Mitos Tentang Obesitas yang Tak Perlu Dipercaya


Obesitas memang merupakan hal yang cukup umum terjadi. Namun, ada cukup banyak kesalahpahaman atau mitos yang terkait dengannya. Alhasil, mitos ini sering kali memicu stigma sosial. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mereka memperkirakan ada sekitar 650 juta orang dewasa mengalami obesitas. Namun, kini orang-orang semakin sadar akan masalah kesehatan yang terkait dengan obesitas. Sayangnya, terlepas dari kampanye kesehatan, mitos tetap saja beredar. Beberapa di antaranya bahkan mendorong stigma yang dapat memengaruhi kesehatan mental pengidap obesitas.

Oleh karena itu, penting untuk mengatasi mitos seputar obesitas. Berikut adalah beberapa mitos tentang obesitas yang tak perlu kamu percayai lagi: 
Dalam banyak kasus, mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibutuhkan tubuh dalam waktu lama adalah penyebab langsung obesitas. Memang, sebagian besar tindakan untuk mengurangi obesitas bertujuan untuk menurunkan asupan kalori, meningkatkan aktivitas fisik, atau keduanya.

Meskipun diet dan olahraga merupakan faktor penting, beberapa faktor yang tidak terkait juga dapat berperan penting dalam obesitas. Faktor-faktor ini, yang sering dilupakan orang, termasuk kurang tidur, stres psikologis, nyeri kronis, gangguan endokrin (hormon), dan penggunaan obat-obatan tertentu. Jadi, makan berlebihan, misalnya, mungkin merupakan gejala, bukan penyebab.

Salah satu faktor yang sangat mungkin meningkatkan obesitas adalah stres, yang merupakan hasil dari stigma sosial yang buruk. Selain itu, stres dapat memengaruhi kualitas tidur, dan ini, pada gilirannya, dapat menyebabkan kurang tidur, yang merupakan faktor lain penyebab terjadinya obesitas. Stres, kurang tidur, dan nyeri hanyalah tiga faktor yang saling terkait yang dapat mendorong obesitas. Kasus setiap orang akan berbeda. Namun, jika kamu menyarankan seseorang yang mengidap obesitas untuk bergerak lebih banyak dan makan lebih sedikit, mungkin bukan hal yang paling tepat. 

Mitos: Obesitas Menyebabkan Diabetes
Obesitas tidak secara langsung menyebabkan diabetes. Memang ini adalah faktor risiko diabetes tipe 2, tetapi tidak semua orang dengan obesitas akan mengembangkan diabetes tipe 2, dan tidak semua orang dengan diabetes tipe 2 mengalami obesitas. Obesitas juga merupakan faktor risiko diabetes gestasional, yang terjadi selama kehamilan, tetapi bukan merupakan faktor risiko diabetes tipe 1.

Mitos: Orang dengan Obesitas Cenderung Malas
Gaya hidup yang tidak aktif adalah salah satu faktor penyebab obesitas, dan menjadi lebih aktif dapat membantu penurunan berat badan, tetapi obesitas lebih dari sekadar tidak aktif.

Seperti misalnya mengutip Medical News Today, satu studi pada 2011 menggunakan akselerometer untuk mengukur tingkat aktivitas 2.832 orang dewasa, berusia 20-79 tahun, selama 4 hari. Jumlah langkah mereka berkurang seiring bertambahnya berat badan mereka, tetapi perbedaannya tidak signifikan seperti yang diperkirakan, terutama untuk wanita. Daftar berikut menunjukkan berat badan wanita dan berapa banyak langkah yang mereka lakukan setiap hari selama penelitian ini:

Mereka dengan berat badan "sehat": 8.819 langkah.
Mereka yang kelebihan berat badan: 8.506 langkah.
Pengidap obesitas: 7.546 langkah.

Ini tidak berarti bahwa aktivitas fisik tidak penting untuk kesehatan yang baik, tetapi ceritanya lebih kompleks. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah tidak semua orang mampu melakukan aktivitas fisik. Misalnya, beberapa orang dengan cacat fisik dapat membuat gerakan menjadi lebih sulit atau tidak bisa dilakukan. Selain itu, masalah kesehatan mental tertentu dapat sangat memengaruhi motivasi, dan tampaknya ada hubungan antara keduanya.


Mitos: Obesitas Bersifat Genetik
Hubungan antara obesitas dan genetik memang rumit, tetapi seseorang yang kerabatnya mengalami obesitas belum tentu akan mengembangkan kondisi yang sama. Namun, peluang mereka untuk menjadi obesitas lebih tinggi. Umumnya, orang yang berbagi gen yang sama sering hidup bersama. Oleh karena itu, mereka mungkin memiliki pola makan dan kebiasaan gaya hidup yang serupa.

Mitos: Obesitas Tidak Memengaruhi Kesehatan
Jelas, ini hanya mitos karena ada beberapa kondisi yang berhubungan dengan obesitas. Misalnya, obesitas meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, osteoartritis, sleep apnea, dan beberapa kondisi kesehatan mental.

Meskipun demikian, penurunan berat badan yang sederhana pun dapat memberikan manfaat kesehatan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, penurunan berat badan 5 hingga 10 persen dari total berat badan cenderung menghasilkan manfaat kesehatan, seperti perbaikan tekanan darah, kolesterol darah, dan gula darah.

Obesitas memang lazim terjadi, akan tetapi kamu perlu memahami bahwa akan ada efek samping yang terjadi akibatnya. Oleh karena itu, jika kamu memiliki indeks massa tubuh yang masuk golongan obesitas, alangkah lebih baik untuk mulai memikirkan cara yang sehat dan paling sesuai untukmu untuk menurunkan berat badan. 

Sumber : Halodoc

No comments

Powered by Blogger.