Macron Tolak Minta Maaf Atas Penjajahan Prancis di Aljazair

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan tidak akan menyampaikan permintaan maaf atas kekejian saat menjajah Aljazair.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (AP/Olivier Hoslet)

 

Presiden PrancisEmmanuel Macron, menyatakan pemerintahannya tidak akan menyampaikan permintaan maaf atas kekejian yang terjadi saat mereka menjajah Aljazair.

Dilansir dari AFP, Jumat (22/1), melalui pernyataan yang diterbitkan oleh Kantor Kepresidenan Prancis di Istana Champ Elysses, Macron menyatakan Prancis tidak akan 'bertaubat atau meminta maaf' atas pertumpahan darah yang terjadi ketika mereka menjajah Aljazair.

Padahal pada 2017 silam, Macron menyatakan masa penjajahan Prancis di Aljazair selama 132 tahun adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Pernyataan itu dia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Aljazair.

Akan tetapi, pernyataan Macron itu menuai kritik dari kelompok sayap kanan.

Macron menyatakan pemerintah Prancis akan berupaya melakukan rekonsiliasi dengan membentuk komisi khusus.

Proses rekonsiliasi yang dimaksud Macron adalah berupaya mengembalikan jasad penduduk Aljazair yang dieksekusi dalam perang kemerdekaan, memulangkan benda-benda atau senjata milik pahlawan kemerdekaan Aljazair, pemugaran taman pemakaman tentara asal Aljazair yang tewas saat memerangi Nazi Jerman pada Perang Dunia II, serta mendirikan museum untuk mengenang jasa prajurit Aljazair terhadap Prancis.

Untuk mewujudkan rencana rekonsiliasi itu, Macron mengutus pakar sejarah Prancis, Benjamin Stora, untuk menelaah hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk memulai proses rekonsiliasi dengan Aljazair.

Presiden Aljazair, Abdelmajid Tebboune, juga menugaskan kepala Lembaga Arsip Nasional, Abdelmajid Chikhi, untuk bekerja sama dengan Stora.

"Ketimbang meminta maaf, Prancis harus mengakui perlakuan diskriminasi terhadap penduduk Aljazair dan mengedepankan fakta dalam angka. Dampak dari budaya permintaan maaf, atau terperangkap oleh sejarah tidak akan membuat hubungan kedua negara berjalan lancar dan bisa mempengaruhi masa lalu," ujar Stora.

Menurut Stora, Prancis tidak perlu meniru Jepang yang meminta maaf atas kekejian tentara mereka ketika menjajah Korea Selatan dan China pada Perang Dunia II.

Prancis menjajah Aljazair sejak 1830 sampai 1962.

Pada 1954 sampai 1962 penduduk Aljazair mengobarkan perang kemerdekaan melawan Prancis. Diperkirakan ada sekitar 500 ribu sampai 1.5 juta penduduk Aljazair meninggal dalam pertempuran atau dieksekusi.

Bahkan, sebagian dari korban tewas dalam perang kemerdekaan Aljazair sampai saat ini keberadaan jasadnya tidak diketahui.

Macron berharap rekonsiliasi it bisa terlaksana sebelum kedua negara memperingati 60 tahun berakhirnya perang antara Aljazair dan Prancis pada 2022 mendatang.

Pada 2018, Macron mengakui tentara Prancis menyiksa para tahanan selama perang kemerdekaan Aljazair. Dia adalah presiden Prancis yang pertama memberikan pernyataan mengakui soal penyiksaan dan kejahatan kemanusiaan dalam masa penjajahan di Aljazair.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.