Mutasi Covid-19 Lebih Cepat, Pandemi Disebut Bisa Lebih Lama

Ilustrasi. Mutasi corona disebut berpotensi membuat pandemi lebih lama (AFP/JUNG YEON-JE)


Jakarta, Ahli menyebut varian baru mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang saat ini bermunculan bakal berpotensi membuat pandemi Covid-19 berlangsung lebih lama.

Hal ini diungkap Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono terkait dengan munculnya strain baru mutasi virus corona di berbagai negara, seperti di Inggris dan Afrika Selatan.

"Kehadiran strain2 baru SARSCOv2 itu bukti perlawanan virus dg bermutasi yg dorong pandemi akan lama," cuitnya lewat akun resmi, Kamis (7/1).

Menurut Pandu, dengan makin banyak manusia yang terinfeksi virus corona, maka mutasi virus akan berlangsung lebih cepat.

"Risiko mutasi akan tinggi. Virus tidak akan bermutasi tanpa masuk ke tubuh manusia, ia akan bermutasi di inangnya," jelas Pandu lewat sambungan telepon.


Sehingga jika penanganan situasi pandemi saat ini di Indonesia tanpa memperkuat pengetesan akan mempercepat virus untuk bermutasi.

Menurut Pandu, strain mutasi virus corona yang ada di Inggris sudah menunjukkan perubahan. Sebab, varian baru ini kini sudah menyerang anak-anak.

"Inggris tuh bingung kenapa angkanya double dan banyak anak kecil yang kena. Setelah diteliti, ada strein baru dan kemampuan menularnya dua kali," tuturnya.

Padahal menurut Pandu, semestinya mutasi virus berlangsung lebih lama.

"Seharusnya mutasi strain itu lama, hingga 1 tahun," tuturnya.

Sehingga, ia khawatir jika makin banyak orang yang tertular malah membuat virus makin cepat bermutasi.

"Jika sekarang penyebaranya cepat dan tidak bisa ditekan, virus tersebut bisa cepat bermutasi. Kemungkinan bisa dengan cepat menjangkit ke anak-anak seperti temuan di Inggris, " ujarnya.

Sehingga, untuk membatasi mutasi virus Pandu menyarankan agar setiap orang melakukan pencegahan agar tak tertular.

Meski demikian, kecepatan mutasi virus corona disebut masih belum secepat flu musiman. SARS-CoV-2 memiliki tingkat mutasi kurang dari 25 mutasi per tahun, sedangkan flu musiman memiliki tingkat mutasi hampir 50 mutasi per tahun atau empat kali lebih cepat dari SARS-CoV-2.

Hal ini berdasarkan studi ahli bioinformatika dari University of California, Niema Moshiri dalam laporannya yang dipublikasikan di The Conversation. 

Temuan ini dianggap sebagai kabar baik untuk vaksin virus corona. Sebab, keampuhan vaksin Covid-19 dianggap bisa memiliki ketahanan lebih lama ketimbang vaksin flu musiman yang lebih cepat tak mempan.

"Sehingga tingkat mutasi yang lebih lambat pada SARS-CoV-2 memberi kami harapan untuk potensi pengembangan vaksin tahan lama yang efektif terhadap virus," kata Moshiri (12/4).


Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.