Natal di Perantauan Serasa Drama Korea

Orang-orang menikmati waktu santai di dekat Jembatan Banpo dengan pemandangan Sungai Han.(iStock/TwilightShow)

Wolgok, -- 

Bisa bertemu dengan Bae Suzy merupakan salah satu alasan saya gigih mendaftar kuliah di Korea Selatan. Membayangkan bisa berada satu negara dengan artis drama yang sudah saya gemari sejak serial 'Dreamhigh' itu saja sudah membuat saya deg-degan, apalagi jika ada kesempatan bertemu dengannya hahaha...

Tahun 2016 sepertinya merupakan tahun keberuntungan saya, karena akhirnya usaha dan doa saya dijawab oleh Tuhan dan saya diterima untuk kuliah di Korea Institute of Science and Technology (KIST).

Di universitas ini saya menempuh pendidikan S3 di bidang Environmental Engineering dengan mayor Advanced of Wastewater Treatment Technology.

Ini adalah kali pertama saya kuliah di luar negeri. Tinggal di negara yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris tentu saja menantang.

Untuk mengasah keterampilan berbahasa Korea, saya sering menonton drama Korea (drakor), musik k-pop, pokoknya yang berbau Korea, sampai memberanikan diri untuk berbicara bahasa Korea di kehidupan sehari-hari dengan teman kuliah yang asli Korea Selatan.

Sejak tinggal di Bandung, saya memang banyak meluangkan waktu untuk menonton drakor. Menurut saya drakor itu mempunyai plot cerita yang unik dan menarik. Apalagi drakor yang mengangkat unsur-unsur musik di dalamnya, keren banget!

Ekspektasi saya tentang tinggal di Korea Selatan tentu saja yang indah-indah, mirip seperti yang ada di drakor. Orang-orang yang berpakaian stylish lalu lalang di jalanan, dengan pemandangan kota yang Instagram-able.

Tapi kehidupan nyata di Korea tidaklah demikian.

Untuk bisa tinggal apartemen yang ada di pusat kota dan dekat dengan tempat-tempat populer seperti Gangnam, Apgujeong (Sinsa), Hongdae, Sinchon, dan lain-lain kita harus merogoh kocek lebih dalam, bahkan bisa lebih dari Rp20 milyar.

Kawasan Gangnam yang memiliki banyak pusat belanja sampai klinik bedah plastik. (istockphoto/Mlenny)

Saya sendiri bermukim di Wolgok, daerah dekat Korea University. Untuk menghemat, saya selalu memasak di rumah dan jarang makan di restoran. Lebih baik uangnya saya tabung untuk nongkrong selepas kuliah atau liburan saat akhir pekan.

Kalau kalian sering melihat Park Bo-gum, Gong Yoo, Kim Seon-ho, atau Park Seo-joon beradegan romantis di drakor, ketahuilah kalau itu hanya akting belaka. Penduduk asli di sini sepertinya tidak terlalu romantis, tapi tidak juga cuek, ya biasa saja.

Dari pengamatan saya terhadap teman-teman saya yang asli Korea Selatan dan sudah berpasangan, sepertinya perempuan lebih dominan daripada pria, dan mereka juga santai saja dalam menerima sikap pasangannya tersebut.

Tapi karakter penduduk Korea Selatan terbagi dua, ada yang sudah sudah terbuka dengan pendatang dan ada yang masih tertutup.

Kalau saat ditanya mereka terkesan acuh tak acuh, mungkin mereka hanya minder dengan kemampuan berbahasa Inggris-nya, bukan karena memusuhi kita.

Keramaian di Hongdae pada 2019 sebelum pandemi virus Corona melanda. (Istockphoto/Getty Images/nunawwoofy)

Di Korea segalanya serba teratur, mulai dari antrean sampai jadwal buang sampah. Tapi karakter penduduk Korea Selatan itu seperti air yang mengalir, penuh kejutan.

Yang paling dikenal juga ialah karakter mereka untuk mengerjakan segalanya serba cepat dan tepat. Etos kerja penduduk Korea Selatan yang disiplin sangat membekas dalam ingatan saya hingga saat ini.

Sebelum pandemi virus Corona, perayaan Natal di Korea Selatan amatlah meriah, mirip seperti yang ada di drakor.

Natal juga datang bertepatan dengan musim dingin, sehingga saat kaki melangkah ke luar rumah rintik salju bakal mengikuti.

Tradisi Natal penduduk Korea Selatan sama seperti di Indonesia, menghias rumah dengan pohon Natal, bertukar kado, makan malam, dan ke gereja.

Tahun ini perayaan Natal terasa lebih senyap. Ibadah di gereja juga hanya disiarkan melalui video siaran langsung. Tapi saya jadi bertemu lebih banyak orang, karena saat ibadah online ada teman-teman dari gereja lain juga.

Selama tinggal di sini, rasanya saya baru pernah bertemu dua kali dengan selebriti Kpop, yakni Seolhyun 'AoA' dan Lovelyz.

Ada penduduk yang fanatik dengan grup idol, tapi tak sedikit juga yang gemar musik-musik Barat. Jadi tak bisa dibilang kalau seluruh penduduk Korea itu selalu menonton drakor atau mendengarkan Kpop.

Salah satu cara mengenal penduduk Korea Selatan dengan lebih akrab ialah dengan acara minum-minum di bar. Soju adalah minuman yang selalu dipesan. Harganya sekitar Rp15 ribu per botol. Tentu saja yang disajikan sudah dalam kadar rendah alkohol, dan hanya orang dengan usia 17 tahun ke atas yang boleh meminumnya.

Saya dan teman-teman biasanya nongkrong di kafe. Menu favorit yang kami pesan ialah croffle dan ice cream di atasnya. Selama nongkrong, ada saja yang dibicarakan mulai dari tugas kuliah sampai urusan percintaan.

Saran bagi pembaca CNNIndonesia.com yang ingin kuliah atau bekerja di Korea Selatan ialah menguasai bahasa Korea Selatan dan disiplin. Dan juga, sebaiknya simpan ekspektasi berlebihan soal hidup di Korea Selatan itu sama seperti di drakor, dan mulainya melatih mental untuk menjalani kehidupan di perantauan yang sesungguhnya.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.