Liga 1 2021 Makin Gelap

Nasib kompetisi sepak bola Indonesia makin gelap usai Liga 1 2020 resmi dibatalkan di masa pandemi Covid-19.
Liga 1 2020 terhenti pada Maret 2020. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

Nasib kompetisi sepak bola Indonesia makin gelap usai Liga 1 2020 resmi dibatalkan di masa pandemi Covid-19. Sebab, jadwal kick off musim 2021 juga bakal tak menentu.

Wabah virus corona memang berhasil meluluhlantakkan tatanan ekonomi dunia. Kas negara pun tersedot untuk membiayai pengobatan virus secara gratis ditambah kewajiban pengeluaran dana bantuan sosial untuk masyarakat.

Sementara itu, banyak perusahaan swasta juga terpaksa gulung tikar karena tak kuasa melawan imbas ketidaknormalan masa pandemi.

Kehadiran virus corona di awal 2020 juga berimbas ke ranah olahraga. Piala Eropa 2020 ditunda, Olimpiade 2020 di Tokyo juga terpaksa dimundurkan dari jadwal semula.

Kompetisi di seluruh dunia praktis terhenti sejak Maret 2020, termasuk di Indonesia. Ketua PSSI Mochamad Iriawan mengumumkan penundaan Liga 1 dan Liga 2 pada 14 Maret 2020.

"Kami tentukan minimal dua pekan kompetisi berhenti, baik Liga 1 maupun Liga 2, sembari menanti perkembangan terkini atas persebaran virus Corona," kata Iriawan di laman resmi PSSI.

Rencana penundaan selama dua pekan ternyata molor berkepanjangan. PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator tak punya kekuatan untuk melobi pemerintah.

Surat resmi dan pertemuan berkali-kali yang digelar PT LIB dengan kepolisian sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan izin keramaian selalu menemui jalan buntu.

Iriawan yang pernah menjabat Kapolda Metro Jaya juga tak punya taring. Usahanya hingga menemui Presiden Joko Widodo pun urung mendapat restu.

Padahal, liga-liga di Eropa bisa kembali berjalan di tengah pandemi. Bundesliga Jerman membuat terobosan dengan memulai kembali kompetisi pada 15 Mei 2020.

Liga Spanyol pun mengikuti dan mulai menggelar kembali kompetisi sejak 12 Juni 2020. Lima hari kemudian, Liga Inggris menyusul menggelar restart. Selanjutnya Liga Italia juga dilanjutkan.

Leverkusen's German midfielder Kai Havertz (C) scores the opening goal during the German first division Bundesliga football match Werder Bremen v Bayer 04 Leverkusen on May 18, 2020 in Bremen, northern Germany as the season resumed following a two-month absence due to the novel coronavirus COVID-19 pandemic. (Photo by Stuart FRANKLIN / POOL / AFP) / DFL REGULATIONS PROHIBIT ANY USE OF PHOTOGRAPHS AS IMAGE SEQUENCES AND/OR QUASI-VIDEO

Bundesliga jadi liga Eropa pertama yang lanjut di masa pandemi Covid-19 pada 2020.. Stuart FRANKLIN / POOL / AFP)

Terang saja liga-liga elite Eropa tersebut mampu menggelar kompetisi di masa pandemi. Mereka sudah mempelajari cara menggelar kompetisi dengan protokol kesehatan ketat tanpa penonton.

Klub secara profesional menjalani protokol kesehatan Covid-19. Swab tes jadi rutinitas yang dilakukan sepekan bahkan sehari sebelum pertandingan. Penonton juga tak ada yang membandel datang ke stadion.

Di liga-liga Eropa -yang memang selalu beberapa langkah lebih jauh dari Asia- sanggup menerapkan aturan-aturan baru sesuai dengan kondisi terkini.

Apalagi kerugian besar menanti jika mereka benar-benar menghentikan kompetisi. Perjanjian dengan pihak sponsor yang sudah jauh-jauh hari diteken bisa lenyap. Sementara gaji pemain dan pelatih membengkak.

Nasib kompetisi sepak bola Indonesia makin gelap usai Liga 1 2020 resmi dibatalkan di masa pandemi Covid-19.

Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Sementara di Indonesia, protokol kesehatan ketat diragukan bisa terlaksana. Belum lagi pihak sponsor juga terancam 'kabur' karena bisnis sepak bola Tanah Air masih belum menjanjikan.

Memang, sepak bola Indonesia punya basis penggemar luar biasa. Sebagian besar klub, tak terkecuali tim Liga 2 juga memiliki suporter fanatik masing-masing.

Namun, faktanya kompetisi sepak bola masih di pandang sebelah mata. Ini lumrah terjadi karena sepak bola Indonesia sulit dikelola secara profesional.

Namun, faktanya kompetisi sepak bola masih di pandang sebelah mata. Ini lumrah terjadi karena sepak bola Indonesia sulit dikelola secara profesional.

Buktinya, hingga saat ini kompetisi di Indonesia tak pernah mampu menetapkan jadwal kompetisi yang pasti. Selain itu, acap kali bentrok dengan jadwal Timnas Indonesia di ajang internasional. Belum lagi harus mengalah dari agenda politik Tanah Air.

Ketidakdewasaan suporter juga sering kali jadi batu sandungan untuk menggelar kompetisi sesuai jadwal. Buktinya, konflik antarsuporter hampir terjadi di setiap musim yang sering berimbas penundaan jadwal kick off.

Maka, tak heran jika pemerintah Indonesia tak berani mengizinkan Liga 1 2020 bergulir di saat angka penyebaran Covid-19 masih tinggi.

Selain penerapan aturan yang tak tegas dari pemerintah, masyarakat Indonesia juga masih banyak mengabaikan protokol kesehatan.

Pertimbangan itulah yang membuat Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tak berani memberikan izin keramaian Liga 1 2020 meski PT LIB dan PSSI sudah memelas berkali-kali.

PSSI dan PT LIB tak bisa menggaransi protokol kesehatan bisa diterapkan dengan baik. Selain itu, mereka juga tak bisa menjamin suporter tidak nekat hadir ke stadion.

Manajer Pelatih tim nasional Indonesia Shin Tae-yong (ketiga kiri) memberikan arahan pada pesepak bola sebelum menggelar latihan di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (7/8/2020). Sebanyak 24 pesepak bola senior mengikuti latihan perdana pada masa pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Program latihan Timnas Indonesia bersama Shin Tae Yong juga berantakan karena penundaan turnamen dan pertandingan. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj)

Pada 20 Januari 2021, PSSI pada akhirnya mengumumkan Liga 1 2020 batal setelah hanya menjalani tiga pertandingan. Padahal, Liga Malaysia 2020 bisa dilanjutkan pada Agustus 2020 kemudian sebulan kemudian Liga Thailand juga kembali digelar.

Kompetisi sepak bola Indonesia sebenarnya tak kalah dengan Malaysia dan Thailand. Bahkan beberapa pemain Indonesia direkrut klub-klub Thailand dan Malaysia.

Yanto Basna misalnya sudah dua tahun terakhir berkarier di Liga Thailand. Setelah sukses bersama Khon Kaen dan Sukhotai, kini pemain kelahiran Sorong itu pindah ke Prachuap.

Pesepak bola Indonesia U-19 Syahrian Abimanyu berebut bola dengan pesebak bola Uni Emirat Arab U-19 (putih) pada laga Grup A Piala Asia U-19 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (24/10). ( CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Syahrian Abimanyu resmi direkrut JDT. ( CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Kemudian Syahrian Abimanyu direkrut Johor Darul Takzim (JDT). Namun, eks gelandang Madura United tersebut berencana dipinjamkan ke klub Liga Australia Newcastle Jets.

Yang pasti, para pemain Indonesia bisa bersaing di klub-klub ASEAN. Namun, kompetisi Liga Indonesia masih belum bisa tertib administrasi seperti mereka.

Ketidakjelasan kompetisi Liga 1 bakal membuat pemain, pelatih, dan tim ofisial menjadi korban. Pendapatan mereka dipastikan merosot tajam bahkan tak lagi dibayar karena jadwal kompetisi tak jelas.

Momen ini bisa dijadikan ajang berbenah bagi PSSI dan PT LIB untuk membangun kepercayaan kepada pemerintah. Jika tidak, jadwal Liga 1 2021 akan semakin gelap sebab pemberian vaksin juga diprediksi baru bisa rampung pada akhir tahun ini.

Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.