Kecelakaan RI Terburuk di Asia, Garuda Rutin Cek Pesawat

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan selalu melakukan pengecekan rutin armada agar memenuhi standar internasional.
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan selalu melakukan pengecekan rutin armada agar memenuhi standar internasional. (CNN Indonesia/Fajrian)

 

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan selalu melakukan pengecekan terhadap seluruh armada pesawat secara rutin. Pengecekan dilakukan agar seluruh armada memenuhi standar internasional yang telah ditetapkan.

Hal ini diungkapkan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra merespons data Aviation Safety Network yang menyebut Indonesia menjadi salah satu negara dengan rekor kecelakaan penerbangan sipil terburuk di Asia sejak 1946.

"Kami tentu pastikan bahwa seluruh proses kelayakan pesawat terpenuhi baik secara regulasi maupun standar-standar internasional yang ada," ucap Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/1).


Irfan menuturkan perusahaan selalu mengalokasikan dana khusus untuk pengecekan tersebut setiap tahun. Namun, ia tak menyebut detail berapa rata-rata biaya pengecekan per tahunnya.

"(Alokasi dana) iya dong, termasuk perbaikan-perbaikan yang diperlukan," ujar Irfan.

Namun, pengecekan ini akan berbeda tiap jenis pesawat. Misalnya, waktu dan mekanisme pengecekan antara pesawat Boeing dan Airbus tidak akan sama.

"Ada mekanismenya untuk setiap pesawat," imbuh Irfan.

Diketahui, kecelakaan pesawat milik Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu (9/1) lalu telah menambah daftar panjang insiden pesawat di Indonesia. Aviation Safety Network mencatat terdapat 104 kecelakaan penerbangan sipil di Indonesia sejak 1946.

Angka tersebut yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan penerbangan sipil terburuk di Asia. Mengutip AP, para ahli menyatakan regulasi penerbangan di Indonesia semakin ketat meski angka kecelakaan tetap tinggi.

Pada 2007-2016, AS sempat mengeluarkan larangan maskapai penerbangannya beroperasi di Indonesia karena dianggap memiliki masalah keselamatan, kurang memiliki tenaga teknis terampil, personel terlatih, prosedur pencatatan dan pemeriksaan penerbangan yang memadai. Larangan serupa diikuti oleh Uni Eropa pada 2007 hingga 2018.

Sebagai perbandingan dengan negara tetangga di Asia Tenggara, jumlah kecelakaan penerbangan di Indonesia tembus 153 kecelakaan sejak 1946 hingga 2020. Bahkan, Indonesia sempat berada dalam masa buruk ketika terjadi tujuh kecelakaan penerbangan pada 2009 dan enam insiden pada 1988.

Sementara, kecelakaan pesawat yang terjadi di Vietnam tercatat sebanyak 100 kecelakaan. Lalu, Filipina tercatat memiliki 100 kecelakaan fatal sejak 1946 hingga 2020.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.