Perajin Rumah Arwah Jatuh Bangun Jaga Tradisi Warga Tionghoa Semarang

Pembuatan rumah arwah sempat terpuruk saat Orde Baru

Suasana gang sempit di depan Klenteng Hoo Hok Bio, kawasan Pecinan Semarang, terlihat sepi. Beberapa perempuan paruh baya sedang melepas penat di depan klenteng. 

Hanya berada selemparan batu dari klenteng tersebut, dua pria sibuk melipat kertas-kertas di dalam rumah. Kertas itu lalu dilem dan dibentuk menjadi aneka ragam kerajinan. 

Sementara seorang pria lainnya merangkai bambu untuk dijadikan rangka. "Pak Ongnya ada?," sapa IDN Times saat menengok ke dalam rumah yang terletak di Gang Cilik 4 tersebut, Rabu (2/12/2020). 

Tak lama, yang dicari pun muncul dari balik daun pintu. Ong Bing Hok, nama lengkap pria tersebut berkata sepanjang hari dirinya sedang sibuk mengerjakan pesanan rumah arwah.

1. Pembuatan rumah arwah sudah ditekuni sejak ratusan tahun silam

Sebuah rumah-rumahan berukuran cukup besar menyesaki ruang tamunya. Tampak foto seorang pria terpampang diatas pintu rumah arwah tersebut.

Ong bilang rumah arwah itu pesanan dari pelanggannya untuk kebutuhan sembahyangan arwah leluhurnya. "Bahannya semuanya dari kertas. Mulai dindingnya, pintunya sampai para dewa dewinya. Harganya sekitar Rp6 juta," kata pria berusia 71 tahun tersebut. 

Pembuatan rumah arwah sudah ia tekuni sejak ratusan tahun silam. Ini adalah bisnis turun-temurun dari keluarganya yang berusaha menjaga tradisi budaya Tionghoa agar tidak tergerus perkembangan zaman. 

2. Ong Bing Hok generasi keempat perajin rumah arwah

Ong merupakan generasi keempat. Awalnya kakek buyutnya yang bernama Hong Bei yang mulai merintis usaha rumah arwah pada Abad ke-18 atau kisaran tahun 1800 silam. 

Di masa lampau, kakek buyutnya semula hijrah dari tanah kelahirannya di Hokkian, daratan Tiongkok. Yang dituju adalah Pulau Jawa. Setibanya di pesisir Kota Semarang, kakek buyutnya bersama rombongan orang-orang Hokkian lainnya memilih menetap di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Pecinan. 

Mereka ada yang mulai tekun berjualan di pasar, menggeluti usaha kerajinan batu, pembuatan rumah arwah, memproduksi alat-alat sembahyang hingga ada yang membuka klenteng untuk beribadah. 

"Dan kakek buyut saya yang pertama kali memulai usaha rumah arwah di Pecinan Samarang. Bahkan bisa dikatakan yang tertua di seluruh Indonesia. Karena kerajinan rumah arwah sudah dirintis sama dia dari tahun 1800. Sudah ratusan tahun kita pertahankan, kakek buyut generasi pertama, kakek saya generasi kedua, bapak saya generasi ketiga terus saya sekarang jadi generasi keempatnya," kata Ong. 

3. Bisnis kerajinan rumah arwah dilarang selama Orba. Keluarga Ong sempat terpuruk


Namun bukan perkara mudah untuk mempertahankan usaha warisan kakek buyutnya tersebut. Jatuh bangun sering ia alami. Terutama saat Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto melarang keras segala bentuk kebudayaan Tionghoa muncul di seluruh penjuru negeri. 

Praktis, masa-masa suram pun dialami Ong dan keluarganya selama Era Orde Baru. Jangankan untuk menjalankan usahanya, sekedar buat makan sehari-hari saja begitu susahnya.

"Soalnya waktu zamannya Pak Harto, semua klenteng gak boleh buat sembahyangan. Barongsai juga gak boleh tampil. Pokoknya yang berbau budaya-budaya China dilarang semuanya. Jadinya kita ya benar-benar drop. Akhirnya yang kita lakukan cuma bisa nerima pesanan secara sembunyi-sembunyi," akunya. 

4. Kerajinan rumah arwah mulai bangkit berkat Gus Dur. Harganya bisa mencapai puluhan juta

Ong pun lega tatkala Orde Baru tumbang pada medio 1998 silam. Ketika Pemerintahan Indonesia mulai berbenah khususnya di Era Kepemimpinan KH Abdurahman Wahid, ia melihat ada secercah harapan. 

Gus Dur seolah menjadi juru selamat bagi semua warga Tionghoa. Hatinya bungah ketika Gus Dur membuat gebrakan dengan mengizinkan ragam kebudayaan Tionghoa ditampilkan kembali. 

"Setelah Gus Dur berbaik hati mengizinkan tradisi Tionghoa ditampilkan lagi, baru habis itu usaha rumah arwah kembali bergerak lagi. Pelanggan-pelanggan datang ke rumah minta dibuatkan rumah arwah sesuai keinginan masing-masing," katanya. 

Ragam rupa rumah arwah sering ia buat. Dengan dibantu lima pegawainya, besar kecilnya rumah arwah yang ia buat disesuaikan dengan budget para pelanggannya. 

Jika pelanggannya berkantong cekak, ia biasanya membuatkan rumah arwah seharga Rp1 juta-Rp2 juta. Tapi bila yang memesan dari kalangan konglongmerat, ia bisa membuatkan rumah arwah seharga puluhan juta rupiah. 

"Malahan pernah saya dapat pesanan langsung dari Tiongkok. Mintanya dibuatkan rumah arwah dengan ukuran yang besar, sangat detail dan harganya sampai Rp30 juta. Saya sanggup membuatkan karena mereka tahu tempat saya sudah dikenal luas dan tertua di Indonesia,".

5. Keberadaan rumah arwah diyakini bisa memberikan kedamaian bagi leluhurnya


Rumah arwah yang rutin ia buat memiliki bentuk yang amat detail. Mulai gentengnya, dindingnya, pintu, teras rumah sampai perkakas meja kursi dan kasurnya dibuat sama persis dengan keinginan pelanggannya. Bahkan, dewa dewinya juga dibuat persis dengan aslinya. 

Orang-orang Tionghoa percaya keberadaan rumah arwah bisa mengantarkan kedamaian bagi para leluhurnya di alam baka. Sebagai penganut Khonghucu, Ong juga yakin arwah leluhur akan mencapai titik kebahagian dan ketenteraman jika dibuatkan sebuah rumah arwah. 

"Dalam kepercayaan agama kita, rumah arwah yang dibuat sama persis, kemudian disembahyangi dan dibakar memiliki harapan bahwa nanti leluhur kita di alam sana juga bahagia melihatnya. Akan muncul kebahagian, kedamaian buat dia sehingga arwahnya tenang disisi-Nya," ujarnya. 

6. Ong: Kerajinan rumah arwah tak akan punah

Ia mengatakan setiap minggu ia bisa mengerjakan lima sampai enam rumah arwah. Pesanan datang dari berbagai daerah. Mulai lokal Semarang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya hingga luar Jawa. 

"Tapi pas pandemik COVID-19 agak sepi. Pesanan gak sebanyak dulu," ungkapnya. Kini tantangan yang ia hadapi terbilang berat. Pasalnya, dengan kemajuan teknologi yang pesat, tak banyak orang yang mau menjaga kelestarian usaha rumah arwah. 

Saat ini harapannya tinggal bertumpu pada seorang anaknya agar mau meneruskan pembuatan rumah arwah. "Cuma saya yakin kerajinan rumah arwah gak akan punah. Ini akan tetap ada walaupun disisi lain saya akui sekarang gak banyak orang ke klenteng. Tapi minimal orang Tionghoa masih butuh rumah arwah untuk mengantarkan kebahagiaan buat para leluhurnya," jelasnya. 


Sumber : idntimes.com

No comments

Powered by Blogger.