Gua Wanling China Diduga Asal Corona, Dijaga dan Ditutupi

Gua Wanling diduga tempat asal virus corona. (AP/Ng Han Guan)


Jakarta, Jauh di dalam lembah pegunungan subur di China selatan, terdapat pintu masuk ke gua Wanling. Gua itu pernah dihuni kelelawar yang dipercaya sebagai perantara virus corona.

Kawasan ini menjadi perhatian ilmiah karena mungkin menyimpan petunjuk mengenai asal-usul virus yang telah menewaskan lebih dari 1,7 juta orang di seluruh dunia. Namun bagi ilmuwan dan jurnalis, akses menuju ke sana terbilang sulit karena sensitivitas dan dirahasiakan secara politik.

Baru-baru ini, sebuah tim peneliti kelelawar berhasil mengambil sampel dari gua tersebut, tapi sampel itu kemudian disita oleh pemerintah setempat.

Selain itu, spesialis virus corona juga diperintahkan untuk tidak berbicara kepada pers. Bahkan, pada November lalu, tim jurnalis dari Associated Press dibuntuti oleh polisi berpakaian preman, mereka memblokir akses ke jalan dan menuju situs itu.

Lebih dari setahun sejak orang pertama diketahui terinfeksi Covid-19, penyelidikan Associated Press menunjukkan bahwa pemerintah China mengendalikan secara ketat semua penelitian tentang asal-usulnya.

Menurut dokumen internal yang diperoleh Associated Press, pemerintah China memberikan hibah ratusan ribu dolar kepada para ilmuwan yang meneliti asal-usul virus di China selatan dan berafiliasi dengan militer. Pemerintah kemudian memantau temuan mereka.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengamanatkan bahwa publikasi data atau penelitian apa pun harus disetujui oleh gugus tugas baru yang dikelola oleh kabinet China. Semua tindakan tersebut berada di bawah perintah langsung dari Presiden Xi Jinping.

Associated Press pada Kamis (31/12/2020) melaporkan puluhan dokumen internal itu bocor dari dalam pemerintahan. Dari situ, terkonfirmasi argumen yang sejak lama dicurigai banyak orang bahwa penertiban penyelidikan asal-usul Covid-19 datang dari atas atau penguasa.


Akibatnya, sangat sedikit informasi yang dipublikasikan. Pihak berwenang sangat membatasi informasi dan menghalangi kerja sama dengan ilmuwan internasional.

"Apa yang mereka temukan? Mungkin datanya tidak konklusif, atau mungkin mereka menyembunyikan data karena alasan politik. Saya tidak tahu. Saya harap saya tahu," kata Ahli Epidemiologi Duke University, Gregory Gray, yang mengawasi laboratorium di China yang mempelajari penularan penyakit menular dari hewan ke manusia.

Investigasi Associated Press berasal dari lusinan wawancara dengan ilmuwan dan pejabat China serta asing, notifikasi publik, surel yang bocor, data internal, dan dokumen dari kabinet China dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China.

Investigasi itu mengungkapkan pola kerahasiaan pemerintah dan kontrol dari atas ke bawah yang telah terbukti selama pandemi.

"Mereka (pemerintah China) hanya memilih orang yang dapat mereka percayai, mereka yang dapat mereka kontrol," kata seorang ahli kesehatan masyarakat yang bekerja secara teratur dengan CDC China, yang menolak menyebutkan nama.

"Tim militer dan lainnya sedang bekerja keras dalam hal ini. Tapi apakah itu akan dipublikasikan, semua tergantung pada hasilnya," kata dia.

Sementara itu, Kementerian Sains dan Teknologi China beserta Komisi Kesehatan Nasional yang mengelola penelitian tentang asal-usul Covid-19 tidak menanggapi permintaan komentar.

Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.