Usaha Menangkal Corona dari Festival Voodoo di Benin

Festival voodoo rutin digelar di Benin, salah satu negara di Afrika Barat. Tahun ini temanya 'menangkal virus corona'.
Suasana ritual dalam festival voodoo di Benin. (AFP/YANICK FOLLY)

Benin mengadakan festival voodoo pada hari Minggu (10/1) tanpa prosesi megah seperti yang berlangsung setiap tahunnya, setelah pihak berwenang negara Afrika Barat itu melarang pertemuan dalam skala besar dan ramai pengunjung demi mencegah penularan virus Corona.

Voodoo, lebih sering disebut "vodun" di wilayah tersebut, berasal dari Kerajaan Dahomey, sekarang Benin dan negara tetangga Togo.

Dengan hierarki dewa dan roh yang berasal dari alam, ajaran leluhur yang masih dijunjung kerap menggunakan jimat dan praktik magis, salah satunya untuk pengobatan dan penyembuhan.

Leluhur yang juga dihormati diyakini hidup berdampingan dengan makhluk hidup.


Ritual tradisional yang dipentaskan di desa dan kota di penjuru negeri biasanya menarik banyak pengunjung, mulai dari warga sampai turis.

Tetapi tahun ini hanya sekelompok kecil orang yang mengambil bagian dalam perayaan yang sebagian besar diadakan di biara voodoo.

Di pantai Grand-Popo, sebuah desa pesisir di barat daya Benin, sekitar 50 umat, semuanya mengenakan masker dan menjaga jarak fisik, melakukan ritual kurban.

"Ini adalah ritual pemberian berkah untuk pantai ini yang digelar setiap 10 Januari, dan Anda tidak boleh melewatkan kesempatan ini," kata seorang umat, Odilus Sogan, kepada AFP.

"Kami sedikit kecewa," tambah Metowanou Guedehoungue, tokoh voodoo yang ikut serta.

"Banyak umat telah diminta untuk tinggal di rumah."

Voodoo devotees parades on the main boulevard of Porto-novo in Benin on January 11, 2020. - The 4th edition of the Porto Novo International Festival (FIP) takes place from January 4 to 12, 2020 in Porto-Novo. 1,200 cultural and ritual masks from several African countries paraded for a grand parade during the 4th edition of the International Festival of Culture, Arts and Vodun Civilization scheduled to date in Porto-Novo. (Photo by Yanick Folly / AFP)

Umat yang datang dalam festival voodoo tahun ini. (Yanick Folly / AFP)

A voodoo devotee dressed as an Egoun (ghost) parades on the main boulevard of Porto-novo in Benin on January 11, 2020. - The 4th edition of the Porto Novo International Festival (FIP) takes place from January 4 to 12, 2020 in Porto-Novo. 1,200 cultural and ritual masks from several African countries paraded for a grand parade during the 4th edition of the International Festival of Culture, Arts and Vodun Civilization scheduled to date in Porto-Novo. (Photo by Yanick Folly / AFP)
Arak-arakan dalam festival voodoo tahun ini. (Yanick Folly / AFP)

Di masa normal, "voodoo dirayakan dengan kemegahan dan kemeriahan," katanya.

Di ibu kota ekonomi Cotonou, seorang tokoh yang disebut dewi laut Mami, Hounnon Zekpon, tidak memimpin prosesi yang biasanya digelar di pantai kota Fidjorosse.

Mengenakan pakaian putih dengan masker yang serasi, Zekpon tetap tampil di halaman rumahnya yang berfungsi sebagai biara, dengan sekitar selusin umat melakukan ritual kurban.

Pandemi hanya berdampak kecil di negara berpenduduk sekitar 11 juta orang itu, yang secara resmi mencatat sekitar 3.300 kasus dan 44 kematian. Namun, jumlah korban sebenarnya diperkirakan lebih besar.

Sementara pihak berwenang menolak memberlakukan penguncian wilayah, mereka telah melarang pertemuan besar digelar di bekas koloni Prancis itu.

Perayaan di hari Minggu dinilai cukup menghormati protokol kesehatan.

"Kami tidak ingin menjadi orang yang disalahkan atas Covid-19 yang menginfeksi negara kami," kata Baba Adeniyi, salah satu tokoh voodoo yang juga ikut serta.

Dia mencatat bahwa pandemi Covid-19 tidak mengejutkannya.

Pada November 2019, Le To Fa, seorang tokoh voodoo, "meramalkan penyakit serius pada tahun 2020", katanya.

"Jadi kami membuat banyak ritual kurban untuk menangkal kesialan dan melindungi rakyat."

Menurut angka resmi terbaru yang tersedia, yang berasal dari tahun 2013, praktisi voodoo hanya berjumlah 11 persen dari populasi Benin, dibandingkan dengan hampir 30 persen Muslim dan 25 persen Kristen.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.