Jejak Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Demak

Jejak sejarah dari peninggalan Kerajaan Demak bisa dilihat sampai saat ini dan beberapa di antaranya masih dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan keagamaan. (Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan)


Demak merupakan kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa dan menjadi pelopor dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya Jawa lewat para Wali Songo (Sembilan Wali).

Sebelumnya Demak berada di bawah kekuasaan Majapahit. Namun setelah runtuh, banyak daerah yang memisahkan diri salah satunya Demak.

Kerajaan Demak pun akhirnya didirikan oleh Raden Patah (Jin Bun), yaitu anak dari Brawijaya V (Raja Terakhir Majapahit) dan Siu Ban Ci (selir muslim berdarah Tiongkok).

Raden Patah menjadi pemimpin sekaligus pendiri pertama kerajaan Demak pada 1478 hingga 1518 Masehi, dengan gelar Panembahan Jin Bun pasca melegitimasi sebagai penerus Majapahit.

Jejak sejarah dari peninggalan kerajaan Demak sampai saat ini masih bisa dilihat, bahkan dapat dikunjungi.


Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Kapal nelayan bersandar di pelabuhan lama Ulee Lheuue, Banda Aceh, Rabu (13/5). Sejak dibangun pasca tsunami 2004 lalu, pelabuhan lama Ulee Lheue yang bernilai sejarah sebagai pintu masuk barang impor pada masa kejayaan free port Sabang tahun 70-an itu, sepi  dimanfaatkan kapal nelayan, selain kurang perawatan karena bagian atap bangunan pelabuhan mulai rusak. ANTARA FOTO/Ampelsa/ed/pd/15Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
Ilustrasi pelabuhan. Terletak di kawasan strategis untuk menopang perekonomian dan militernya, membuat Kerajaan Demak berjaya pada masanya.

Sebelum meninggalkan warisan bersejarah, Kerajaan Demak pernah berada di masa kejayaan tertinggi dan menjadi bukti keberadaannya membawa pengaruh sangat besar.

Letak kerajaan Demak yang berada di kawasan strategis, mampu memiliki dua pelabuhan besar yang dapat mendorong perekonomian.

Kemudian pada abad ke-16, kedudukan kerajaan Demak sedang berada di puncak kejayaannya hingga kerajaan lain saat itu tidak ada yang mampu menandingi.

Saat kerajaan Demak berada di masa pimpinan Sultan Trenggono, ia pun berhasil menguasai beberapa daerah yaitu Surabaya, Sunda Kelapa, Tuban, Malang, Pasuruan, dan Blambangan.


Masa Keruntuhan Kerajaan Demak

Sejumlah warga berpakaian adat Jawa memikul gunungan menuju gunung Beser saat napak tilas Sultan Trenggono Kusumo di Desa Jombor, Jumo, Temanggung, Jateng,Jumat (20/2). Tradisi turun temurun masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam itu sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh penyebar agama Islam Sultan Trenggono Kusumo sekaligus bertujuan untuk melestarikan adat budaya setempat. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ed/mes/15Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Ilustrasi. Sejumlah warga berpakaian adat Jawa memikul gunungan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh penyebar agama Islam Sultan Trenggono sekaligus bertujuan untuk melestarikan adat budaya setempat.

Seperti istilah roda kehidupan yang terus berputar, masa sugih kerajaan Demak ini tidak selalu berada di atas.

Sejumlah konflik yang memperebutkan wilayah kekuasaan justru terjadi sepeninggal Sultan Trenggono.

Kedudukan Trenggono saat itu diganti Pangeran Sedo Lepen. Tapi sayangnya, Sedo harus tewas ditangan Pangeran Prawoto karena masalah kekuasaan tadi.

Kerajaan Demak pun semakin melemah karena masalah internal antar keluarga kerajaan berlangsung cukup lama.

Hingga satu waktu, putra Sedo Lepen yaitu Arya Penangsang melakukan membalas dendam, dengan membunuh Pangeran Prawoto demi mengambil alih kembali kekuasaan sebelumnya.

Takhta Arya Penangsang sebagai penguasa terakhir Demak tidak berjalan lama, karena dirinya juga ikut dibunuh oleh Putra angkat Joko Tingkir pada 1568 Masehi dan pasukan pemberontak kiriman Hadi wijaya penguasa Pajang.

Sejak saat itu, kekuasaan dari kerajaan Demak pun berakhir, lalu mulai dipindah ke Pajang.

Peninggalan Kerajaan Demak

Walau telah runtuh, petilasan dari kerajaan Demak ini banyak tersebar khususnya di wilayah Jawa Tengah. Beberapa di antaranya yaitu:

1. Masjid Agung Demak

Umat muslim mengikuti pengajian Ramadan di serambi Masjid Agung Demak, Bintoro, Demak, Jawa Tengah, Minggu (20/5). Masjid yang didirikan Raja Demak Raden Patah bersama Sembilan Wali (Wali Songo) yang sekaligus berperan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 tersebut menjadi sentra kegiatan peribadatan serta keagamaan warga setempat maupun luar kota terutama pada bulan suci Ramadan. ANTARA FOTO/Aji Styawan/kye/18.Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Peninggalan Kerajaan Demak: Serambi Masjid Agung Demak, Bintoro, Demak, Jawa Tengah yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan keagamaan.

Masjid Agung Demak menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1479 Masehi dan berada di daerah Kauman, Demak, Jawa Tengah. 

Masjid ini didirikan oleh Raden Patah bersama Wali Songo. Situs ini sebelumnya pernah digunakan sebagai pusat belajar dan tempat para ulama (wali) dalam syiar agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15.

Selain menjadi bagian dari warisan kerajaan Demak, Masjid Agung masih menjadi sentra kegiatan peribadatan serta keagamaan warga setempat maupun luar kota terutama pada bulan suci Ramadan.

Desain dari bangunan Masjid Agung Demak ini sangat kental akan ornamen budaya Jawa, bahkan interiornya menggunakan material kayu dilengkapi ukiran, sehingga terlihat artistik.

Di sekitar Masjid Agung Demak juga dilengkapi museum yang menyimpan sejarah masjid Demak. Selain itu ada pula makam Raden Patah, yang saat ini sering dikunjungi peziarah.

2. Makam Sunan Kalijaga


Peninggalan kerajaan Demak berikutnya adalah makam Sunan Kalijaga, yaitu salah satu dari sembilan Wali Songo yang pernah berdakwah dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa.

Keberadaan makam dan masjid tersebut menjadi bukti bahwa Sunan memiliki pengaruh besar untuk Demak.

Kedudukan Sunan Kalijaga sendiri sama seperti kepala daerah yang menguasai beberapa desa, dan mempunyai wewenang dalam mengaturnya.

Area pemakaman Sunan Kalijaga juga menjadi salah satu tempat yang sering didatangi peziarah untuk sekedar mendoakan beliau atau berselawat.

3. Pintu Bledek



Kemudian ada juga lawang bledek atau pintu petir yang dipahat oleh Ki Ageng Selo pada 1466 Masehi.

Konon sejarahnya, pintu bledeg ini dirancang Ki Ageng Selo dengan sambaran petir menggunakan kekuatan supranatural yang dimilikinya.

Pintu bledek pun diserahkan Ki Ageng kepada Raden Patah untuk digunakan sebagai pintu utama Masjid Agung Demak.

Akan tetapi, keberadaan pintu bledeg sekarang telah disimpan dalam museum Masjid Agung Demak karena usianya yang sudah rapuh.

4. Soko Guru

Soko tatal atau soko guru merupakan tiang penyangga Masjid Agung Demak, yang terbuat dari kayu berjumlah 4 buah.

Tiang masjid tersebut dibuat oleh Sunan Bonang, Jati, Ampel dan Kalijaga, karena kisahnya dulu, pembangunan Masjid Demak berlangsung dalam waktu singkat.

Keempat soko guru buatan para Sunan ini melambangkan persatuan dan diletakkan di bagian tengah masjid sebagai bentuk kekuatan.

Hingga kini, beberapa material Masjid Demak sudah banyak direnovasi karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun masih dapat dilihat di museum Masjid Agung Demak.

5. Dampar Kencana (Tempat Duduk Raja)

Selanjutnya ada dampar kencana yaitu singgasana para raja yang biasa digunakan untuk khotbah mimbar di Masjid Agung Demak.

Keberadaan mimbar ini pun sudah tidak dipergunakan seperti sebelumnya dan telah disimpan dalam museum masjid Demak supaya tetap terjaga.

6. Piring Campa

Lalu ada piring campa atau porselen sebanyak 61 buah, yang merupakan pemberian dari Ibu Raden Patah yaitu Siu Ban Ci.

Piring campa tersebut kini dipasang di bagian dinding dalam Masjid Agung Demak, sehingga bagi para pengunjung yang mendatangi masjid dapat melihat peninggalan tersebut.

7. Mihrab

Mihrab pengimaman juga salah satu warisan kerajaan Demak, yang di dalamnya terdapat gambar hewan bulus prasasti Condro Sengkolo.

Prasasti Condro Sengkolo memiliki arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti pada 1401 Saka atau 1479 Masehi, sebagai akulturasi budaya Islam dan Jawa.

8. Surya Majapahit



Ada pula surya Majapahit, sebuah gambar dekorasi berbentuk segi delapan yang dulunya terkenal di era Majapahit.

Menurut beberapa sejarawan, surya Majapahit ini ditemukan saat bangunan kerajaan tersebut runtuh dan disebut lambangnya Majapahit.

Keberadaan surya Majapahit sebagai peninggalan kerajaan Demak, terletak di Masjid Agung yang sebelumnya diperkirakan sudah diproduksi sejak 1401 - 1479 Masehi.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.