Generasi Muda Anggap Covid-19 Bukan Ancaman bagi Mereka




    Pada awal pandemi Covid-19, generasi muda di Singapura menganggap Covid-19 bukan ancaman bagi mereka, melainkan untuk orang tua. Demikian temuan dari para peneliti di NTU Singapura.




Menurut temuan studi bertajuk "How young Singaporeans navigated uncertainty in the early stages of the COVID-19 outbreak" tersebut, anak muda Singapura lebih khawatir tentang bahaya hoaks seputar Covid-19 ketimbang ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut.

Selain itu, mereka juga meyakini bahwa misinformasi tentang pandemi lebih dapat memengaruhi generasi lebih tua daripada mereka.

Studi yang dipimpin oleh Associate Professor NTU Singapura Edson Tandoc Jr dan peneliti James Lee Chong Boi itu melibatkan delapan Focus Group Discussion (FGD) dengan 89 partisipan berusia 21 hingga 27 tahun.

"Mempelajari reaksi publik pada fase awal terhadap krisis kesehatan seperti pandemi Covid-19 dapat memandu praktisi dan pembuat kebijakan sosial tentang cara menangani wabah dalam jangka panjang," ujar Edson dikutip dari rilis pers via Eurekalert, Rabu (23/12/2020).

Terungkap bahwa alih-alih mencari informasi tentang Covid-19 secara aktif, banyak orang dewasa muda mendapatkan berita tentang virus tersebut dari platform media sosial dan olah pesan seperti WhatsApp.

Pada gilirannya hal ini membentuk pandangan bahwa virus itu berisiko bagi generasi lebih tua, tetapi tidak bagi diri mereka sendiri. Dari situ terbentuk bagaimana respons perilaku mereka terhadap wabah tersebut, seperti tidak memakai masker, yang memang belum diwajibkan pada fase-fase awal Covid-19.

"Poin penting dari temuan ini adalah bagaimana membuat kaum muda yang merasa tidak rentan terhadap Covid-19 untuk bersikap proaktif melawan virus," tutur Edson lebih lanjut.

Misinformasi
Studi yang terbit di jurnal New Media & Society pada bulan Oktober itu, juga mengungkap bahwa seperti di negara lain, Covid-19 di Singapura juga dibarengi dengan 'infodemik'.

Ia merupakan istilah yang merujuk pada situasi di mana gelombang berita palsu tentang pandemi, mulai dari pesan yang mengklaim penutupan mal dan stasiun MRT karena kasus yang dicurigai, hingga berbagai pengobatan rumahan untuk melindungi diri dari virus, seperti minum minyak wijen.

Informasi yang keliru seperti itu, menurut para peneliti, dapat merusak respons global terhadap krisis dan membahayakan peringatan kesehatan dan tindakan pencegahan yang dilakukan oleh pejabat kesehatan.

Merasa virus tersebut bukan ancaman besar bagi kelompok usia mereka, para peserta mengaku lebih fokus untuk memerangi penyebaran misinformasi. Mereka menganggap hoaks tentang Covid-19 memengaruhi orang tua dan kerabat yang lebih tua lebih daripada diri mereka sendiri.

Faktor generasi
Salah satu responden bahkan menyebutkan perbedaan generasi sebagai faktor pemicu penyebaran misinformasi. Dia merasa generasi muda akan melakukan verifikasi atas informasi baru alih-alih menerimanya begitu saja.

"Sangat menarik untuk mendengar bagaimana peserta merasakan kebutuhan untuk secara aktif melindungi orang tua dan kerabat mereka yang lebih tua dari misinformasi tentang Covid-19," kata Edson.

Sikap ini, menurut dia, berkontribusi pada bagaimana generasi muda lebih memahami Covid-19 sebagai masalah sosial, yang melibatkan penanganan misinformasi sehingga orang tidak panik.

"Memerangi misinformasi sangat penting di saat seperti ini, ketika informasi mengalir dengan cepat melalui saluran seperti media sosial dan aplikasi olah pesan, untuk melindungi tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain dalam komunitas," tutur Edson.

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.