Masalah Baru di Singapura, Penularan Covid-19 dari Sopir Taksi Online

Ilustrasi pramugara dan pramugari maskapai penerbangan. Seorang pramugara di Singapura juga menjadi sopir taksi online dan terinfeksi Covid-19 (Straits Times)


Seorang pramugara maskapai Singapore Airlines terinfeksi Covid-19. Selain menjadi pramugara, pria tersebut juga berprofesi sampingan sebagai pengemudi taksi online. Dikhawatirkan, sang pramugara itu bisa menularkan Covid-19 saat berkeliling mencari penumpang dengan taksi online.

Pakar Kesehatan Profesor Teo Yik Ying yang juga Dekan Saw Swee Hock School of Public Health di National University of Singapore (NUS) mengatakan, meski memang ada risiko infeksi yang lebih tinggi bagi penumpang taksi saat sopir terinfeksi, pelacakan kontak dan isolasi yang terpapar akan membatasi penyebaran. Penggunaan masker juga sangat penting.

“Akan selalu ada insiden seperti itu yang muncul di masa depan, dan itulah mengapa setiap orang di komunitas perlu tetap waspada, dan upaya pengujian dan pelacakan kontak tidak dapat berhenti,” katanya seperti dilansir dari Straits Times, Senin (4/1).


Pramugara berusia 48 tahun itu terdeteksi melalui pengujian proaktif yang diatur oleh Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) yang telah kembali dari luar negeri. Dia telah melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk bekerja dari 12 Desember 2020 hingga 16 Desember 2020. Setelah kembali, dia bekerja paruh waktu sebagai pengemudi taksi online dari 17 hingga 24 Desember 2020.

Pria itu dites pada 23 Desember 2020, namun hasilnya tidak meyakinkan. Tes kedua pada 25 Desember 2020 juga tidak meyakinkan. Dia tetap di rumah sampai 27 Desember 2020, ketika dia akhirnya dipastikan terinfeksi Covid-19.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Singapura pada Rabu (30/12/2020) mengatakan, penumpang yang dia bawa sedang dilacak melalui kontak. Ditambahkan bahwa setiap penumpang yang dianggap dekat dengan pria itu harus dikarantina.

Perusahaan tumpangan tersebut juga mendukung upaya pelacakan kontak. Perusahaan mengatakan pria itu telah ditangguhkan sementara dari platformnya sebagai tindakan pencegahan keamanan.

Wakil Dekan Penelitian di Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock Associate, Profesor Alex Cook, mengatakan bahwa situasinya memang sulit. Sebab virus bisa ditularkan olehnya saat berkeliling mencari penumpang.

“Sopir melakukan kontak dengan banyak orang di lingkungan tertutup seperti mobil sewaan pribadi,” tambahnya.

Hanya saja, dia mencatat bahwa taksi online pasti telah menerapkan tindakan pencegahan seperti pemakaian masker. Penumpang juga tidak diperbolehkan duduk di kursi depan karena tetesan droplet kemungkinan besar akan menyebar.

Prof Cook mengatakan perusahaan juga dapat mengidentifikasi penumpang yang mengendarai kendaraan tertentu selama minggu itu. Namun, mengingat jarak antara pengemudi dan penumpang di dalam mobil yang tak terlalu jauh, ada risiko infeksi yang lebih tinggi.

“Keputusan untuk mengkarantina penumpang yang terkena dampak adalah keputusan yang tepat, dan platform itu akan memfasilitasi proses pelacakan kontak dalam mengidentifikasi semua penumpang yang terkena dampak,” kata para ahli.

Ahli penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, dr Leong Hoe Nam mengatakan insiden itu menunjukkan bahwa tindakan aman bagi mereka yang bekerja di luar negeri. Prof Teo mengatakan, masker harus selalu dikenakan saat di dalam kendaraan.

“Ini sangat penting terutama di taksi dan kendaraan pribadi. Ini juga merupakan praktik yang baik untuk mendisinfeksi tangan sebelum dan sesudah perjalanan dengan transportasi umum, tidak hanya di taksi atau kendaraan pribadi tetapi juga di bus dan kereta MRT,” tegasnya.

“Semua kebiasaan ini bertujuan untuk mengurangi risiko infeksi Covid-19,” tambahnya.


Sumber :jawapos.com

No comments

Powered by Blogger.