Sunan Kalijaga (4): Dari Pakaian Takwa Sampai Suluk Linglung


SUNAN Kalijaga dikenal sangat mengakomodir kearifan Jawa dan berakulturasi budaya Jawa. Beliau mengakulturasikan antara budaya Jawa dengan agama Islam. Berbagai upacara yang dilakukan masyarakat Jawa tetap dipertahankan. Masyarakat Jawa yang sangat kental dengan budayanya tidak merasakan hal yang begitu jauh dengan apa yang telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga.

Ahmad Chodjim, dalam bukunya berjudul "Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat" menyebut Sunan dikenal dengan orang yang menciptakan pakaian takwa, tembang-tembang Jawa, seni Maulud Nabi yang lebih dikenal dengan sebutan “Grebeg Maulud”, upacara sekaten (syahadātain, pengucapan dua kalimat syahadat) yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang-orang Jawa masuk Islam.

Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa. Doa-doa yang telah dibuat oleh Sunan Kalijaga berupa “kidung atau mantra” dan yang paling terkenal adalah “kidung rumeksa wengi”.

Menurut Ahmad Chodjim, kidung Sunan Kalijaga dikenal sebagai “Mantra Wedha”, doa penyembuhan. Berguna untuk penyembuhan dan perlindungan diri. Kidung di sini diucapkan dengan keyakinan yang tinggi dan nantinya akan memiliki kekuatan ghaib.

Penyusunan doa-doa inilah yang menyebabkan Sunan Kalijaga diterima dengan baik oleh para masyarakat Jawa. Kala itu, kondisi masyarakat Jawa kurang baik. Banyak penyakit dan hama merajalela sehingga masyarakat membutuhkan pertolongan. Dengan perantara doa yang dibuat oleh Sunan Kalijaga ini menyebabkan masyarakat semakin akrab, dan kemudian doa (mantra) yang diberikan dari Sunan Kalijaga diamalkan dengan baik oleh masyarakat.

Banyak kalangan yang menyebut, Sunan Kalijaga merupakan sosok yang sangat pantas jika dikaitkan dengan Kejawen, karena beliau adalah seorang yang mudah berakulturasi. Islam yang terasa asing bagi orang Jawa digubah nuansanya menjadi agama yang bisa diterima di Jawa.

Keselamatan yang pertama kali ditawarkan oleh Sunan Kalijaga kepada orang Jawa adalah keselamatan lahiriah. Ini merupakan keselamatan yang riil atau keselamatan yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang yang memeluk dan menganutnya. Berdoanya seseorang diharapkan dapat melindungi dirinya dari berbagai gangguan.

Sri Rejeki dalam papernya berjudul "Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga" menulis Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan cara pendekatan kultural, sehingga mendapat simpati dan empati dari kalangan yang sangat luas.

Pelan-pelan kelompok syariat kultural yang diwariskan Sunan Kalijaga ini membangun basis gerakan di relung–relung pedesaan dan pegunungan. Komunitas Islam Kejawen merupakan sebuah kelompok sosial yang berusaha melaksanakan ajaran agama lebih independen, terbuka dan toleran.

Sunan Kalijaga memiliki ciri khas yang sangat unik, itu tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat kuat di dalam pencarian ilmu. Sunan Bonang yang mengajarkan ilmu tentang kasampurnaan yang telah lama dicari oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga dengan kegigihannya mampu mewarisi ilmu yang telah diajarkan dari Sunan Bonang, kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan pengembaraanya dengan berguru kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Dia juga berguru ke Pasai dan berdakwah di wilayah Semenanjung Malaya hingga wilayah Patani di Thailand Selatan. Menurut Ahmad Chodjim setelah beberapa tahun berguru di Pasai dan berdakwah di wilayah Patani, Sunan Kalijaga kembali ke Jawa.

Suluk Linglung
Sri Rejeki mengatakan Sunan Kalijaga banyak meninggalkan karya sastra yang mengandung ajaran akidah -akhlak, tasawuf , pendidikan, psikoterapi dan sebagainya dalam beberapa serat maupun suluk.

Kandungan dari serat-serat dan suluk-suluk tersebut memiliki tingkat prioritas yang unik dan membedakan antara satu sama lain.

Karya Sunan Kalijaga yang berbentuk suluk adalah tentang Suluk Linglung , menjelaskan tentang salah satu pencapain Sunan Kalijaga yang paling tinggi, perjalanan spiritual Sunan Kalijaga terjelaskan di dalam karya ini.

Suluk Linglung adalah suatu karya sastra yang diabadikan sebagai salah satu ungkapan sejarah tentang Sunan Kalijaga. Berisi tentang cerita dan kisah Sunan Kalijaga ketika menjadi berandal dan kemudian bertemu dengan Sunan Bonang dan akhirnya berguru dengan guru sejati yaitu Nabi Khidir .

Perjalanan kisah pencarian iman hidayat dan hidayatullah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga merupakan suatu kisah yang menimbulkan detak kagum bagi seseorang. Sunan Kalijaga yang menjadi berandal dapat takluk di tangan Sunan Bonang menjadi seorang wali.

Suluk Linglung telah mencerminkan sikap kāffahnya Sunan Kalijaga terhadap ajaran Islam, yang tidak lagi menentang syari‟at Islam seperti pada masa mudanya.

Dijelaskan di dalam Suluk Linglung bahwa yang ingin dicapai oleh Sunan Kalijaga adalah iman hidayat. Dijelaskan tentang takwa bahwa kondisi puncak yang ingin dicapai oleh umat Islam. Semua tuntunan ibadah di dalam Islam ditujukan untuk memperoleh derajat takwa. Pengertian takwa lebih jelas dibandingkan dengan iman hidayat, demikian pula tuntunan untuk mencapainya.

Beberapa ilmu telah diajarkan oleh Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga tentang iman hidayat kemudian sampai selesai dan jelas di jelaskan dari rincinya. Nabi Khidir mengatakan bahwa apa yang menjadi pertanyaan Sunan Kalijaga selama ini sudah terjawab, Sunan Kalijaga pulang ke Jawa setelah selesai mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir.

Suluk Linglung yang menjelaskan bahwa Tuhan adalah dzat yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tuhan dibahasakan dengan Allah, Hyang Widhi, Gusti Kang Murbeng Dumadi, hal ini membuktikan bahwa Sunan Kalijaga memiliki konsep Monoteisme yang luas.


Ridin Shofwan dalam karya tulisannya berjudul "Wejangan Nabi Khidzir Kepada Sunan Kalijaga (Kajian Mistik Dalam Suluk Seh Malaya)" menyebut di dalam Suluk Linglung karya Sunan Kalijaga, corak Monoteisme terjelaskan dengan pesan tersirat dan tersurat di dalam karya teks ini. Penjelasan yang tergambarkan di dalam karya Suluk Linglung ini menjelaskan dengan baik, bahwa Sunan Kalijaga memiliki sebuah konsep monoteisme yang cukup unik dan terjelaskan dengan sempurna.

Gambaran tentang konsep Tuhan di Jawa, seperti dengan ungkapan yang menyatakan bahwa Tuhan itu “Adoh Tanpa Wagenan, Cedak Tanpa Senggolan”, (Ia jauh tak terhingga tetapi, Ia dekat namun tak tersentuh). Dengan kata lain Tuhan merupakan Dzat yang Transenden, yang mutlak, jauh tak tersentuh oleh pikiran ataupun penglihatan jasmani.

Tuhan juga merupakan Dzat yang Immanen mengejewantah dalam ciptaanya, termasuk dalam diri manusia.

Sumber : sindonews.com

No comments

Powered by Blogger.