Operator Ungkap Kesulitan Sediakan Internet di Daerah


Ilustrasi (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)


Jakarta, General Manager Future Network Project Telkomsel Ronald Limoa mengungkapkan kendala yang dihadapi pihaknya dalam membangun akses jaringan internet di daerah terpencil, tertinggal, terluar (3T) di Indonesia.

Daerah 3T menjadi blank spot internet sehingga tidak mendukung penggunaan internet secara mobile sampai pelosok terpencil di wilayah Indonesia. Sementara daerah-daerah tersebut sulit ditempuh melalui jalur darat sehingga menghambat pembangunan akses internet.

"Bila kita lihat, ada sekitar tiga ribu wilayah blank spot di mana kalau kita petakan daerahnya, itu akses daratnya jauh, hanya bisa diakses mengunakanpesawat, seperti di Papua, atau akses laut maupun sungai seperti di daerah perbatasan di Kalimantan," kata Ronald, dalam webinar 'Mengungkap Peluang dan Kendala Perluasan Jaringan Internet di Berbagai Wilayah Indonesia', Selasa (15/12).

Menurut data Kemkominfo, ada sekitar 12.548 daerah blank spot internet, sebanyak 9.113 diantaranya merupakan desa-desa 3T, dan 3.435 lainnya merupakan desa non 3T yang tidak mendapat akses internet.

Ronald mengatakan, menurut penelusuran pihaknya, masyarakat yang berada di daerah tersebut lebih membutuhkan akses telekomunikasi ketimbang akses data internet.


"Masih ada 3000 desa non 3T itu biasanya berdiri sendiri, berupa hutan atau lembah yang sulit dijangkau, rata-rata pekerjaannya petani atau nelayan,apa sih yang dibutuhkan oleh mereka, kalau menurut pendapat kami adalah akses telekomunikasi," tuturnya.

Namun untuk mencapai akses telekomunikasi pun, masih terbentur dengan ketersediaan infrastruktur dasar. Infrastruktur dasar pendukung seperti listrik, kerap kali menjadi hambatan penyelenggara jaringan untuk membangun akses jaringan telekomunikasi ataupun akses data di wilayah.

CTO Huawei Indonesia, Alex Xing, menyebut pembangunan akses internet di wilayah 3T bisa menggunakan teknologi RuralStar.

RuralStar disebut bisa menjangkau area yang luas karena memiliki antena dengan daya 16,5 dBI. Selain itu, energi yang digunakan pun minim, 242 watt. Daya ini disebut lebih hemat 27 persen.

"Daerah pedesaan itu menantang, tidak terhubung satu sama lain, dan tidak ada pasokan listrik sama sekali, RuralStar bisa menjadi solusinya," kata Alex.


Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.