Ahli Kesehatan: Hindari Konsumsi Obat Pereda Nyeri Jelang Vaksinasi

Ilustrasi vaksinasi covid-19. (Foto: Jcomp/Freepik)

VAKSINASI covid-19 saat ini sedang gencar dilakukan banyak negara, termasuk Indonesia. Mengingat banyak masyarakat yang menantikan proses vaksinasi covid-19, sejumlah dokter mengeluarkan tips untuk mempersiapkan diri sebelum divaksin. Salah satunya hindari mengonsumsi obat pereda nyeri menjelang vaksinasi.

"Ada beberapa bukti teoritis obat penghilang rasa sakit dapat mengubah respons kekebalah tubuh terhadap vaksin covid-19," kata ahli kesehatan dr Sarah Jarvis, seperti dikutip dari The Sun, Jumat (19/2/2021).

"Tetapi kami bahkan tidak tahu apakah dalam kasus ini juga dapat mengurangi efektivitas perlindungan yang diberikan vaksin," imbuhnya.

Vaksin covid-19. (Foto: 8photo/Freepik)

Meski belum ada bukti spesifik mengonsumsi obat penghilang rasa sakit sebelum mendapatkan vaksin covid-19 akan memengaruhi kemampuan tubuh untuk membangun kekebalan, Sarah menganjurkan agar masyarakat tidak menggunakan obat penghilang rasa sakit apa pun sebelum mendapatkan vaksin.

"Ini adalah tindakan pencegahan murni. Mungkin tidak ada bedanya sama sekali. Tapi jika memang ada kemungkinannya tidak akan terlalu berbahaya," terang Sarah.

Sebuah makalah ilmiah yang dirilis pada 2016 sempat menjelaskan secara gamblang bagaimana obat penghilang rasa sakit tidak dianjurkan dikonsumsi menjelang vaksinasi. "Tidak dianjurkan oleh berbagai pihak, termasuk beberapa badan kesehatan," tulis makalah tersebut.

Hal ini tidak terlepas dari sejumlah studi yang menemukan parasetamol diklaim dapat menumpulkan respons kekebalan terhadap beberapa antigen vaksin, khususnya pada anak-anak.


Perlu diketahui pula bahwa efek ini hanya muncul jika parasetamol atau obat serupa seperti pencegah demam dikonsumsi sebelum vaksinasi dan bukan setelahnya.

Kendati demikian, beberapa penelitian lain menunjukkan tidak ada perbedaan dalam tanggapan antibodi terhadap vaksin dengan orang yang mengonsumsi obat penghilang rasa sakit selama vaksinasi berlangsung.

Secara keseluruhan, makalah tersebut menyimpulkan tidak ada "jawaban yang jelas" mengenai apakah obat pereda nyeri dan demam dapat menghambat respons kekebalan hingga menyebabkan kegagalan vaksin.




Sumber : okezome.com

No comments

Powered by Blogger.