Klakson dan Alat Masak, 'Senjata' Rakyat Myanmar Lawan Kudeta

Penduduk Myanmar memukul peralatan masak sebagai bentuk protes atas kudeta. (REUTERS/STRINGER)

Keriuhan akibat bunyi klakson dan pukulan panci terus menggema di sejumlah kota besar di Myanmar seperti Yangon dan Ibu Kota Naypyidaw selama tiga hari terakhir, sebagai bentuk protes warga terhadap kudeta yang berlangsung pada Senin (1/2) lalu.

Sejumlah penduduk mengemudikan kendaraan di kota sambil membunyikan klakson secara terus menerus sebagai bentuk protes mereka terhadap kudeta. Sementara itu, sebagian masyarakat lainnya berdiri di balkon apartemen dan rumah masing-masing dengan memukul perkakas dapur seperti panci.

Gerakan protes tersebut berlangsung setelah kampanye yang dikenal Gerakan Pembangkangan Sipil menyebar di Facebook, platform media sosial utama Myanmar, tak lama setelah kudeta berlangsung.

Mereka mengajak seluruh warga Myanmar untuk membunyikan klakson dan memukul barang apa pun, terutama perkakas dapur, sebagai bentuk aksi damai menolak pemerintahan junta militer.

Beberapa netizen Myanmar mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan para penghuni sebuah kompleks apartemen kompak memukul peralatan memasak seperti panci dari masing-masing balkon mereka pada Selasa (2/2) malam. Beberapa dari mereka juga turut memasang slogan anti-kudeta pada masing-masing balkon dan pagar rumah.

Bunyi klakson yang saling bersahutan dan memekakkan telinga dilakukan sebagai tanda menolak kudeta.

Gema klakson dan tabuhan panci pun masih terdengar hingga Kamis (4/2).

"Untuk menunjukkan dukungan bagi demokrasi Myanmar, dari rumah kita, buatlah suara sekeras mungkin dengan menyalakan apa pun yang dapat Anda temukan (panci dan wajan) dan berteriak sepenuh hati," tulis seorang warga Myanmar di laman Facebook

Dikutip Reuters, beberapa netizen lainnya mengunggah video berisi nyanyian lagi kebangsaan hingga ekspresi menangis terharu mendengar klakson dan suara panci dari kejauhan.

Protes kudeta juga ramai dilakukan di media sosial meski layanan internet dan telepon di beberapa kota besar diblokir menyusul kudeta berlangsung.

Banyak dari warga Myanmar pengguna Facebook, platform media sosial utama di negara itu, mengubah foto profil mereka menjadi gambar pemimpin de facto Aung San Suu Kyi yang kini masih ditahan militer.

Setelah Facebook diblokir junta militer, warga Myanmar ramai-ramai bermigrasi ke Twitter dengan menggunakan layanan VPN. Tagar #HearTheVoiceofMyanmar dan #RespectOurVotes bahkan sempat menjadi trending topic di negara Asia Tenggara itu dengan lebih dari tujuh juta unggahan.

Protes anti-Kudeta juga meluas setelah setidaknya 70 tenaga rumah sakit di 30 kota Myanmar mogok bekerja.

Sejauh ini, aparat keamanan Myanmar dikabarkan telah menahan sejumlah pedemo anti-kudeta di beberapa wilayah.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.