Dianggap Memperkeruh Suasana, Orang yang Mengaku Utusan Raja Diminta Pergi dari Keraton Solo

Gusti Meong dan GKR Rumbai beserta sentono dan abdi dalem ziarah ke makam Imogiri, Bantul, Yogyakarta. (Foto : Ist)

SOLO - Setelah keluar dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta, dua putri Raja yakni adik Raja Hangabehi atau Putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng) dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani langsung berziarah ke makam raja-raja di Imogiri, Bantul. Sebelumnya, keduanya terkurung 3 hari 2 malam di dalam Keraton Solo.

Selain kedua keturunan Raja, para Sentono serta para abdi dalem ikut serta. Termasuk dua penari Tari Bedaya yakni Ika Prasetyaningsih dan Bulan Semayani Milawarna serta seorang sentana dalem, KRMH Saptono Djati.

GKR Wandansari mengatakan, selain untuk berziarah ke makam para leluhur pendiri Kerajaan Mataram juga untuk memanjatkan doa Allah Subhanahu Wa Taala agar kondisi Keraton Kasunanan kembali bersatu seperti dulu lagi.

"Hari ini saya langsung ke makam para leluhur untuk mendoakan para leluhur dan meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar Keraton Surakarta kembali baik, aktivitas budaya terus berjalan dan rukun damai semuanya," kata Gusti Moeng kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (14/2/2021).

Selain itu, Gusti Moeng mendoakan agar orang-orang yang menghalang-halangi perdamaian antara Sinuhun Pakubuwono XIII dan adik-adiknya dengan mengaku sebagai utusan Raja segera pergi dari keraton.

"Orang-orang yang tidak berkepentingan yang mengaku utusan raja yang malah justru memperkeruh suasana Keraton Surakarta dan menghambat perdamaian antara kakak dan adik segera pergi dari keraton," ujarnya.

Gusti Moeng yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan ini mengaku sangat prihatin melihat kondisi keraton saat ini.

Pasca konflik 2017 yang berujung pengusiran dirinya dan anggota keluarga trah Mataram serta para Sentono dan Abdi Dalem lainnya yang dianggap berseberangan dengan Pakubuwono XIII, pada 15 April 2017 silam, sejak saat itu dirinya dan keluarga besar lainnya tidak bisa masuk lagi ke dalam keraton.

Pasalnya, seluruh akses masuk ke dalam ditutup dan harus mendapatkan izin dari PB XIII untuk bisa masuk.

"Sehingga kegiatan aktivitas adat dan budaya yang berada di dalam karaton tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya dikarenakan tertutupnya semua akses masuk bagi sentono dalem, abdi dalem garap. (abdi dalem yang bekerja setiap harinya di dalam karaton)," ujarnya.

Menurut Gusti Moeng, ada hikmah di balik dirinya dan keponakannya (Putri PB XIII) terkunci didalam Keraton.

Dirinya bisa melihat dan mengabadikan kondisi di dalam keraton pasca pengusiran 2017 yang sangat memprihatinkan.

Banyak yang bangunan cagar budaya yang rusak, tidak terawat. "Dan ada upaya pembiaran dari yang berkuasa saat ini di dalam keraton dan sebagian besar sudah berhasil saya dokumentasikan," kata Gusti Moeng.

Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.