Cerpen: Masih Sama


Cerpen Karangan: Ananda E.K
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 October 2020

Awal mula, aku kenal dengan seorang cowok dari sosial media. Seorang yang menurutku beda dari yang lain karena sifatnya yang dingin dan kalem.

Waktu itu, dia mengirimkan pesan lewat facebook atau biasa disebut dengan istilah chat. Pesan itu berisikan “17 17 17 17” dan terus mengirimkan angka 17 tersebut. lalu aku membalas pesannya “hahaha emangnya kenapa kak tanggal 17?” Kebetulan aku dan dia beda dua tahun jadi aku memanggilnya kakak. lalu dia kembali membalas “17 17 17 17” “llah, kan tanggal 17 itu tanggal angker dimana siswa bakal masuk sekolah lagi setelah libur yang mayan lama”. Aku kembali tertawa sambil berkata dalam hati “ada ada aja nih cowok”

Tak lama, selain sekedar basa basi, dia mulai terbuka padaku, menceritakan segala sesuatu hal yang ada padanya. Mulai dari dia menceritakan masa kecilnya dimana waktu dia berada di kapal sambil melihat bintang lalu berharap bintang itu dapat dia raih tanpa mengira bahwa keberadaannya sangat sulit untuk dicapai sampai pada saat detik detik dimana hubungan kita mulai rennggang tanpa sebab, seolah olah seperti dua orang yang asing.

Waktu terus berlalu, chat yang biasanya lancar 24jam, kini bahkan tak ada satu kalimat pun yang terlintas di layar hpku. Dalam hatiku sedikit ada perasaan sedih entah datangnya dari sebuah rasa sayang dan nyaman yang mulai tumbuh perlahan atau hanya sekedar kebiasaan yang hilang. Dan, rasa rindupun mulai ada disaat waktu yang tidak tepat untukku. Bagiku, memendam rasa rindu sangat tidak biasa kulakukan. Aku orangnya yang kalau sedang rindu harus cepat cepat kuungkapkan sebelum rasa rindu semakin besar.

Tanpa rasa gengsi, aku mengirimkannya sebuah pesan yang berisikan suatu kalimat sederhana “abang, adek kangen”. Tidak lama setelah pesan itu terkirim dia melihatnya dan membalasnya “ohh kangen” lalu aku membalasnya “iya hehe, maaf yah adek terlalu jujur, tau kok kita emang gada hubungan apapun wkwkwk” diapun membalas “iya, kakak suka orang yang jujur”. Perasaanku agak lega setelah mengirimkannya pesan walau responnya tidak sesuai harapanku.

Hari demi hari selalu kusisihkan waktu menunggu sebuah pesan darinya. Menunggu dia seperti waktu pada awalan kita kenal, asyik. Ingin rasanya selalu mengetahui apa yang dia lakukan, bagaimana kabarnya, bagaimana dia melewati hariya tanpaku. Tak seperti aku, merasa ada yang kurang tanpanya. Sedikit terlintas di pikiranku tentang perasaannya yang mulai berubah tanpa aku sadari. Menurutku, dia sudah tidak ingin diganggu, sudah tidak ingin dikejar, sudah tidak ingin diperjuangkan olehku. Semuanya terasa sia sia bagiku. Usahaku, tak pernah dia hargai.

Sebulan berlalu, kukumpulkan keberanianku untuk memulai sebuah perckapan yang singkat, padat, namun jelas. Dengan sedikit cemas, aku mulai menggerakkan jariku untuk mengetik. Pesan ku “kak” “please bales”.
Tak lama dia membalas “oe, kenapa” lalu aku menjawab “mau ngomong serius” “ngomong paan?” balasnya. Akupun menjawab “masalah perasaan kakak, waktu kakak ngungkapin ke adek.” “peraaan apa yah, ga ngerti kaka” lanjutnya. Di sini seolah olah dia pura pura tak mengerti. Lalu kujawablah kembali “itu loh, waktu kakak ngungkapin perasaan ke adek. Itu gimana, udah ilang?” dia membalas “emm gimana yah” dengan perasaan tidak enak dan sudah dapat kutebak bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi, kujawablah dia “jujur aja kak, gpp. Jangan nyiksa adek terus”. “yaudah, tanpa basa basi, kakak udah gada rasa sama adek” katanya.

Sejenak aku tersenyum lalu meneteslah air mataku dengan perasaan kecewa yang cukup besar sambil berfikir bahwa aku telah menyayangi orang yang salah.

Sekitar 17 menit berlalu barulah aku membalas pesannya “oh gitu yah, wah adek ga nyangka. Gpp deh wkwkw” “makasih loh” lalu dengan cepat dia membalas “maafin kakak” dan kubalas “iya, kalem aja”. Dan di sinilah akhir dari segalanya. Namun, peraanku tetap saja seperti dulu, walaupun sudah ada keputusan darinya yang menyakiti hatiku. Perasaaknku tetap sama, tetap sayang dan akan terus kuperjuangkan dia sampai dimana nanti aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan dan menunggunya kembali, Setiap doa malamku selalu kuselipkan namanya, meminta agar dia selalu bahagia, selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.



Sumber : cerpenmu.com

No comments

Powered by Blogger.