Aku Kembali Bersama Mantan Kekasihku (Part 1)

Hasil gambar untuk romance ulzzang

 

Bagaimana rasanya ketika mantan kekasihmu tiba-tiba menghubungimu lagi? Apa yang akan kau lakukan? Karena itu terjadi padaku.

Dua hari yang lalu mantan kekasihku tiba-tiba saja menghubungiku melalui akun Instagramku. Aku sempat tak mengenalinya, dia sangat berberbeda saat kami berpacaran dua tahun lalu. Ada banyak sekali rasa canggung diawal pembicaraan dalam chat room, bahkan aku sangat ragu untuk membalas pesannya.

Berulang kali berpikir, kuketik, kuhapus dan kuketik kembali pesan balasanku padanya. Sempat kulihat beberapa postingan dirinya. Kupikir hidupnya sangat-sangat jauh lebih baik dari saat dirinya berkencan denganku. Bahkan kutahu kini profilnya sebagai professional photographer dan telah memiliki studio sendiri dengan reputasi yang bagus. Mengetahui hal itu membuatku jadi sangat ragu, pikiran seperti untuk apa mantan kekasihku kembali menghubungiku setelah dua tahun mengakhiri hubungan denganku? Apa dia ingin menunjukan dirinya jauh lebih baik setelah putus denganku? atau apa?

Alasan keraguanku lainnya adalah karena perpisahan hari itu bukanlah perpisahan yang baik. Membuatku dilema untuk membalas pesannya atau tidak, dan bahkan lebih jauh lagi mantanku itu meminta bertemu denganku.
Tapi memangnya ada perpisahan yang baik? Tangisan, kemarahan, kekecewaan bahkan sampai kebencian pasti selalu beriringan dengan yang namanya perpisahan suatu hubungan. Begitupun denganku dan Mas Rama.

Rabu 19:00
“Gadis”
Sapanya saat pertama kali aku bertemu dengannya. Perasaan kembali pada hari dimana aku tengah bersama dengannya datang memenuhi hatiku. Bahkan suaranya masih sama saat dirinya memanggil namaku.


Bodohnya aku akhirnya meng-iyakan permintaannya untuk bertemu. Dan disinilah aku duduk dengannyanya, di kafe yang dulu menjadi tempat favorit kencan kami. Tak ada yang berubah, semua masih sama disini, bahkan aku memilih tempat duduk pojok dimana aku dengan Mas Rama mengahabiskan waktu bersama di kafe ini. Dulu.
Kikuk. Tak tahu harus bertingkah seperti apa.

”lama tak berjumpa” atau “apa kabar” haruskah menjadi sapaan pertama setelah dua tahun tak berjumpa. Akhirnya aku hanya melemparkan senyum padanya. Senyum yang kubuat semanis mungkin. Percayalah sosok mantan kekasihku yang dulu seperti telah hilang dari pria yang saat ini duduk di hadapanku. Wajahnya dan gayanya lebih maskulin menampilkan sosok pria dewasa. Aku bahkan mematung untuk sementara, wajahku dibuat tersipu olehnya.


Kutarik napas dalam-dalam. Awal Desember malam itu, seperti terasa lebih hangat padahal cuaca sudah mulai dingin karena musim hujan.

“bagaimana kabarmu?”


Tanyanya, membuka pembicaraan.


“aku baik”


Singkat balasku.


“kutebak kabarmu juga baik-baik saja. benar bukan?”


Lanjutku. Mas Rama hanya tersenyum dan menyeruput kopinya. Tampan. Mataku awas memperhatikan dirinya, membuatku sadar,


Ah aku pasti jatuh cinta pada dirinya dulu karena paras tampannya, yang bahkan sangat mempesona saat hanya meminum kopi seperti itu.

“pasti keputusan kita berpisah hari itu benar-benar yang terbaik untuk hidupmu”


Aku menunduk mengatakan itu, teringat saat-saat kata putus keluar dari mulutnya begitu saja. Sakit.
“karena kupikir sepertinya hidupmu menjadi baik-baik saja bahkan jauh lebih baik setelah aku pergi dari hidupmu?”


Lanjutku. Perkataanku itu membuat suasana pertemuan kami di kafe malam ini menjadi sangat, ehm tak enak. Ingatan menyakitkan antara aku dengan Mas Rama seperti diangkat kepermukaan. Wajahnya berubah menjadi sangat serius.


“maaf”


Ucapnya kemudian padaku. Ada perasaan aneh mendengar permintaan maafnya itu.


“tak usah meminta maaf begitu padaku. Sepertinya itu memang jalan terbaik untuk kita saat itu”
Kataku. 

Bertingkah seolah bukan apa-apa perpisahan hari itu. Padahal aku selalu menangis setiap hari saat mengingatnya. Mataku selalu bengkak hasil menangis semalaman. Melamun setiap saat, bertanya apa dan dimana kesalahanku hingga kata putus keluar begitu saja darinya. Itu masih tetap menjadi misteri bagiku. Alasan Mas Rama hari itu memutuskanku, aku masih tak tahu. Semuanya masih baik-baik saja saat itu, bahkan aku masih selalu mendapat pesan manis darinya, menghabiskan banyak waktu bersamanya, tak ada permasalahan ataupun pertengkaran apapun diantara aku dengan Mas Rama. bahkan hari itu adalah kencan sabtu malam kami. Tapi tiba-tiba saja, aku merasa menjadi tahu rasanya tersambar petir itu seperti apa. Ia berkata ingin putus denganku.

“Mas benar-benar minta maaf padamu Gadis”


Ucap maafnya lagi padaku. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa baru setelah dua tahun permintaan maaf itu kudengar. Sepertinya aku telah menjadikannya kekasih tanpa tahu dan mengenal sosoknya seperti apa. Karena aku tak mengerti dirinya, bahkan sikapnya saat ini yang tiba-tiba meminta bertemu dan meminta maaf padaku. Oh, rasa sakit dari hari-hari sulit setelah putus dengannyapun seperti datang kembali menusuk-nusuk hatiku.


Menghindari tatapannya, tak ingin terlihat rapuh di hadapannya.

“kau pasti merasa tak adil dengan semua keputusanku yang tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan kita dan pergi begitu saja”


Ungkitnya, mengapa ia seolah mengorek kembali luka lama yang susah payah kuobati. Tahu pembicaraannya kemana, aku tak tahan jika harus mendengarnya lebih banyak lagi. Mataku sudah mulai berkaca, siap mengeluarkan air mata dari sana.


Akhirnya aku bangun dari dudukku, terkaget Mas Rama melihatku yang tiba-tiba berdiri dan meraih tasku siap untuk pergi.


“Maaf Mas sepertinya aku harus pergi, mungkin lain waktu kita sambung lagi”


Kataku, sekaligus berpamitan padanya. Mengakhiri pertemuanku dengan Mas Rama, tak ingin aku berlama-lama dan tak ada yang tahu aku akan menagis satu detik kemudian jika aku tetap tinggal bersamanya.

Mengambil langkah besar aku pergi menuju pintu keluar kafe. Masih kulihat bayangnya dari pantulan jendela kaca kafe Mas Rama yang terus menatapku seolah tidak menginginkan kepergianku. Bahkan sempat dirinya memanggil namaku, namun aku pura-pura saja tak mendengarnya, mengabaikannya dan berjalan lebih cepat. Ingin cepat aku menjauh darinya.

Dalam langkahku ada rasa sesal dan juga perasaan seperti telah selamat. Namun akupun merasa seperti seorang pengecut yang melarikan diri begitu saja. Seharusnya kudengarkan ceritanya, karena mungkin saja bisa menjawab pertanyaanku selama ini, rasa penasaranku, alasan dirinya mengakhiri hubungan denganku. Namun semua itu terlalu menyakitkan untukku. Aku takut tak siap dan tak mampu menerima semua itu. Menyisakan aku yang kembali terluka seperti hari-hari setelah kepergiannya dua tahun lalu. Aku yang sangat kacau dibuatnya kala itu. Aku tak mau.

Ting


Notifikasi ponselku


From Mas Rama


Gadis, Mas minta maaf. Sekali lagi Mas meminta maaf padamu. Mas mengerti kamu pasti sangat marah hingga membeci Mas. Mas mengerti itu, tapi Mas harap bisa memperbaiki hubungan kita kembali.

Aku mendengus tak percaya membaca pesan darinya.


Apa katanya memperbaiki hubungan? Kita? Kupikir setelah berpisah darinya tak akan ada lagi kata “kita” antara aku dengannya.

Kutatap langit malam dalam perjalanan pulang, perasaan tak menentu memenuhi hatiku. Bagaimana manusia itu bisa dengan mudahnya bersikap seperti itu. Setelah pergi dengan alasan yang tak pasti kini datang kembali sesuka hati. Bahkan hatiku masih belum sembuh sepenuhnya, atau bahkan memang tak pernah sembuh karenanya. Setiap teringat kata-katanya, momen kebersamaanku dengannya, dadaku selalu saja merasa sesak. Rasa sakitnya masih meninggalkan jejak disana.


Entah apa inginku, setelah maaf yang kini akhirnya kudengar dari mulutnya. Hatiku masih saja tak bisa menerimanya. Seperti apa perasaanku saat ini, aku tak bisa menjelaskan ataupun memastikannya. Marah, tentu aku marah, sedih dan benci padanya, namun perasaan lebih membenci diri sendiri terasa lebih besar dan menguasai hatiku. Aku membenci diriku yang menjadi wanita bodoh yang tak bisa melupakannya, menangisi kepergiannya, tak bisa memperbaiki hatiku, atau bahkan memulai hari yang baru tanpa ingatanku saat bersamanya. Aku membenci diriku yang tak ingin aku mengakuinya bahwa aku masih mengaharapkannya.

Senin 17:00


Berdiri menatap salah satu lukisan, hanyut didalamnya. Meski aku tak tahu pasti apa makna dari lukisan itu, betah aku berlama-lama memandangnya.


Klik


Suara kamera memotret, aku berbalik kearahnya. Mataku terbelalak melihat siapa pemilik kamera itu.
Oh haruskah aku bertemu dengannya setelah melarikan diri darinya minggu lalu.
“cantik”


Ucapnya singkat setelah memeriksa hasil jepretannya, yang kutahu akulah yang menjadi objek fotonya itu.


“jangan mengambil fotoku tanpa izinku”


Ucapku padanya, bukan sapa yang mengawali pertemuan kami sore ini. Mas Rama kemudian berjalan mendekat kearahku. Fokusku yang tadi hanya pada lukisan di depanku kini menjadi terpaku pada mantanku yang tiba-tiba hadir diacara pameran salah satu teman kuliahku.


Bagaimana bisa Mas Rama berada disini juga


*tanyaku dalam hati

“kenapa? Kau bertanya mengapa aku bisa disini?”


Tanyannya, membuatku terlihat seperti tertangkap basah. Bagaimana dirinya bisa mengetahui isi pikiranku. Kualihkan pandanganku darinya, mencari sesuatu sisi lain disebelah sana, entah apa itu yang ingin kulihat yang jelas aku tak ingin melihat Mas Rama yang baru saja berhasil membaca isi pikiranku.
“Mas dapat undangan untuk memotret beberapa foto lukisan hari ini”


Jelasnya tanpa kuminta, Mengapa kini Mas Rama setelah putus dariku bisa menjadi se-peka itu padaku, mengapa tidak dua tahun lalu saat kami berdua masih berkencan. Dulu kode-kodeku dulu tak ada satupun yang dimengertinya dan sekarang lihat dirinya.

“aku tak bertanya”


Balasku, berbohong.


Mas Rama hanya membalas dengan senyum perkataanku. Tak ingin berlama-lama aku dengannya, kulihat saja jam di tanganku. Sudah masih belum pukul 6 sore, namun bertingkah seperti sudah memiliki rencana selanjutnya yang menantiku. Padahal hari ini pameran inilah satu-satunya acaraku.

“aku pergi ya Mas, nikmati pamerannya”


Ucapku, berbalik dan keluar ruangan pameran.


Berusaha berjalan dengan tenang, tak ingin melakukan hal yang membuatku tampak bodoh seperti minggu lalu, aku sangat jelas ketara tengah melarikan diri darinya hari itu.
Sampai di pintu keluar kutatap jalanan. Hujan.


Hahh


Mengapa harus hujan disaat seperti ini. Dan bodohnya aku tak membawa payung padahal jelas December ini musim hujan akan selalu datang meski tak dapat kupastikan kapan datangnya dalam 24 jam.


Haruskah aku berlari hingga halte bus. Karena hujan sore ini seperti tak ada niatan untuk berhenti.

Akhirnya kugunakan tas kecilku untuk menutupi kepalaku dan saat bersiap melangkah melewati hujan, tanganku dihentikan seseorang. Membuatku tertahan, dan tetap berada di posisi awal.


“kebiasaan menerobos hujanmu itu tak pernah hilang rupanya”


Ucap pria itu, mantanku, yang menghentikanku berlari melewati hujan. Mengingatkan kebiasaanku yang selalu menerobos hujan, kedinginan dan terkena demam kemudian.

Tak menyahuti perkataannya, mataku fokus pada genggaman tangannya yang masih tak dilepaskannya dari tanganku. Mengerti arti tatapanku pada tangannya itu, segera Mas Rama melepaskan genggamannya.


Berpura-pura bukan sesuatu yang besar, meski hatiku menjadi berdebar tak karuan karena sentuhannya yang sudah lama akhirnya bisa kurasakan lagi.

Mas Rama kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Payung biru tua yang sedang ia buka, ada gantungan panda disana, yang kutahu dan jelas aku tahu siapa pemilik payung itu awalnya sebelum kini berada di tangannya. Payung lamaku dulu yang sempat kuberikan padanya, bagaimana dirinya masih memilikinya dan memakainya.


“ayo”


Ucapnya setelah payung itu berhasil dibukakannya. Aku hanya memalingkan wajahku darinya, kuharap Mas Rama mengerti bahwa aku jelas menolak tawarannya.


Bagaimana bisa aku berpayungan bersama mantan kekasihku, lucu sekali. Hujan sore ini pasti akan menertawakanku.

“cepat, kau bisa sakit kedinginan jika terus berdiri disitu”


Lagi ajaknya padaku. Masih saja kuacuhkan dirinya. Tak lama kemudian saat kulihat lagi Mas Rama tengah berjalan memakai payung keluar area gedung. Meninggalkanku, sendiri.


Wah, tak bisa kupercaya bagaimana dia bisa begitu acuh pada wanita, bisa-bisanya Mas Rama dengan tega meninggalkanku, sendiri menunggu dingin dan hujan yang entah kapan bisa reda. Tapi bukankah aku sendiri yang tadi bersikap jual mahal dengan mengacuhkan tawarannya ikut berpayungan dengannya.


Kupukul kepalaku. Mercau tak jelas kemudian.


Bodoh! Bagaimana kau bisa berharap mantan kekasihmu itu mau beridiri menunggu dan menemanimu atau benar-benar berpayungan ditengah hujan. Dasar Gadis bodoh!

“Gadis, pegang ini”


Tiba-tiba saja, sejak kapan Mas Rama kembali dan berada di sampingku kini. Memberikan payungnya padaku. Yang tanpa sadar pula tanganku meraih dan menerima payung itu. Masih memandanginya, Mas Rama yang tengah membuka jaket yang dikenakannya, tak kusangka apa yang selanjutnya ia lakukan padaku.


Dipakaikannya jaket miliknya di tubuhku.


“ayo. Hari akan semakin dingin”


Ucapnya, aku yang masih mematung kehilangan otakku ulah mantan kekasihku. Mengambil payung yang tadi Mas Rama berikan padaku dan merangkulku untuk berjalan berada dalam satu payung bersamanya.
Oh benar-benar. Bagaimana bisa? bagaimana aku membiarkan mantan kekasihku memperlakukanku sesuka hatinya seperti sekarang ini.

Berkali-kali aku melirik wajah Mas Rama, ada segurat senyum di bibirnya. Apa dirinya menikmati berjalan, berpayungan bersama mantan kekasihnya ini.
Aku pasti sudah gila.

Cerpen Karangan: Rizki Nuramalia

Sumber : cerpenmu

No comments

Powered by Blogger.