Masjid Agung Djenne, Bangunan Megah Berbahan Lumpur Terbesar di Dunia

Masjid Agung Djenne di Mali (Foto: Instagram/@bradtguides)

MASJID merupakan monumen keagamaan paling dihormati di seluruh belahan dunia Islam, tak terkecuali daratan Afrika. Selain sebagai tempat menunaikan salat, masjid juga kerap digunakan untuk kegiatan kemaslahatan umat seperti pusat dakwah dan pendidikan Islam.

Salah satu kota kecil di Mali, Afrika Barat memiliki bangunan masjid yang sangat unik dan berbeda dengan bangunan masjid kebanyakan. Masjid itu bernama Masjid Agung Djenne.

Masjid Agung Djenne hampir seluruhnya terbuat dari lumpur kering yang dilapisi dengan tanah liat. Masjid di kota kuno Djenne itu dibangun pada abad ke-13 dan menjadi situs warisan dunia UNESCO pada 1988.

Mengutip laman New York Times, sebagian masyarakat Barat menolak Masjid Djenne masuk dalam situs warisan dunia. Seorang penjelajah Prancis pada 1828 melaporkan, masjid tersebut aslinya dibangun pada sekitar abad ke-13 atau ke-14 yang berasal dati sebuah reruntuhan dan kemudian dihancurkan.

Djenné dan Timbuktu telah lama menjadi titik sentral penyebaran Islam di benua Afrika. Awalnya, Islam hanya menguasai kota itu pada abad ke-13.

Masjid Agung Djenne

(Foto: Instagram/@wanderreds)

Namun setelahnya ketika seorang penguasa lokal pindah agama, Islam disebarkan lewat jalur jalur perdagangan dari pantai Mediterania dan Timur Tengah selama berabad-abad.

Masjid Raya Djenne dibangun pertama kali pada 1240 Masehi oleh penguasa Djenne yaitu Sultan Koii Kunboro. Masjid tersebut awalnya adalah sebuah istana. Setelah ia memeluk Islam, istana tersebut dialihfungsikan menjadi masjid.

Pada masa Syekh Amadou, masjid yang terbuat dari tanah liat ini mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada 1830 Masehi karena bangunan pertama sudah lapuk dan runtuh. Sedangkan, bangunan ketiga dilakukan para saudagar setempat pada 1907.

Mengangkat gaya arsitektur ala Sudan Sahili, bangunan ini merefleksikan kearifan lokal masyarakat Afrika Barat. Masjid Agung Djenne bisa dikatakan merupakan karya spektakuler sekaligus bukti kehebatan arsitek muslim. Adalah Ismaila Traore yang mampu secara ciamik 'menyulap' lumpur-lumpur tersebut menjadi bangunan bernilai seni tinggi.

Traore menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti batang dan cabang pohon yang diaduk bersamaan bata lumpur kering dan juga tanah liat.

Untuk menjaga agar bangunan masjid tetap berdiri kokoh, setiap tahunnya warga Djenne menggelar festival untuk mengganti lumpur yang menyelimuti masjid agung tersebut. Prosesi itu disebut Crepissage de la Grand Mosquée.

Festival itu diadakan karena cuaca yang sangat kontras di Mali. Terkadang kering dan panas yang berkepanjangan dan terkadang diguyur dengan curah hujan yang lebat sehingga membuat keretakan dan kebocoran di sejumlah titik masjid.

Meski dibangun dengan bahan yang sangat sederhana, Masjid Agung Djenne yang memiliki tinggi 20 meter dan panjang 91 meter ini memiliki desain tak kalah unik, yaitu gabungan dari hewan landak hingga organ gereja.

Di balik sejarah Masjid Raya Djenne yang menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Afrika, masjid megah itu kini menjadi incaran para wisatawan karena sarat nilai sejarah dan gaya arsitektur bangunannya yang mengagumkan.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.