China Lockdown, Harga Minyak Dunia Tergelincir

Harga minyak dunia tergelincir lebih dari dua persen pada perdagangan akhir pekan kemarin karena kekhawatiran pasar terkait lockdown di beberapa kota di China.
Harga minyak dunia tergelincir lebih dari dua persen pada perdagangan akhir pekan kemarin karena kekhawatiran pasar terkait lockdown di beberapa kota di China. Ilustrasi kilang minyak. (AFP/Ian Timberlake).


 

Harga minyak mentah dunia tergelincir lebih dari dua persen pada perdagangan Jumat (15/1). Penurunan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terkait penguncian wilayah (lockdown) kota-kota di China karena gelombang kedua corona (covid-19).

Mengutip Antara, Senin (18/1) pasar khawatir kebijakan lockdown menghentikan permintaan impor kuat minyak mentah dari China yang merupakan konsumen terbesar dunia.

Imbasnya, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret anjlok US$1,32 atau 2,3 persen menjadi US$55,10 per barel.

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari turun US$1,21 atau 2,3 persen menjadi US$52,36 per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut membukukan penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. Tercatat, Brent melorot 1,6 persen pekan ini dan minyak mentah AS melemah sekitar 0,4 persen.

Produsen minyak menghadapi tantangan luar biasa untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Di satu sisi, sejumlah negara sudah mulai melakukan vaksinasi covid-19, tetapi di lain pihak kasus covid-19 terus bertambah, sehingga terjadi lockdown di sejumlah wilayah.

China sendiri melaporkan jumlah kasus harian covid-19 tertinggi dalam lebih dari 10 bulan pada Jumat (15/1) lalu. Akibatnya, Negeri Tirai Bambu itu memberlakukan pembatasan yang mengakibatkan lebih dari 28 juta orang diisolasi.

"Penyebaran pandemi covid-19 menjadi pusat perhatian lagi. Pedagang semakin khawatir tentang durasi penguncian wilayah Eropa yang lama dan tentang pembatasan baru di China," kata analis dari Rystad Energy Bjornar Tonnage.

Sementara itu, presiden terpilih AS Joe Biden telah mengumumkan paket bantuan stimulus senilai hampir US$2 triliun.

Pasar berharap stimulus jumbo itu dapat meningkatkan permintaan minyak dari AS. Namun, beberapa analis mengatakan langkah tersebut mungkin tidak cukup untuk memicu permintaan.

"Berbicara tentang permintaan, Asia adalah satu-satunya titik terang," kata mitra di Again Capital Management di New York John Kilduff.

Ia menyoroti lockdown yang terjadi lantaran China merupakan 'jantung' permintaan minyak di Asia.

Diketahui, impor minyak mentah ke China melonjak 7,3 persen pada 2020 karena permintaan mulai pulih pada akhir tahun seiring meredanya kasus covid-19 di China.

Namun, gelombang dua covid-19 di China memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap permintaan minyak mentah.

"Penguncian baru ini sangat mencolok di jantung permintaan Asia. Ini masalah," imbuhnya.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.