Wall Street Kembali Cetak Rekor Setelah Klaim Pengangguran AS Turun

Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau menguat 0,05 persen pada awal perdagangan ke level 31.452,29, bahkan sempat mencetak rekor tertinggi di level 31.543,82.

Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menghentikan kembali ke zona hijau sekaligus menembus rekor tertingginya hari ini, Kamis (11/2/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,05 persen pada awal perdagangan ke rekor tertingginya di level 31.452,29.

Dow Jones sempat menyentuh rekor tertingginya di level 31.543,82 sebelum melandai tipis. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,18 persen dan Nasdaq Composite naik 0,34 persen.

Wall Street kembali ke rekor tertinggi setelah AS mencatatkan penurunan klaim pengangguran. Hal ini mengisyaratkan adanya penguatan pasar tenaga kerja.


Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, pengajuan tunjangan pengangguran negara bagian AS turun tipis 19.000 menjadi 793.000 pekan, yang menandakan bahwa pasar tenaga kerja masih secara bertahap membaik karena program vaksinasi terus berlanjut dan pembatasan bisnis berkurang.

Setelah pasar saham melonjak tajam pada awal Februari, reli Wall Street sempat berhenti pada Rabu karena investor mempertimbangkan implikasi dari data inflasi terbaru.

Sementara itu, masih ada perdebatan mengenai apakah stimulus lanjutan, peluncuran vaksin, dan tekad pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan akan menyebabkan laju inflasi menjadi terlalu panas.

"Meskipun inflasi tidak muncul dalam data saat ini, inflasi tengah dalam tren naik berkat stimulus fiskal dan moneter serta permintaan konsumen yang seharusnya meningkat saat ekonomi dibuka kembali," ungkap pendiri Quadratic Capital Management Nancy Davis seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dalam pidatonya pada Rabu (10/2/2021) mengatakan pasar kerja AS masih jauh dari pemulihan penuh dan meminta anggota parlemen dan sektor swasta untuk mendukung tenaga kerja.

Dia juga mengatakan akan membutuhkan lebih dari kebijakan moneter yang mendukung untuk mencapai dan mempertahankan tingkat lapangan kerja yang maksimal.

Sumber : Bisnis.com

No comments

Powered by Blogger.