Cerita perempuan keturunan Tionghoa selamatkan bisnis keluarga di tengah pandemi Covid-19



    Sejumlah anak muda keturunan Tionghoa memutuskan melanjutkan usaha keluarga mereka yang sudah didirikan bertahun-tahun, dengan meninggalkan kesempatan berkarier di perkantoran atau perusahaan start-up yang kian populer. Mereka harus memutar otak demi menyelamatkan usaha itu di tengah anjloknya perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Sejak usia tujuh tahun, Ninna Tjokro, 25, sudah tak asing dengan berbagai jenis mesin jahit di rak-rak toko yang dijalankan keluarganya.

"Sering pas liburan sekolah diajak papa bantu jaga toko. Apalagi kan dulu papa one-man show (bekerja sendiri)," ujar Nina mengenang masa kecilnya.
Toko Tiga Mesin Jahit milik keluarganya berada di Jalan Perniagaan, kawasan di Jakarta Barat. Dulu daerah itu dikenal sebagai Patekoan, tempat permukiman yang banyak dihuni masyarakat keturunan Tionghoa.
Saat masih kecil Ninna merasa senang ketika diajak menjaga toko, yang saat itu disebutnya tak terlalu luas dan hanya mengandalkan kipas angin untuk mengembuskan udara segar.

"Kalau dulu sih senang, soalnya kalau makan siang pasti jajan ke Glodok atau Petak Sembilan sama mama. Atau diajak belanja alat tulis di Pasar Pagi Lama," ujarnya.

Ia tumbuh besar menyaksikan bagaimana ayahnya bekerja keras membesarkan toko, yang letaknya tak jauh dari kawasan pusat pertokoan dan perdagangan Glodok itu.

"Papa itu betul-betul hardworker(pekerja keras). Bagaikan kuda yang kiri-kanannya dikasih cermin. Fokusnya cuma ingin membangun dan menaikkan bendera keluarga," ujar Ninna.
Saat beranjak dewasa, meski selalu merasa terikat dengan toko yang menghidupi keluarganya itu, Ninna merasa perlu mengeksplorasi bidang lain.

Ia pun bertolak ke Malaysia untuk berkuliah di bidang perhotelan.

Di negeri jiran itu pula, Ninna merasakan magang di hotel. Sesampainya kembali di Indonesia, ia kembali mencicipi rasanya magang di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Namun, pada 2016, ayah dan ibunya memintanya untuk meneruskan usaha mesin jahit mengingat dia adalah anak pertama dari dua bersaudara.

Merasa bertanggung jawab meneruskan warisan keluarga, Ninna sepakat banting setir.
Bersama dengan adiknya, Ongky Tjokro, 23, lulusan manajemen bisnis di sebuah universitas swasta di Tangerang, Ninna mencoba mengembangkan dan meneruskan bisnis itu.

Keluarga yang utama
Meneruskan bisnis turun-temurun adalah hal yang khas terjadi di kalangan keluarga keturunan Tionghoa, meski banyak juga yang menggeluti dan ahli di bidang-bidang selain bisnis.


Peneliti budaya Tionghoa, Agni Malagina, mengatakan perkembangan bisnis keluarga itu bisa ditelusuri ke belakang sampai ke Dinasti Ming di China sekitar abad ke-14. Di sejumlah kawasan Pecinan di Indonesia, toko-toko milik warga keturunan Tionghoa yang sudah didirikan berpuluh tahun masih dapat ditemukan sampai saat ini.

"Mereka, keluarga Tionghoa, punya prinsip etika keluarga yang sangat kuat. Itu latar belakang budaya nggak bisa lepas. Apalagi kalau kita sebut budaya Konfusianis dalam bisnis, itu sangat kuat.

"Itu tercermin dengan menjalankan bisnis keluarga harus berdasarkan bakti, yang senior itu yang didengarkan," kata Agni.
Ninna Tjokro mengamini hal ini. Sejak kecil, dia sudah diajarkan tentang pentingnya keluarga.

Namun, tak seperti yang banyak dipikirkan orang, meneruskan usaha keluarga tak selalu mudah.

Melihat ke belakang, Ninna bercerita, toko itu selamat dari berbagai tantangan. Sejak toko berdiri, kakek dan ayahnya harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor lain yang menjual barang serupa.

Di era krisis moneter dan kerusuhan 1998, ujian yang berat juga dialami bisnis itu.

"Toko di kiri, kanan, hancur. Tapi puji Tuhan, toko kita karena depannya pakai pintu teralis besi, jadinya cuma bagian depannya yang hancur, nggak sampai masuk ke dalam."

"Setelah itu, dampaknya lumayan besar karena beberapa minggu toko harus tutup, alhasil nggak ada pemasukan. Untuk mendapatkan kembali pelanggan juga butuh waktu," katanya.
Mengutip laporan Tim Gabungan Pencari Fakta, terjadi penjarahan, pembakaran, hingga pemerkosaan di sekitar Glodok pada tahun itu, peristiwa yang banyak menyasar warga keturunan Tionghoa.

Saat ini, sama seperti banyak pengusaha lainnya di Indonesia, tokonya juga kembali menghadapi ujian di tengah pandemi Covid-19.

Di awal pandemi, tokonya tutup selama beberapa waktu untuk mengikuti aturan PSBB di Jakarta. Sejumlah karyawannya juga sempat positif virus corona, yang mengharuskan Ninna kembali menutup tokonya selama masa isolasi.

Alhasil, pemasukan penjualan offline menurun drastis, katanya.

"Ada juga penurunan permintaan karena mungkin spending power (kemampuan membeli) orang-orang turun dan banyak yang irit-irit untuk pengeluaran yang lebih vital," ujarnya.
Sumber :BBC

No comments

Powered by Blogger.