Sertifikasi CHSE Masih Belum Mampu Dongkrak Daya Saing Tempat Wisata

Sertifikasi CHSE (cleanliness, health, safety, and environmental sustainability) yang diluncurkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ternyata masih belum bisa mendongkrak daya tarik tempat wisata. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo.

Dalam diskusi bertajuk "Program CHSE dan Gerakan Pakai Masker," ia mengaku jadi salah satu yang pertama kali mendaftarkan diri dalam program tersebut. Ia menyadari CHSE sangat penting bagi internal Saung Angklung Udjo dan pihak eksternal yang bersinggungan dengan mereka.

Namun, kesadaran tersebut belum merata. Ia menyebut masih banyak restoran dan hotel yang mengabaikan hal ini sehingga sertifikasi CHSE yang digaungkan pemerintah dirasa kurang efektif.

"Tapi yang terjadi, di kiri-kanan, restoran, hotel yang belum sertifikasi CHSE, masyarakat masuk-masuk saja. Mereka sepertinya tidak lihat itu. Jadi, hampir kurang efektif," kata Taufik.

Hal senada diungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro. Ia berpendapat masih banyak orang yang tak mengetahui soal sertifikasi CHSE. Akibatnya, mereka tak pernah memasukkan elemen tersebut dalam pengambilan keputusan saat mendatangi suatu restoran, hotel, atau tempat wisata lain.

"Ini suatu hal yang baru (sertifikasi CHSE), seharusnya mulai dikasih pemahaman tentang pentingnya sertifikasi CHSE. Harus ditanamkan bahwa ini penting," ujarnya.

Reisa mengingatkan, baik protokol kesehatan 3M maupun penerapan sertifikasi CHSE, merupakan solusi yang tersedia agar masyarakat bisa kembali beraktivitas di tengah pandemi Covid-19. Kedisiplinan dalam pelaksanaannya menjadi kunci untuk mempertahankan ekonomi tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

"Kesannya simpel, sepele, tapi harus diterapkan. Solusinya sudah ada, tapi praktiknya lebih penting. Harus jadi kebiasaan baru sehari-hari," katanya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menekankan bahwa sertifikasi CHSE sangat penting bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memulihkan kepercayaan wisatawan, sekaligus menggeliatkan kembali pariwisata. Selain itu, sertifikasi menjamin bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi standar dan protokol kesehatan.

"Pada tahun 2021, kita targetkan sebanyak 6,5 ribu pelaku usaha yang tersertifikasi CHSE. Namun, angka ini harus kita tingkatkan lagi dengan cara merangkul dunia usaha untuk ikut berpartisipasi. Sehingga jumlahnya dapat meningkat. Karena ada 34 juta lapangan kerja yang harus kita selamatkan," kata Sandi.

Ia juga menuturkan, mengutip pernyataan Presiden Jokowi, saat ini tingkat kepatuhan masyarakat sudah di bawah 40 persen. "Berarti hal ini perlu ada langkah strategis yang out of the boxIt’s not about go or not go atau do or not do pariwisata dan ekonomi kreatif, tapi it’s about howHow-nya ini adalah protokol kesehatan yang ketat dan disiplin," sambungnya.

Sandi kembali mengingatkan bahwa sektor parekraf tidak akan bisa pulih tanpa memulihkan kondisi kesehatan. Tanggung jawab itu bukan hanya berada di pemerintah dan para pengusaha, tetapi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.