Hidup dalam Gempa dan Pandemi di Sudut Minimalis Tokyo

Hidup nyaman di Tokyo harus
Suasana sepi di Tokyo, Jepang, selama pandemi virus Corona. (AP/Yu Nakajima)

Kabar duka terdengar dari Indonesia di awal tahun ini. Setelah kecelakaan Sriwijaya Air SJ182, lalu bencana gempa bumi mengguncang Sulawesi Barat.


Bagi saya yang kini bermukim di Tokyo, Jepang, gempa bumi tidak terasa asing. Mengutip tulisan di LiveScience, sebanyak 1.500 gempa bumi mengguncang Jepang setiap tahunnya, dengan sebagian besar berkekuatan kecil.

Alhamdulillah, saya hanya merasakan gempa berkekuatan kecil sehingga tidak sampai membuat perasaan takut. Bila gempa bumi yang terjadi cukup besar dan dirasa berbahaya, maka ada notifikasi alarm dari masing-masing provider telekomunikasi ke telepon genggam seluruh penduduk di area yang terkena dampak gempa tersebut.

Beberapa kali kejadian gempa bumi cukup besar terjadi saat saya sedang berada di kereta. Seluruh telepon genggam penumpang berbunyi bersamaan, dengan muka cukup tegang kami semua mematikan alarm tersebut dan saling berpandangan.


Meski demikian, penduduk Jepang telah diberi pelatihan untuk menghadapi gempa bumi, bahkan sejak kecil. Tetap tenang adalah kuncinya. Kalau gempa dirasa cukup besar, biasanya langsung menunduk sembari menutupi kepala dan bersembunyi di bawah meja, lalu akan diinstruksikan untuk keluar bangunan.


Rumah minimalis

Saya dan keluarga meninggalkan Surabaya untuk tinggal di Tokyo sejak 2011, tepatnya setelah dua tahun menyelesaikan S1 di jurusan teknik elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Sesampainya di Jepang saya menjalani sekolah bahasa Jepang terlebih dahulu selama 9 bulan. Setelah itu research student (kuliah tanpa SKS) dari 2012 - 2013, kemudian 2013 - 2015 menjalani master, dan 2016 - sekarang sedang menempuh program S3.Saya bersyukur karena mendapatkan beasiswa LPDP untuk program studi master dan doktoral saya.

Saya kuliah di Tokyo University of Technology dengan bidang riset computer graphics, lebih tepatnya di non photorealistic rendering.

Kehidupan Jepang cukup akrab dalam benak saya yang merupakan penggemar komik. Jadi sewaktu pertama kali tiba di Jepang, saya serasa melihat apa yang saya lihat di komik, mulai dari suasana kota hingga kebiasaan penduduknya.

Bukan cuma lingkungan yang serba bersih, penduduk Jepang juga patuh aturan, mulai dari menyeberang jalan sampai masuk kantor. Jika ada rapat jam 8 pagi, maka jam 8 kurang mereka sudah tiba di lokasi rapat dan tepat pukul 8 pagi rapat dimulai.

Sayangnya, tinggal di negara senyaman ini harus diganjar oleh biaya hidup yang mahal. Di Tokyo, harga tanahnya selangit, oleh karena itu banyak pemukiman di sini yang berukuran minimalis.

Menempati rumah minimalis menjadi tantangan sendiri selama pandemi virus Corona. Saya, istri, dan anak laki-laki saya yang berusia dua tahun harus berbagi ruang lebih sering setiap harinya, karena kegiatan tatap muka di sekolah dan kampus ditiadakan dan diganti sistem online.

Untuk mengakali kenyamanan rumah, saya dan istri sepakat untuk membersihkan rumah secara berkala dari barang-barang yang sudah tak terpakai. Setelah dibersihkan rumah terasa cukup lega.

Kalau sudah bosan di rumah, kami biasanya main ke taman. Senangnya tinggal di Jepang, ada banyak taman di setiap sudut kotanya. Wahana permainan untuk anak-anak juga terbilang cukup lengkap. Taman sudah pasti menjadi pelipur lara orang-orang yang rumahnya kecil.


Status pelajar dianggap tidak memiliki penghasilan (meskipun mendapatkan beasiswa), sehingga termasuk dalam golongan bebas pajak.

Selain itu pelajar juga mendapatkan keringanan dalam membayar asuransi kesehatan bulanan, dan beberapa tiket museum atau tempat bermain. Maka kaum pelajar, terutama yang merantau, harus banyak mencari informasi mengenai hal itu.

Cara berhemat saya yang pertama adalah dengan sering memasak sendiri di rumah, sehingga jarang makan di restoran. Selain bisa lebih hemat, makan di restoran di masa pandemi adalah hal yang cukup beresiko.

Biasanya saya dan istri ke supermarket di atas jam 9 malam untuk membeli bahan makanan segar yang sudah didiskon, seperti sushi dan ikan segar.

Kami juga sudah membandingkan harga di beberapa tempat, dan seringnya berbelanja di supermarket yang menawarkan harga cukup murah. Hampir setiap supermarket dan toko di Jepang menggunakan sistem member dan point card, dan hal ini cukup bermanfaat bagi pembeli yang rutin berbelanja.

Mencari makanan dan minuman halal di Jepang cukup mudah. Kami tinggal mencari yang berlogo halal atau membaca soal bahan bakunya. Jika tidak ada kandungan butaniku (babi) dan gelatin.

Cara berhemat yang kedua ialah dengan mengendarai sepeda. Tokyo memiliki kondisi udara yang sangat baik meskipun termasuk kota metropolitan. Akses jalur sepeda juga banyak tersedia di jalanan kota Tokyo.

Status darurat

Sebelum pandemi melanda, saya dan keluarga paling suka jalan-jalan ke area Harajuku dan Omotesando, karena banyak kafe dan tempat belanja. Tentu saja keramaianan di sana mendadak sepi selama pandemi.

Saya juga sering menghabiskan waktu di area Shinjuku, tepatnya di Kabukicho, yakni kawasan red light district terbesar di Jepang. Jangan salah, di tengah hingar bingar kehidupan malam di dalamnya, terdapat masjid Indonesia di sana, yakni Masjid Al-Ikhlas Kabukicho.

Kebetulan saya salah seorang pengurus masjid tersebut, dan merupakan tantangan tersendiri mengelola masjid di tengah kawasan yang kental akan hiburan malamnya.

Lucu bila saya mengingat beberapa kali terdapat tamu di bawah pengaruh alkohol salah masuk ke masjid kami sambil berteriak-teriak.

Terkadang kami melaksanakan yasinan sambil diiringi musik keras dari kelab malam di samping masjid.

Kegiatan penulis Surat dari Rantau, Muhammad Arief, selama di Tokyo, JepangPenulis saat menjadi saksi penduduk Jepang yang masuk Islam di Masjid Al-Ikhlas Kabukicho. (Arsip Pribadi)

Namun kini keramaian itu perlahan menghilang karena adanya pembatasan jam malam bagi tempat hiburan malam, karena disinyalir merupakan salah satu pusat penyebaran kasus Corona tertinggi.

Belum lama ini pemerintah Jepang memberlakukan status darurat karena meningkatnya kasus harian virus Corona khususnya di Tokyo dan beberapa kota sekitarnya.

Di bulan ini, angka kasus positif harian di Tokyo pernah menembus 2.447 orang dan 7.882 orang untuk seluruh Jepang.

Meningkatnya kasus harian ini kemungkinan adalah imbas dari program go-to travel (program diskon traveling) pada bulan Juli 2020 yang dicanangkan oleh pemerintah Jepang dalam upaya menggairahkan lagi pariwisata dalam negeri, diikuti dengan mobilisasi cukup besar saat liburan akhir tahun.

Protokol kesehatan bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Jepang yang memang sudah terbiasa dengan hidup bersih dan teratur. Budaya masker sudah ada dari dahulu di masyarakat Jepang bahkan sebelum pandemi. Hand sanitizer selalu tersedia di berbagai tempat.

Jika mereka merasa sakit maka mereka langsung memakai masker agar tetap pergi ke tempat sekolah atau kantor. Di masa pandemi ini saya melihat hampir 98 persen orang Jepang yang saya temui hampir pasti memakai masker. Hanya segelintir orang yang tidak memakai, itupun karena mereka berolahraga ataupun pekerja tempat hiburan malam.

Soal olimpiade juga menjadi "drama" tersendiri di sini. Menurut berita terakhir, mayoritas penduduk Jepang masih menolak untuk menggelar ajang olahraga empat tahunan tersebut, karena mereka masih belum yakin akan pandemi ini selesai atau tidak.

Hal ini berbanding terbalik dengan pemerintah yang bersikeras untuk mengadakan olimpiade, alasannya mungkin karena pemerintah Jepang telah mengeluarkan dana yangsangat besar untuk persiapannya.

Pemerintah Jepang juga menargetkan vaksin seluruh warga Jepang di bulan Juni 2021 karena akan dilaksanakannya olimpiade di bulan Juli 2021.

Persiapan merantau ke Jepang

Pembaca CNNIndonesia.com yang ingin merantau ke Jepang mulai bisa menyiapkan diri, dana, dan dokumen dari sekarang. Menurut saya negara ini sangat "Google-able" sehingga segala informasi untuk pendatang mudah dicari di internet.

Pelajari bahasa Jepang agar bisa lebih menggali informasi yang ada di sekitar lingkungan dan mengakrabkan diri dengan penduduk Jepang, karena mereka akan lebih menghargai apabila Anda bisa berbicara bahasa mereka.

Kami dari para awardee di Jepang telah membuat buku saku untuk memudahkan navigasi kehidupan di Jepang yang tautannya bisa dilihat di sini. Dan bagi yang ingin mencari informasi beasiswa, bisa melihat tautannya di sini.

Yang terakhir, taati peraturan yang ada karena penduduk Jepang itu sangat patuh terhadap peraturan yang ada.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.