Kisah Sedih Wanita Dilecehkan Om yang Sudah Dianggap Sosok Ayah Sendiri

 Asian women are sitting hugging their knees in bed. Feeling sad, disappointed in love In the dark bedroom and sunlight from the window through the blinds.Vintage tone.

Wanita ini berbagi kisah sedihnya mengalami pelecehan seksual oleh pria yang sudah dianggapnya ayah sendiri. Lebih menyedihkannya, pelecehan tersebut dialaminya sejak dia kecil.

Wanita yang memilih namanya dirahasiakan itu mengungkapkan cerita pilu hidupnya kepada HaiBunda.com. Berikut kisah selengkapkan wanita dengan nama Bunda A itu:

Aku seorang ibu rumah tangga yang dikaruniai dua anak laki-laki dan kini tengah mengandung anak ke-3. Sebelum aku hidup bahagia dengan keluarga kecilku, aku memiliki pengalaman pahit yang membuatku trauma hingga sekarang. Yaitu dilecehkan oleh om ku sendiri.

Cerita ini bermula sejak aku umur 7 tahun, kedua orang tua ku bercerai. Ayah dan ibuku yang tidak memiliki pekerjaan, akhirnya menitipkan aku untuk tinggal di rumah dengan kakak kandung ibu, yaitu tanteku sendiri. Perceraian yang dialami kedua orang tuaku ini membuatku mengalami tekanan batin dan trauma di umur yang terbilang masih dini.

Kehilangan sosok ayah karena perceraian, aku pun menganggap suami tanteku atau Om, sebagai sosok ayah yang selama ini aku dambakan. Om pun juga tak pernah membeda-bedakan aku dengan anak-anaknya. Ia memberi kasih sayang yang sama. Mulai dari antar jemput saat sekolah dan memberiku uang jajan.

Saat memasuki SMP, tentu saja aku mengalami perubahan fisik yang terjadi saat masa pubertas. Seperti tumbuhnya payudara, dan lain sebagainya. Nah, berawal dari situ, om mulai menunjukkan gelagat aneh.

Dimulai ketika aku meminta uang jajan untuk pergi, Om selalu memberinya di belakang tanpa sepengetahuan tanteku. Ketika di depan Tante, sikapnya berubah drastis menjadi dingin dan tidak menawariku uang jajan.

Namun, setiap Tante pergi, dia selalu menawarkan uang jajan kepadaku. Tetapi bukan tanpa syarat, dia memintaku menciumnya. Sebagai anak kecil yang masih polos, aku tidak mencurigai apa-apa. Aku yang menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang layaknya ayah dan anak, hingga aku akhirnya menurutinya untuk mencium pipinya.

Semakin dewasa tentu aku mengerti, sikap Om berbeda saat mengantarkan aku sekolah. Pada saat itu aku mengenakan rok pendek, karena jaman dulu belum diwajibkan memakai rok panjang. Di perjalanan, ia mengarahkan kaca spion motornya ke arah rokku. Dan dia terus saja melirik ke kaca spion yang dia arahkan ke rok ku. Aku yang menyadarinya pun merasa sangat risih, dan segera menutupinya dengan jaket.

Masuk ke SMK, aku pernah dekat dengan seorang lelaki dan diantar pulang ke rumah. Melihat hal itu, Om ku marah besar dan melarangku untuk dekat dengan lelaki itu. Awalnya kupikir itu adalah hal yang wajar, karena Om menganggapku sebagai anaknya yang mengkhawatirkan aku.

Hingga suatu ketika, saat aku meminta uang jajan untuk pergi keluar. Seperti biasa Om meminta dicium sebagai syaratnya. Namun, ketika aku mencium pipinya dia mencium ku hingga ke leher seperti orang yang nafsu. Aku tercengang dan kaget bukan main, sadar ini adalah bentuk pelecehan aku tak bisa berkutik dan berbuat apa-apa selain pergi dan tak bisa berkutik dan berbuat apa-apa selain pergi dan menangis. Dari sinilah muncul puncaknya.

Sumber : wolipop

No comments

Powered by Blogger.