Kisah Mistis 3 Pustakawan Perpusnas Bung Karno Diundang ke Parangtritis


Ada kisah mistis yang dialami tiga pustakawan Perpusnas Bung Karno (BK). Mereka baru menyadarinya selang beberapa tahun kemudian dan belum menemukan jawaban sampai sekarang.

Ketiga pustakawan itu terdiri dari Budi Kestowo selaku Pustakawan Muda, Purwodarsono selaku Pustakawan Madya dan Hartono selaku Pustakawan Utama di Perpusnas BK di Blitar. Ketiganya mengingat, peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2009.

Kepala UPT Perpusnas BK saat itu Budi Santoso mendapat undangan untuk hadir di sebuah acara. Undangan itu ditujukan kepada Budi Kastowo di Istana Bung Karno di Blitar. Karena Budi Santoso tidak dapat hadir, maka menugaskan Purwodarsono dan Hartono untuk menemani Budi Kastowo.

"Waktu itu kami gak berpikir macam-macam ya. Kok undangannya ditujukan kepada saya di Istana Bung Karno di Blitar. Padahal sini ini kan Perpustakaan Bung Karno, bukan istana. Undangan itu dari siapa ya. Tapi bernuansa keraton begitu," kata Budi Kastowo mengawali cerita.

Hari itu juga mereka bertiga berangkat naik mobil Panther merah. Mereka berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 16.00 WIB. Lokasi undangan menunjukkan wilayah Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul. Sebelum menuju Parangtritis, rombongan makan malam di sekitar Malioboro sekitar pukul 21.00 WIB.

"Selesai makan kami langsung menuju Parangtritis. Kebetulan kan saya yang nyopir, di sisi kiri saya Pak Hartono. Begitu masuk Parangtritis itu ada tanda anak panah penunjuk arah menuju lokasi acara," tutur Budi.

Selama di perjalanan, Budi dan rekannya merasakan suasana gelap gulita. Hanya lampu mobil mereka yang menerangi jalan sempit dan berkelak kelok melewati tebing-tebing karang. Jalanan yang mereka lewati selain sempit juga naik turun sangat curam. Namun perjalanan sampai tujuan tanpa kendala.

"Kami tiba di sebuah lokasi di bibir pantai. Ada tenda besar lengkap dengan gamelan, sound system menggelegar, banyak makanan. Bahkan yang menyambut kami ini layaknya putri-putri kerajaan. Kami langsung diarahkan duduk di kursi depan sebagai tamu dari Istana Bung Karno di Blitar," cerita Hartono meneruskan.

Hartono dan Purwodarsono menyaksikan tamu yang diundang sangat banyak. Mereka berpakaian kerajaan dan pakaian resmi masing-masing negara. Karena mereka memang melihat ada orang bule dan orang Asia Tenggara ikut hadir. Hanya mereka bertiga saja yang mengenakan baju batik seragam kerja.




"Pas semua duduk itu, ada yang berorasi di atas panggung. Sangat mirip Bung Karno. Baik perform, gestur, intonasi suara. Tapi isi orasinya seingat saya tidak sepaham dengan ajaran Bung Karno. Tapi semuanya penampilannya seperti Bung Karno," imbuh Hartono.

Usai orasi, pembawa acara meminta masing-masing undangan naik ke panggung untuk foto bersama. Ketika rombongan tamu dari Istana Bung Karno Blitar dipanggil, mereka menyebutnya dengan Yang Mulia Ndoro Budi Kastowo.

"Kami sama sekali tidak makan atau minum hidangan yang disediakan. Begitu sesi foto selesai, kami pamit pulang. Tidak tahu jam berapa itu, yang jelas malam," kata Purwodarsono menimpali kedua rekannya.

Selang beberapa tahun kemudian, tiba-tiba di antara mereka bertiga mengingatnya. Sebagai pustakawan yang selalu bergelut dengan beragam literasi ilmiah, mereka pun kemudian mencari lokasi di sekitar Pantai Parangtritis yang memungkinkan sebagai lokasi digelarnya perhelatan besar itu.

"Sampai saat ini kami belum menemukan. Apakah ini kejadian mistis, tapi nyata kami bertiga mengalaminya. Kami masih mengingatnya dan masih bingung sampai sekarang. Yo untung sik iso moleh," ujar Purwo sambil tertawa.

Ketiganya meyakini, lokasi yang pernah mereka datangi memang tidak lazim digelar perhelatan besar. Karena lokasinya di bibir pantai yang curam, bahkan semacam goa. Ketika ditelusuri lokasi supranatural di sekitar Pantai Parangtritis, mereka menemukan nama Goa Langse.

Goa Langse adalah goa yang sering dipilih oleh orang-orang untuk melakukan sesuatu hal yang sakral. Goa ini sangat erat dengan cerita sejarah yang menyebutkan bahwa beberapa kali Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX pernah berkunjung ke sana.

Goa Langse berada di tebing perbukitan kapur yang terletak sekitar 5 kilometer dari Kawasan Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul. Untuk menjangkaunya memang membutuhkan energi yang cukup ekstra karena medan yang harus ditempuh cukup sulit serta cukup terjal.

"Ini yang bikin kami bingung. Karena kami bisa naik mobil sampai di lokasi. Tapi apakah memang gua ini yang kami datangi, kami juga tidak tahu. Tidak ada dokumen yang bisa membuktikan sama sekali. Namun ini kisah nyata yang kami bertiga alami," pungkasnya


Sumber :Detiknews

No comments

Powered by Blogger.