Cerita Mistis Kuburan Kembar di Tikungan Tugurejo Semarang: Kyai Ngesot, Kuntilanak, dan Kecelakaan



Misteri kuburan di tengah jalan pantura Semarang, tepatnya di tikungan TPU Tugurejo,selalu dikaitkan dengan kejadian kecelakaan lalu lintas di jalur tersebut. Kondisi makam berada di bawah separator. Apalagi jalur itu selalu ramai dilalui pengguna jalan lantaran sebagai akses jalur utama menuju pusat kota Semarang dari arah Kendal.


Menurut tokoh warga sekitar, Anwari (54),wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai kuburan kembar. Disebut seperti itu karena ada dua tempat pemakaman yang berdekatan hanya dipisahkan jalan. Namun lantaran ada proyek pelebaran jalan akhirnya makam tersebut dipindahkan sekira tahun 90an.


"Makam itu berada di sisi selatan jalan sehingga hanya sisa makam di sisi utara yang kini dikenal sebagai TPU Tugurejo," paparnya.


Bagi makam yang tak diketahui siapa keluarganya dibiarkan saja ditindih aspal. Pasalnya makam tersebut juga sudah tak ada tanda nisan.


"Orang dulu menyebut TPU Tugurejo sebagai Makam Salaman Mulyo.


Terkenalnya sebagai Kuburan Kembar. Tak semua makam di tempat itu dipindahkan jadi memang di bawah jalan itu bekas makam. Jumlahnya banyak tapi saya tak tahu jumlah pastinya," katanya.


Dia menyebut, seringkali saat menjelang bulan syuro hampir dipastikan ada kejadian kecelakaan. Paling tidak dalam momen tersebut lima nyawa melayang akibat kecelakaan entah pemotor, mobil, dan truk.


"Ada yang bilang lihat wanita melintas. Adapula yang melihat jalan lurus padahal jalan berbelok," terangnya.


Dia mengatakan, seringnya kecelakaan di jalur itu sehingga tempat tersebut dikeramatkan terutama bagi sopir truk dan bus. Hal itu ditunjukan para sopir dengan melempar uang koin saat melintasi jalur itu. Istilah warga sekitar menyebutnya sawur.


Kebiasan itu sudah berjalan belasan tahun. Kendati demikian, ada seorang warga sekitar yang memanfaatkan hal itu dengan mengumpulkan koin yang dilempar oleh para sopir. Dalam semalam orang tersebut berjalan dari taman lele ke arah timur hingga di jalur itu.


Caranya menyisir pembatas jalan atau trotoar. Hasilnya dia mampu mengumpulkan uang hingga Rp20 ribu tiap malam. Paling sepi Rp10 ribu. Aktivitas itu dilakukan selama 10 tahun lebih.


"Orang itu sudah meninggal setahun lalu. Meninggalnya juga tak wajar karena baru diketahui tiga hari kemudian.

Sekarang tidak ada yang berani seperti itu," ungkapnya.


Dia menuturkan, ada beberapa kecelakaan besar yang terjadi di jalur tersebut yang menikung baik dari arah timur maupun barat. Di antaranya kecelakaan bus yang memakan hampir separuh penumpang bus. Lalu kecelakaan karambol beberapa tahun lalu yang menewaskan karyawan pabrik.


"Sopir truk maupun kernet yang meninggal juga banyak kejadian," terangnya.


Penunggu jalan itu, lanjut dia, pernah dituturkan oleh penjaga makam TPU Tugurejo yang kini telah almarhum. Dia mendengar penuturan penjaga makam itu bahwa penjaga jalan itu adalah Kyai Ngesot. Yakni orang pintar yang menganut ilmu hitam dan meninggal tak wajar. Biasanya sosok itu berada di dekat makam sisi timur.


"Saya juga kaget mendengar cerita itu. Setahu saya hanya sosok wanita yang kadang mondar-mandir di jalan itu," jelasnya. 



Sumber :TribunJateng.com

No comments

Powered by Blogger.