Awal 2021, Dana Investor Asing Masuk Pasar Modal Capai Rp 36,6 Triliun




   Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aliran dana investor asing sudah berangsur masuk ke pasar modal Indonesia pada awal 2021. Tercatat aliran dana investor asing mencapai Rp 36,6 triliun.

Berdasarkan data OJK, total aliran dana investor asing masuk ke pasar modal mencapai Rp 24,34 triliun pada Januari 2021. Komposisinya antara lain di pasar saham sebanyak Rp 10,94 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebanyak Rp 13,4 triliun.
Total aliran dana investor asing mencapai Rp 12,25 triliun hingga awal Februari 2021. Komposisinya aliran dana investor asing ke pasar saham mencapai Rp 4 triliun dan SBN sebanyak Rp 8,23 triliun. Dengan demikian,pada awal 2021, aliran dana investor asing mencapai Rp 36,6 triliun ke pasar modal.

Ketua OJK Wimboh Santoso menuturkan, aliran dana investor asing masuk tersebut menunjukkan optimisme di pasar modal.

"Inflow mulai di 2021. Mencapai Rp 36,6 triliun. Satu bulan (Januari-red) Rp 24,3 triliun. Februari Rp 12,25 triliun. Ini menunjukkan ada indikator berikan optimisme di pasar modal," ujar dia dalam diskusi virtual, Sabtu (6/2/2021).


Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali sentuh level 6.400. Berdasarkan data RTI, tercatat IHSG sentuh level tertinggi 6.440 pada 20 Januari 2021. Wimboh menuturkan, peran investor ritel juga berkontribusi terhadap penguatan IHSG.

"Masyarakat sudah mengerti, bahwa kita melakukan kebijakan-kebijakan yang memberikan kepastian ekonomi kita bisa segera bangkit sehingga mereka bisa balik, terutama investor ritel sehingga indeks kita 6.400," kata dia.

Ia menambahkan, investor juga antusias sambil menunggu pemulihan ekonomi di sektor riil. Hal ini juga menyebabkan banyak likuiditas sehingga dialokasikan ke pasar modal. Dengan kondisi tersebut, IHSG diprediksi dapat sentuh posisi 7.000. Prediksi itu juga dengan dukungan dari investor ritel bertambah di pasar modal Indonesia.

"Investor ritel naik. 4 juta investor baru di pasar modal," ia menambahkan.
Wimboh menambahkan, pihaknya juga mengeluarkan securities crowd funding (SCF). Hal ini untuk mengimbangi permintaan dan produk di pasar modal.

"Awal tahun kami keluarkan kebijakan kita sebut securities crowd funding (SCF), penting ini adalah untuk balance antara permintaan begitu banyak di pasar modal karena banyak orang mau more invest," kata dia.

Wimboh memaparkan alasan investor terutama generasi milenial didorong berinvestasi. Dengan kondisi pandemi COVID-19 yang terjadi membuat generasi muda belum dapat jalan-jalan dan berkumpul bersama teman-teman. Kondisi itu akan membuat banyak dana yang disimpan.

"Duitnya banyak disimpan, kami dorong masuk ke pasar modal. Situasi bullish sehingga akan memberikan alternatif investasi para milenial, dan itu sebabkan investor ritel besar pada 2020. Kami imbangi banyak instrumen membolehkan scf, artinya instumen elektronik bagi para milenial," kata dia.

Ia menambahkan, bagi generasi milenial yang belum cukup umur untuk mengajukan kredit ke perbankan dapat mengeluarkan surat utang secara ritel. Akan tetapi, besaranya Rp 10 miliara-Rp 20 miliar.

"Tapi ini kami targetkan anak-anak mudah punya SPO, surat perintah dari pemerintah daerah itu pasti. Kalau perintah kerja ini pasti punya pekerjaan dan jangka waktu pasti silahkan, keluarkan surat utang lewat pasar modal," kata dia.

Mengutip dari instagram OJK, UMKM penyedia barang dan jasa pemerintah dapat melakukan penghimpunan dana melalui SCF. OJK menargetkan penghimpunan dana dari SCF Rp 74 triliun pada 2021.

"Kami harapkan cepat prosesnya, persyaratan tak rumit, silakan bagi anak muda dan platform UMKM hitungan mikro. Ini cara kita balance supply dan demand di pasar modal," kata dia.
Sumber :liputan6

No comments

Powered by Blogger.