UI Dorong Pengembangan Kota Tua sebagai Destinasi Warisan Budaya

https: img.okezone.com content 2020 12 29 406 2335476 ui-dorong-pengembangan-kota-tua-sebagai-destinasi-warisan-budaya-ka7uY43jxS.JPG

KOTA TUA merupaan salah satu wisata unggulan legendaris di Jakarta. Ya, objek wisata sejarah berbasis warisan budaya itu dulunya merupakan wilayah perkotaan era penjajahan kolonial Belanda.

Kawasan Kota Tua sudah seharusnya menjadi destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara dan memiliki keunikan sehingga dapat berkompetisi dalam skala global.

Asal tahu saja, kawasan Kota Tua memiliki lima zona, yaitu kawasan Sunda Kelapa, Fatahillah, Pecinan, Pekojan, dan kawasan peremajaan yang masing-masing sangat unik dan berbeda karakteristiknya.

Saat ini, baru zona kawasan Fatahillah dan peremajaan yang banyak disentuh dan menjadi pusat pengembangan oleh para pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, akademisi, dan bisnis.

Sedangkan zona lainnya belum optimal dikembangkan. Sehingga perlu dilakukan pengembangan produk dan paket wisata yang mengintegrasikan berbagai zona tersebut agar dapat menjadi paket wisata inovatif yang menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan.

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan revitalisasi, yaitu pembangunan penataan ulang kota tua, sehingga menjadi kawasan wisata wilayah perkotaan tempo dulu (sejarah). Pengembangan kawasan wisata Kota Tua diperlukan peran serta dari para komunitas yang dapat menjadi daya tarik wisata, salah satunya di Museum Fatahillah.

Kota Tua

Terdapat banyak komunitas di sana, di antaranya Paguyuban Sepeda Onthel, Manusia Patung, Seni Karakter Kota Tua, dan komunitas lainnya yang terkait dengan bidang musik dan seni.

Hal tersebut mendorong Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia (DRPM UI) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) di kawasan Kota Tua. Kegiatan ini diketuai oleh Dosen UI Rahmi Setiawati bersama Tim Dosen dari Prodi Pariwisata dan Kesehatan melalui Program IPTEKS bagi Masyarakat bertema 'Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat, Melalui Pembangunan Komunitas Sebagai Pendukung Daya Tarik Wisata di Wilayah Perkotaan'.

Rahmi mengatakan, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran dan komunikasi dengan komunitas dalam menciptakan peningkatan ekonomi bagi kesejahteraan komunitas sekitar Kota Tua.

Menurut Rahmi, kegiatan ini perlu dilakukan karena masa pandemi Covid-19 sangat memengaruhi kondisi komunitas di lingkungan Museum Fattahilah. Di mana mereka tak lagi bisa nafkah di sekitar lingkungan Museum Fattahilah.

Alhasil, sebagian dari anggota komunitas, yang tidak bisa bertahan hidup di Ibu Kota, memilih kembali ke daerah asalnya. Bahkan untuk bertahan ada dari mereka yang menjual properti yang biasa digunakan untuk pertunjukan saat ada atraksi maupun aktivitas event.

"Dengan demikian akan membangun jaringan komunikasi antarkomunitas dan hasil karya produk ke depan dapat menghasilkan keuntungan bagi komunitas," tuturnya, Selasa (29/12/2020).

Adapun dari aspek SDM, melalui kegiatan pengmas, para komunitas kata dia, akan diberikan pendidikan melalui pelatihan bahasa inggris, pelayanan prima dan kewirausahaan, membuat paket wisata warisan budaya, serta memandu wisata dan memasarkannya kepada pasar sasaran yang tepat, baik secara virtual maupun secara langsung.

"Kegiatan pengabdian masyarakat komunitas dengan menggunakan community development, maka akan terciptanya kapasitas sumber daya manusia, dalam hal ini komunitas dengan mengoptimalkan potensi SDM yang menghasilkan kreativitas dan produk unggulan sebagai daya tarik wisata, sehingga dapat meningkatkan perekonomian," tuturnya.

Ia menambahkan, kegitan ini diharapkan tetap berkelanjutan, karena peran lembaga pendidikan sebagai penggerak dalam membentuk community development melalui instrumen pendampingan, sangat penting dalam meningkatkan kapasitas komunitas dengan cara membangun kesadaran komunitas (aware) yang mampu mengubah pola prilaku dalam menerapkan turut serta membangun pariwisata yang berkelanjutan (sustainable).

Hal ini lanjut Rahmi, juga sejalan dengan penguatan komunitas di Kota Tua, sebagai daya tarik wisata sejarah untuk wilayah perkotaan tempo dulu (sejarah) melalui digital dapat terwujud.

"Penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat ini sangat penting karena komunitas di kawasan Kota Tua disiapkan untuk mengembangkan produk yang kreatif dan inovatif, mendorong kolaborasi antar zona serta melibatkan pasar potensial yang diwakili oleh para pelaku usaha pariwisata sebagai business customers (buyers) dan pengunjung kawasan Kota Tua sebagai end consumer," papar dia.

Ia mengaku optimistis sebuah sistem yang saling memberikan manfaat bagi para pelaku usaha pariwisata, pengelola dan komunitas akan terbangun dan saling bersinergi membangun pariwisata berkelanjutan secara selaras dan dinamis.

Sumber : okezone

No comments

Powered by Blogger.