Setahun Wuhan Jadi Kota Hantu, Kini Warga Bisa ke Mal Lagi

Seorang warga melintas di depan Yellow Crane, Wuhan, China, pada Jumat (15/1). (AP/Ng Han Guan)

Sepasang anak muda terlihat berkencan, rombongan keluarga makan di restoran, dan kerumunan pembeli berbondong-bondong di dalam toko.

Demi melawan dinginnya musim dingin, orang-orang terlihat berjalan cepat menyusuri jalan perbelanjaan khusus pejalan kaki yang merupakan kota hantu di puncak wabah.

Selain penampakan wajah bermasker, orang-orang terlihat menjalani kehidupan sehari-hari mereka seperti biasa di Wuham. Kota China yang pertama kali dilanda pandemi Covid-19 itu.

Itu adalah pemandangan perubahan yang luar biasa bagi 11 juta penduduk Wuhan.

Pusat komersial di Sungai Yangtze yang perkasa menghabiskan 76 hari dalam penguncian tahun lalu, dari Januari hingga April 2020.

Rumah sakit yang kewalahan mengirim pulang pasien yang tidak terlalu parah sakitnya, di mana mereka menginfeksi orang lain.

Lebih dari 3.800 orang meninggal, terhitung hampir 90 persen dari kematian resmi akibat virus Corona di daratan Cina.

Saat ini, banyak yang heran bahwa tempat yang dulunya dianggap sebagai tempat paling berbahaya di dunia karena pandemi sekarang menjadi salah satu tempat teraman di dunia.

Pihak berwenang tetap waspada menjelang liburan Tahun Baru Imlek pada bulan depan, ketika orang Tionghoa biasanya kembali ke kampung halaman mereka untuk pertemuan keluarga.

Bahkan tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang tiba dari luar negeri pada minggu ini untuk menyelidiki asal mula virus, sedang dikarantina selama 14 hari.

Dua hari yang lalu muncul kabar mengagetkan dari China bahwa petugas kesehatan di Tianjin, China, berhasil mendeteksi es krim buatan dalam negeri yang mengandung virus Corona.

Mengutip AP, es krim yang mengandung virus corona itu ditemukan setelah petugas memeriksa tiga contoh produk merek Daqiaodao.

Produsen menyatakan bahan baku es krim itu termasuk susu bubuk buatan Ukraina dan bubuk dadih (whey mist) asal Selandia Baru.

Akibatnya pemerintah kota setempat memerintahkan Daqiaodao menutup sementara gudang pendingin mereka yang menyimpan es krim yang mengandung virus corona.

Menurut Daqiaodao, mereka sudah memproduksi 4.836 kotak es krim, dan 1.812 di antaranya sudah dijual ke berbagai daerah.

Saat ini pemerintah setempat menyegel 2.089 kotak es krim. Di dalam setiap kotak berisi enam buah kemasan es krim dengan berat masing-masing 450 gram.

Mereka menyatakan 935 boks yang akan dijual ke pedagang setempat belum seluruhnya laku. Saat ini tercatat ada 65 boks yang sudah terjual ke para pedagang kecil di Tianjin.

Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.