Pocong Berwajah Hancur Jadi Teman Tidurku


Malam itu, perbincanganku dengan Melinda di telepon sangat seru. Kami berbagi cerita hingga tak mengenal waktu.  Sambil membalikkan badan dan memeluk guling, aku memerhatikan jam dinding yang tergantung di tengah kamarku.

Saat itu sudah menunjukan pukul satu malam, tak terasa perbincangan kami sudah berjalan lima jam lamanya.  Sampai akhirnya, aku harus mengakhiri obrolan seru kami, mengingat aku memiliki jadwal kelas pagi kuliah. 

"Mel udahan dulu ya, besok aku ada kelas pagi nih, bisa kelar hidup kalau sampai telat masuk kelas Pak Dudi." kataku sambil membayangkan wajah galak dosen sosiologiku. Setelah mengucap 'dadah' aku makin menempelkan wajah dengan guling yang aku peluk.

Walau sudah menunjukan waktu larut malam, aku belum merasa mengantuk.Berkali-kali mencari posisi enak untuk tidur. Namun, usahaku berkali-kali tetap gagal. 

Akhirnya, Aku membuka ponsel dan bermain games sejenak berharap mata akan terasa lelah. Aku bersembuyi di dalam selimut dan memeluk guling empukku erat-erat. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa mengantuk.

Mataku mulai terpejam, hingga membuka kilas-kilas mimpi di alam bawah sadarku. "Eh, duh, bau apaan nih?" Aku berkali-kali mengendus, berusaha mencari dan mengenali bau apa yang sangat terasa dekat dengan hidungku tersebut. 

Mendadak aku merasa ada bau yang dominan memasuki kamarku secara tiba-tiba, tentu aroma tak sedap ini sangat menggangguku. Dengan sangat malas, aku membuka mataku dan mulai mencari dari mana asal bau menyengat tersebut. 

Namun, karena tidak menemukan apapun, aku berusaha menutup hidungku dengan guling, dengan harapan bau tersebut tidak lagi menggangguku saat tidur. Percuma, gulingku yang wangi rupanya kalah oleh bau yang menyengat, tapi tak pernah aku tahu dari mana asalnya.  Aku mengendus kesal, ingin tidur pun sangat susah. 

"Duh bau banget sih, ini bau apaan sih?" Saking kesalnya, aku keluar dari selimut dan melempar gulingku hingga ke ujung kasur.  "Aaaaaaaaaaaahhhhh!" Aku sangat terkejut.

Guling yang aku lempar berubah menjadi pocong yang berlumuran darah. Wajahnya yang cenderung hancur dan berwarna hitam, ternyata menjadi sumber bau busuk yang aku rasakan dari tadi. Rupanya guling yang aku peluk adalah sumber masalah yang aku cari

Terkejut dengan hal tersebut, aku tak bisa lagi berteriak. Aku hanya berusaha keluar dari kamar untuk tidak melihat pocong itu lagi


Sumber :GenPi.co

No comments

Powered by Blogger.