebabkan angin puting beliung.

Fenomena awan Cumulonimbus juga terjadi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada akhir Agustus 2020. Keberadaan awan itu menyebabkan sejumlah kawasan di Karo dilanda hujan es. Hujan es di sana terjadi sekitar 20 menit dan disusul hujan deras.

Pada bulan September, hujan es juga melanda sejumlah wilayah di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/9). Butiran es turun saat hujan yang disertai kilat terjadi selama lebih dari satu jam.

Awan Cumulonimbus dan Hujan Es
BMKG Kota Bogor menyebut fenomena hujan es itu merupakan fenomena sains yang normal terjadi. Hujan es berasal dari tumbuhnya awan Cumulonimbus.

Seperti di Bogor, hujan es akibat adanya pertumbuhan awan Cumulonimbus juga terjadi di Maros, Sulawesi Selatan, Senin, (9/11). Tak berselang lama, Bali dan Lombok juga dilanda hujan es akibat pembentukan awan Cumulonimbus pada Minggu (22/11).

Peneliti BMKG Siswanto menyampaikan kemunculan awan Cumulonimbus merupakan hal yang wajar. Dia mengatakan awan itu sering muncul dan kerap menyebabkan hujan lebat hingga hujan es.

"Kalau awan Cumulonimbus harusnya wajar, sering terjadi," ujar Siswanto kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Prakirawan BMKG Tomi Ilham menyatakan awan Cumulonimbus berpotensi terbentuk di semua wilayah Indonesia. Namun, dia mengatakan awan itu bisa terbentuk tergantung dari kondisi atmosfer di wilayah tersebut.

"Semua daerah memiliki potensi, hanya tergantung kondisi atmosfer di wilayah tersebut," ujar Ilham kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ilham berkata pertumbuhan awan Cumulonimbus biasanya sering terjadi saat transisi musim kemarau ke musim hujan. Ketika terbentuk, awan itu biasanya menyebabkan angin puting beliung, hujan es, hujan lebat, hingga petir.

Melansir laman resmi BMKG, awan Cumulonimbus adalah awan yang memiliki bentuk lebat dan padat. Bagian atas dari awan itu terdiri dari es dan biasanya menyebar horizontal dalam bentuk sebuah landasan (anvil) atau jambul (plume).

Awan Cumulonimbus juga memiliki dasar awan yang rendah, di bawah 2 kilometer. Pertumbuhan vertikal awan itu bisa mencapai tropopause, lapisan pembatas antara lapisan troposfer dengan stratosfer.

Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.