Jejak Harimau Jawa di Gunung Wilis Tulungagung Bikin Warga Resah




     Sejumlah warga di sekitar kaki lereng Gunung Wilis wilayah Kecamatan Sendang, Tulungagung, Jawa Timur, mengaku sempat mendeteksi keberadaan satwa liar diduga harimau di pinggiran hutan kampung mereka.




Supriyono (38), salah satu warga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang mengaku sempat berjumpa dengan harimau di hutan Watugondok pada akhir November 2020, namun ia saat itu tidak berani melapor ke petugas ataupun aparat keamanan, Senin, 11 Januari 2021.

Namun, rupanya pengalaman mirisnya bertemu harimau yang disebutnya bertubuh besar dan berkulit loreng juga dialami beberapa warga lain. Mandhi (50) yang bermukim di Desa Nglurup dan Mbah Man (70) yang juga berasal dari Desa Nyawangan mengaku melihat satwa liar sejenis di titik lokasi berbeda.

"Kalau saya melihatnya dua ekor. Saat itu pagi sekitar pukul 06.00 WIB, mungkin lebih sedikit, saat saya berangkat melakukan aktivitas penyadapan di dalam hutan dan tidak sengaja melihat ada dua ekor harimau, satu besar dan satu kecil. Mungkin yang kecil ini anaknya," kata Supriyono menceritakan pengalamannya, dilansir dari Antara.

Dia melihat dari jauh, dan memilih segera kembali karena takut. Informasi yang diterima BKSDA Kediri, sedikitnya ada lima warga yang sempat berjumpa dengan satwa liar diduga harimau tersebut.

Namun, keterangan mengenai ciri binatang buas itu masih simpang siur. Ada yang menyebut dengan ciri kulit loreng warna kuning-hitam, ada yang menyebut warna cerah kombinasi totol-totol (tutul).

"Warga menyebut juga menemukan jejak kaki diduga harimau, tapi kondisinya saat kita periksa sudah rusak. Jadi sulit menentukan (memastikan)," kata Kepala Resort RKW BKSDA Blitar Joko Dwiyono ditemui di lokasi pemasangan camera trap atau kamera sensor gerak di kaki lereng Gunung Wilis, Desa Nyawangan.

Joko menginformasikan, berdasar laporan yang dia terima dari warga, keberadaan satwa liar diduga harimau di kaki lereng Gunung Wilis terakhir terdeteksi sekitar empat pekan lalu atau sekitar bulan Desember 2020.

Saat itu salah satu warga yang hendak melakukan aktivitas penyadapan di petak 88C Desa Nyawangan kembali berpapasan dengan seekor harimau berwarna kuning dengan motif loreng hitam-putih. Ciri ini dikenali sebagai Harimau Jawa yang sudah dinyatakan punah sejak 1970-an.

Saat itu jarak perjumpaan antara warga dengan harimau sekitar 7 meter, dengan ukuran harimau sebesar kambing betina dan ketinggian sekitar 80 centimeter, berjalan di jalanan setapak di tengah petak (jalan langsir getah).

Setelah perjumpaan itu, dalam beberapa hari kemudian dijumpai banyak bekas kaki yang mirip bekas kaki harimau terlihat di tanah petak tersebut.

Warga juga sempat menemukan usus binatang terburai di jembatan penyeberangan (atas sungai) antara petak 88c dan 87a masuk LMDH Argo Mulyo Desa Nglurup Kecamatan Sendang.

Dalam kurun dua-hingga tiga pekan ke ke belakang belum ada lagi dijumpai bekas kaki harimau di sekitar lokasi yang sama maupun sekitarnya.

"Di perkirakan habitat harimau tersebut berada d hutan lindung petak 85, 86 dan 88a," kata Joko.

Perjumpaan sejumlah warga dengan binatang buas diduga harimau itu tak pelak membuat warga sekitar kaki lereng Gunung Wilis di perbatasan kecamatan Sendang menjadi resah.

Terutama warga sekitar hutan dan selama ini beraktivitas di dalam hutan untuk menyadap maupun mencari rumput untuk pakan ternak. Mereka takut sewaktu-waktu bertemu lagi dengan binatang buas diduga harimau itu.

"Semoga tidak sampai ada serangan (harimau) kepada penduduk desa ataupun ternak di lingkungan kami. Jangan sampai, karena kami juga tidak pernah mengganggu habitat mereka (harimau)," kata Kepala Dusun Bantengan, Desa Nyawangan Sukadi.

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.