Vaksin Pfizer Mampu Tangkal Varian Corona Baru di Inggris

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. (Foto: AP/Frank Augstein)


Jakarta, Vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech diklaim dapat melindungi seseorang dari mutasi yang ditemukan pada dua varian virus corona yang sangat menular yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan. Dua varian tersebut diketahui menyebabkan kekhawatiran global.

Dua varian baru virus corona yang sangat menular itu diketahui berbagi mutasi umum yang disebut N501Y. Berdasarkan penelitian mutasi N501Y terjadi pada satu titik protein lonjakan yang melapisi virus. Perubahan itu diyakini menjadi alasan mereka bisa menular dengan mudah.

Melansir AP, Jumat (8/1), studi ini masih bersifat pendahuluan dan belum ditinjau oleh para ahli. Namun, studi itu diharapkan dapat membantu penelitian selanjutnya.

Sebagian besar vaksin yang diluncurkan di seluruh dunia melatih tubuh untuk mengenali protein lonjakan dan melawannya. Pfizer bekerja sama dengan para peneliti dari University of Texas Medical Branch di Galveston untuk uji laboratorium guna melihat apakah mutasi mempengaruhi kemampuan vaksinnya.

Mereka menggunakan sampel darah dari 20 orang yang menerima vaksin, yang dibuat oleh Pfizer dan BioNTech. Hasilnya, antibodi dari penerima vaksin berhasil menangkal virus di wadah laboratorium.


"Itu adalah temuan yang sangat meyakinkan bahwa setidaknya mutasi ini, yang merupakan salah satu yang paling dikhawatirkan, tampaknya tidak menjadi masalah untuk vaksin," kata Kepala peneliti Pfizer, Philip Dormitzer.

Melansir CTV News, virus secara konstan mengalami perubahan kecil saat menyebar dari orang ke orang. Para ilmuwan telah menggunakan sedikit modifikasi untuk melacak bagaimana virus corona telah menyebar ke seluruh dunia sejak pertama kali terdeteksi di China sekitar setahun yang lalu.

Ilmuwan Inggris mengatakan varian yang ditemukan di Inggris, yang telah menjadi tipe yang dominan di beberapa wilayah Inggris, tampaknya masih rentan terhadap vaksin. Mutasi itu sekarang telah ditemukan di AS dan banyak negara lain.

Namun varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan memiliki mutasi tambahan yang membuat para ilmuwan khawatir, salah satunya bernama E484K. Studi Pfizer menemukan bahwa vaksin tersebut tampaknya bekerja melawan 15 kemungkinan mutasi virus tambahan, tetapi E484K tidak termasuk di antara yang diuji. E484K baru akan diuji dengan vaksin Pfizer pada penelitian selanjutnya.

Dormitzer mengatakan jika virus pada akhirnya terus bermutasi sehingga vaksin perlu disesuaikan, seperti vaksin flu yang diperbarui hampir setiap tahun, peneliti tidak akan kesulitan mengubah komposisi vaksin.

Sebab, vaksin dibuat dengan sepotong kode genetik virus, mudah diganti, meskipun tidak jelas jenis pengujian tambahan apa yang diperlukan regulator untuk membuat perubahan seperti itu.

Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka AS, baru-baru ini mengatakan vaksin dirancang untuk mengenali beberapa bagian protein lonjakan, sehingga tidak mungkin satu mutasi pun cukup untuk memblokirnya. Tetapi para ilmuwan di seluruh dunia sedang melakukan penelitian dengan berbagai vaksin untuk mencari tahu.


Sumber :cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.