Media Asing Soroti Seaglider di Laut RI Diduga Milik China

Ilustrasi. Media asing menyoroti temuan unmanned underwater vehicle atau drone kapal selam asing, seaglider di perairan Indonesia diduga milik China. (AFP/ERNESTO BENAVIDES)


Jakarta, Sejumlah media asing menyoroti temuan UUV (unmanned underwater vehicle) atau drone kapal selam asing, seaglider di perairan Indonesia diduga milik China.

Drone tersebut pertama kali ditemukan oleh nelayan Indonesia pada 20 Desember 2020 di Pulau Tenggol, Masalembu dan Pulau Selayar, Sulawesi Selatan.
ABC Australia pada 31 Desember 2020, mengutip pernyataan dari seorang ahli bahwa temuan itu patut menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia.

Malcolm Davis dari Institut Kebijakan Strategis Australia mengatakan penemuan itu patut diperhatikan karena UUV ditemukan di rute maritim penting yang menghubungkan antara Laut China Selatan (LCS) ke kota paling utara di Australia, Darwin.

"Itu memang mengirimkan sinyal bahwa angkatan laut China sedang bersiap untuk mengerahkan kapal selam lebih dekat ke pendekatan maritim kami di utara Darwin, dan kami harus siap menghadapi prospek aktivitas kapal selam yang jauh lebih dekat ke pantai utara Australia daripada yang telah kami alami di masa lalu," kata Davis.

"Mereka perlu memahami oseanografi dan sifat batimetri wilayah itu, jadi itulah alasan penempatan glider itu," ujarnya.

Selain itu, ABC Australia juga menyoroti bahwa temuan serupa sebelumnya juga pernah terjadi di perairan Indonesia.

Pada Maret 2019, UUV Sea Wing serupa ditemukan oleh seorang nelayan di dekat Kepulauan Riau, sementara drone kapal selam lainnya ditemukan pada Januari 2020 di dekat Pangkalan Angkatan Laut Surabaya.

Meski temuan terbaru drone berada dalam rute strategis dari LCS ke Australia, namun ABC menulis bahwa Departemen Pertahanan Australia menolak berkomentar.

Dia mengatakan kepada ABC "karena dugaan penemuan UUV tampaknya terjadi di perairan Indonesia, ini adalah masalah Pemerintah Indonesia".

Kemudian media Inggris, The Guardian pada 31 Desember 2020 juga menyoroti temuan jenis drone tersebut.

Mengutip para pengamat militer, media itu menulis bahwa drone tersebut tampaknya adalah UUV Chinese Sea Wing (atau Haiyi) UUV. Drone ini dikembangkan oleh institute otomatisasi Shenyang di Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Secara umum, drone itu difungsikan sebagai alat pengumpulan data termasuk suhu air laut, salinitas, kekeruhan, dan tingkat oksigen. Informasi tentang arus dan arah gerakan sendiri akan dikirimkan secara real-time.

Sementara Media India, Republic World pada Jumat (1/1) dan media Inggris, Independent, keduanya menyoroti drone yang masih dalam keadaan aktif ketika ditemukan oleh nelayan di Pulau Selayar.

Dua media itu menulis bahwa kamera dan antena masih aktif, lampu berkedip-kedip, dan sensor juga masih berfungsi.

Meski sejumlah media menduga bahwa drone itu merupakan milik China, namun media Turki, Anadolu, pada Senin (4/1) menulis bahwa pemilik drone masih menjadi misteri berdasarkan keterangan pihak berwenang Indonesia.

Anadolu mengutip pernyataan dari Panglima Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono yang menuturkan bahwa sejauh ini belum ada negara yang mengkalim kepemilikan drone atau AUV (autonomous underwater vehicle) tersebut.

Menurut Yudo, drone yang ditemukan di dekat Pulau Selayar tidak membawa tanda-tanda tentang negara asal.

Dilansir dari situs seorang Analis Pertahanan, H I Sutton, (30/12/2020), drone Chinese Sea Wing Submarine, yang ditemukan di perairan Indonesia, secara umum memiliki desain mirip pesawat terbang layang yang didorong gaya apung variabel lainnya.

Menurut sumber dari produsen drone, Sea Wing dapat membawa sensor Konduktivitas, Suhu, Kedalaman (CTD), serta pengukur turbulensi, Turbidimeter, sensor klorofil, sensor oksigen terlarut, nitrat, dan sensor biokimia lainnya.

Drone itu juga dapat membawa sensor Akustik seperti ADCP (acoustic Doppler current profile), komunikasi akustik bawah air, dan hidrofon.

Drone itu difungsikan sebagai alat penelitian ilmiah, pengamatan proses laut yang dinamis, deteksi akustik, eksplorasi lingkungan laut dalam secara komprehensif, dan secara alami memiliki relevansi dengan angkatan laut atau militer serta penelitian sipil.

Selain itu, Sutton juga menulis analisis tentang drone itu di Naval News pada 29 Desember 2020.

Dalam tulisannya, Hutton mengatakan temuan itu dekat dengan dua rute potensial antara LCS dan Samudra Hindia. Rute-rute ini, Selat Sunda dan Selat Lombok, mungkin penting di masa perang.

Data intelijen yang dikumpulkan oleh drone mungkin juga berharga bagi Angkatan Laut China jika kapal selam mereka berniat menggunakan selat ini.

Data yang dikumpulkan mungkin terdengar tidak berbahaya dan sering digunakan untuk penelitian ilmiah. Namun data itu juga bisa sangat berharga bagi para perencana angkatan laut, terutama untuk mendukung operasi kapal selam.

Semakin baik angkatan laut mengetahui perairan, semakin baik kemampuannya untuk menyembunyikan kapal selamnya.


Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.