Yogyakarta Bentuk Seribu Posko Covid-19, Pengawasan Tempat Wisata Lebih Intensif

Ketua Harian Satgas Covid-19 yang juga Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan saat ini sudah ada sebanyak 1.026 posko mandiri Covid-19 yang terbentuk di tingkat wilayah untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

“Jumlah posko ini akan terus bertambah karena belum semua dari 14 kecamatan melaporkan jumlah posko yang dibangun di wilayahnya,” kata Heroe.

Heroe mengatakan posko ini berada di tingkat RT, RW hingga kampung. Posko Covid-19 berbasis wilayah itu diadakan agar dalam pelaksanaan pelacakan, pemeriksaan dan penanganan (tracing-testing-treatment) lebih optimal dan efektif. "Utamanya fungsi posko itu untuk pengawasan mobilitas warga di satu wilayah saat PPKM Mikro namun juga untuk memfasilitasi jika ada warga terpapar Covid-19,” ujarnya.

Menurut Heroe, posko Covid-19 di tingkat kelurahan khusus difungsikan melakukan supervisi dan mendistribusikan bantuan makanan serta obat dan vitamin, termasuk melakukan pemeriksaan acak di destinasi wisata dan tempat umum. "Jadi lewat posko tingkat kelurahan itu patroli penegakan protokol kesehatan di tempat umum seperti kawasan Tugu, Malioboro, Titik Nol Kilometer, hingga Alun-Alun utara dan selatan Keraton Yogyakarta bisa lebih intens,” ujarnya.

Selain membatasi mobilitas warga di wilayah, PPKM mikro mencakup pembatasan jam operasional tempat usaha hingga pukul 21.00 WIB.

Tak hanya rampung membentuk seribu posko mandiri, Pemerintah Kota Yogya melalui Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti juga telah mengukuhkan satuan tugas (satgas) penanganan Covid-19 dari kalangan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Yogyakarta.

Haryadi menilai adanya Satgas Covid-19 dari pelaku usaha perhotelan dan restoran di Yogya ini menjadi bagian penting memulihkan pariwisata di Kota Yogyakarta, terutama dalam merespon cepat pengecekan disiplin protokol kesehatan bagi wisatawan yang datang. “Sehingga kita dapat memberikan rasa aman serta nyaman kepada para wisatawan," kata dia.



Menurut Haryadi, sektor pariwisata menjadi sektor utama yang menggerakkan berbagai sektor perekonomian Kota Yogyakarta. Sebab, selama ini menunjang pendapatan asli daerah, membuka lapangan kerja dan penyerapan angkatan kerja sekaligus daya tarik wilayah baik di mata nasional maupun internasional.

"Sektor pariwisata di Yogyakarta memiliki banyak turunan kegiatan ekonomi lain, baik yang levelnya mikro, kecil, maupun menengah. Pariwisata merupakan simpul besar dalam perekonomian Kota Yogyakarta," kata Hariyadi.

Di masa PPKM Mikro ini, sejumlah destinasi di Kota Yogyakarta beroperasi dengan berbagai perubahan cara. Misalnya Taman Pintar Yogyakarta memiliki program Taman Pintar Sciensation Tour yang menyuguhkan sensasi belajar sains secara virtual menggunakan aplikasi Zoom.

Banyaknya permintaan dari sekolah menjadi salah satu faktor Taman Pintar terus berinovasi agar masyarakat dapat menikmati pembelajaran secara daring.

Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Kota Yogyakarta Retno Yuliani berharap dari program itu anak-anak yang belum bisa masuk sekolah dan mengunjungi Taman Pintar mendapatkan penyegaran dan wawasan baru. “Ini bisa menjadi refreshing  bagi anak-anak atau menggantikan studi tour yang memang menjadi agenda rutin mereka, dari sekolah-sekolah di luar Kota Yogyakarta banyak ikut program ini hingga mencapai 800 peserta,” kata dia.

Dalam Taman Pintar Sciensation Tour  ini, peserta dapat berdiskusi secara langsung dengan pemandu wisata Taman Pintar. Peserta juga dapat memilih zona atau wahana apa saja yang ingin dikunjungi disesuaikan dengan waktu yang disepakati.

Jika ingin menikmati layanan tur virtual Taman Pintar Yogyakarta ini, masyarakat bisa melihat setiap hari Selasa hingga Jumat dengan kuota minimal 50 peserta dalam satu kali tur. “Rata-rata pengguna layanan adalah sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun, kebanyakan peserta dari Aceh, Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah,” kata Retno.


Sumber :Tempo.co

No comments

Powered by Blogger.