AS-China Bersaing soal Vaksin dan Pemulihan Paska-pandemi Covid-19




     Amerika Serikat (AS) berencana menghidupkan kembali kerja sama dengan sekutu Eropanya. Sedangkan Washington dan Beijing bersaing memengaruhi distribusi vaksin Covid-19 dan pemulihan paskapandemi di Eropa.




Presiden AS Joe Biden akan berbicara pada Konferensi Keamanan di Munchen pada Jumat (19/2).
Pada Kamis (18/2), Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken akan terlibat secara virtual dengan mitranya dari Perancis, Jerman, dan Inggris guna membahas apa yang disebut juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, “tantangan global bersama.”

Blinken juga akan ikut dalam Dewan Urusan Eropa dari Uni Eropa pada 22 Februari setelah diundang Wakil Tinggi Uni Eropa, Josep Borrell.

Pidato Biden muncul setelah Presiden China Xi Jinping berjanji menaikkan impor dari negara-negara di Eropa Tengah dan Timur dalam tahun-tahun mendatang.

Minggu lalu, Xi memimpin pertemuan tingkat tinggi virtual yang sudah lama ditunda dengan para pemimpin dan pejabat senior dari blok negara yang disebut “17+1”. China mengupayakan akses ke pasar vaksin Covid-19 Eropa sementara berusaha memperbesar pengaruh China di kawasan itu.

Blok 17+1 diluncurkan pada 2012 ketika China berusaha membina kerja sama dengan negara Eropa Tengah dan Timur (Central and Eastern Europe/ CEE). Dua belas negara dari blok itu adalah anggota Uni Eropa.

“China bersedia secara aktif mempertimbangkan kerjasama vaksin dengan negara-negara CEE,” kata Xi Jinping. Dia juga mengutip bahwa Serbia dan Hongaria adalah dua negara yang sudah mulai meluncurkan program vaksinasi dengan vaksin buatan China.

Upaya Beijing membujuk negara-negara Eropa datang sementara Washington juga mulai menggiatkan diplomasinya, apa yang oleh para pejabat digambarkan sebagai “revitalisasi persekutuan inti” dan kembali ke jalur multilateral.

“Pemerintahan Biden-Harris sangat berkomitmen pada dialog dan kerjasama yang mendalam dengan sekutu dan mitra kami sehubungan China, ini dimulai dengan Eropa,” kata juru bicara Deplu Amerika kepada VOA.

Sumber :okezone

No comments

Powered by Blogger.