Tips Cegah Korsleting Listrik saat Libur Nataru

Listrik (Ilustrasi: Shutterstock)

Memasuki libur natal dan tahun baru, potensi terjadinya konsleting bisa saja terjadi. Apalagi jika rumah yang ditempati ini ditinggal oleh penghuninya dalam waktu yang cukup lama.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B Pangaribuan, mengatakan, menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap bahaya yang bisa ditimbulkan oleh listrik apabila tidak digunakan sebagaimana mestinya. Sementara jika digunakan dengan benar, listrik akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

"Kesetrum dan kebakaran termasuk risiko apabila kemudian ditemukan pemakaian tidak tertib atau tidak sesuai peruntukan. Ini beberapa tips ada do and don’t apa yang boleh dan tidak dilakukan," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (25/12/2020).

Doddy memberikan tips bagaimana terhindar dari bahaya listrik agar terhindar dari bahaya. Pertama adalah para pelanggan diminta untuk menggunakan listrik sesuai daya tersambung di rumah.

Apabila Mini Circuit Breaker (MCB) pada kWh meter PLN sering turun karena kurang daya, segeralah untuk menambah daya listrik agar alat elektronik juga tidak cepat rusak akibat sering mati tiba-tiba karena MCB sering turun.

Kemudian yang kedua, pelanggan juga diminta untuk tidak mengganti MCB sendiri dengan tujuan memperbesar daya listrik yang masuk ke rumah. Karena menurutnya, hal tersebut bisa berbahaya baik bagi lingkungan maupun rumah itu sendiri.

Arus listrik besar dan tidak diimbangi dengan kabel yang sesuai bisa menyebabkan kabel panas, berujung pada korsleting listrik sampai kebakaran.

Kemudian pelanggan juga diminta untuk tidak mengambil listrik langsung dari tiang listrik karena arus listrik yang masuk ke rumah menjadi tidak terukur dan bisa berakhir pada kebakaran seperti mengganti MCB sendiri. Selain itu masyarakat juga dirugikan karena tegangan listrik di sekitar bisa saja menjadi drop.

Menurut Doddy, pihaknya sudah mengatur dan membagi listrik suatu gardu listrik sesuai dengan daya yang terdaftar di PLN pada suatu daerah. Apabila ada penggunaan listrik yang tidak terdaftar dan tidak terukur maka akan mempengaruhi juga tegangan listrik yang ada di daerah tersebut.

“Bayangkan kalau pelanggan-pelanggan kami melakukan hal ini apalagi tidak dilakukan ahlinya risiko kesetrum sangat tinggi,” kata Doddy

Lalu, pelanggan juga diminta untuk menggunakan alat elektronik atau jaringan listrik yang sudah Standar Nasional Indonesia (SNI) karena sudah melalui uji kelayakan. Selain itu, masyarakat juga harus memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO) untuk instalasi listrik di rumahnya sebagai tanda bahwa instalasi listrik sesuai dengan standar.

Lalu yang terakhir, pelanggan juga dilarang membuka segel pelindung di MCB. Sebab, MCB merupakan aset PLN sehingga pelanggan juga wajib merawatnya. MCB tidak boleh dilepas segelnya, dirusak maupun dipindahkan.

“Kalau itu terbuka apakah terjadi kelalaian atau tidak sesuai dengan aturan bahwa merusak atau membuka segel tanpa izin ini adalah masuk ke dalam pelanggaran sehingga bisa dikenakan denda berupa tagihan susulan. Perhitungannya sudah ditetapkan Menteri ESDM,” kata Doddy



Sumber :  okezone.com

No comments

Powered by Blogger.