Indosat Raup Pendapatan Rp 27,92 Triliun Sepanjang 2020



  PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,9 persen pada 2020. Perseroan meraup pendapatan Rp 27,92 triliun dari periode 2019 sebesar Rp 26,11 triliun.

Pendapatan tersebut dikontribusikan layanan seluler, multimedia, komunikasi data, internet (MIDI), dan telekomunikasi tetap. Kontribusi tersebut masing-masing 87,2 persen, 15,3 persen dan dua persen terhadap pendapatan usaha pada 2020.

Layanan seluler mencatat pertumbuhan 11,6 persen dari Rp 20,67 triliun pada 2019 menjadi Rp 23,08 triliun pada 2020.
Sementara itu, MIDI turun 10,4 persen dari Rp 4,78 triliun pada 2019 menjadi Rp 4,28 triliun. Sedangkan layanan telekomunikasi tetap susut 15,4 persen menjadi Rp 560,5 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 662,5 miliar.

PT Indosat Tbk mencatat pertumbuhan pelanggan selular sebesar 1,7 persen menjadi 60,3 juta pada 2020.


"Ini sebagai hasil dari penawaran produk yang baik serta kualitas jaringan yang baik. Jumlah pelanggan pada kuartal IV 2020 mengalami sedikit penurunan 0,2 persen dibandingkan kuartal III 2020,” dikutip dari internal memo perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/2/2021).

Selain itu, rata-rata pendapatan bulanan per pelanggan (ARPU) untuk pelanggan selular pada 2020 sebesar Rp 31,9 ribu atau naik Rp 4.000 dibandingkan 2019. Rata-rata menit pemakaian (MOU) per pelanggan turun menjadi 27,6 menit atau turun 14,5 persen dibandingkan 2019 seiring tren negatif di industri atas penurunan layanan suara.

Perseroan juga mengoperasikan total 63 ribu BTS 4G pada 31 Desember 2020 meningkat 15 ribu BTS 4G dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, beban perseroan naik 16,6 persen pada 2020 menjadi Rp 25,52 triliun. Hal ini didorong beban karyawan dan beban depresiasi dan amortisasi yang diimbangi penurunan dalam beban umum dan administrasi, beban pemasaran dan beban penyelenggaraan jasa.

Beban penyelenggaraan jasa turun 1,4 persen atau Rp 177,1 miliar dibandingkan 2019. Hal ini didorong penurunan beban instalasi dan beban handset dengan perubahan dalam strategi penjualan device. Lalu beban penyusutan dan amortisasi naik 4,6 persen atau Rp 441,5 miliar dibandingkan 2019 yang didorong imbas depresiasi dari penambahan aset tetap akibat penggelaran jaringan.

Beban karyawan meningkat 33,3 persen atau Rp 644,5 miliar dibandingkan 2019. Hal ini terutama dampak bersih penyesuaian organisasi (Rp 329 miliar) serta ada jurnal pembalikan biaya tertentu pada 2019.

Di sisi lain, beban pemasaran turun Rp 62,7 miliar atau turun 5,5 persen dibandingkan 2019. Hal ini sebagai dampak dari efisiensi biaya pemasaran melalui perubahan secara digital.

Beban umum dan administrasi turun Rp 173,6 miliar atau 20,7 persen dibandingkan 2019 seiring penurunan jasa profesional, penurunan beban sewa, dan penurunan beban transportasi yang merupakan bagian dari inisiatif optimalisasi biaya yang berkelanjutan.

Pendapatan (beban) operasional lain-lain turun 75,2 persen atau Rp 2,96 triliun dibandingkan 2019. Hal ini terutama disebabkan ada keuntungan penjualan menara, keuntungan bersih atas penerimaan aset, dan pembalikan provisi pajak yang dicatat pada 2019 yang diimbangi oleh pembalikan akrual jaminan terkait penjualan menara, penambahan provisi pajak dan pendapatan dividen dari asosiasi tersedia untuk dijual pada 2020.

Perseroan mencatat beban biaya naik 13,5 persen. Hal ini disebabkan peningkatan kerugian selisih kurs sebesar Rp 135,3 miliar, peningkatan biaya keuangan dari liabilitas sewa sebesar Rp 284,2 miliar dan peningkatan kerugian nilai wajar derivatif sebesar Rp 48,1 miliar yang diimbangi peningkatan pendapatan bunga Rp 109,8 miliar.
Sumber :liputan6

No comments

Powered by Blogger.